Rifandi Adi Yudha Tama
LSPR Communication & Business Institute

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KOMUNIKASI BANK SYARIAH INDONESIA DALAM MENDORONG KARYAWAN UNTUK MENGIKUTI PROGRAM VAKSINASI Nanang Wahyudi; Dewi Sahda; Rifandi Adi Yudha Tama
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 5, No 1 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v5i1.3845

Abstract

Abstrak. Penyebaran virus Covid-19 telah membuat pembatasan kegiatan yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun secara perhalan, virus mulai mereda seiring dengan kebijakan vaksinasi yang sudah diberlakukan. Vaksinasi telah menjadi syarat bagi perusahaan untuk beroperasi. Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan perusahaan perbankan yang menerapkan vaksinasi bagi karyawannya. Maka penelitian ini adalah kajian untuk membahas tentang upaya komunikasi yang dilakukan untuk mendorong karyawan BSI melakukan vaksinasi. Penelitian ini menggunakan metode mixed-method dengan desain sequential exploratory yaitu penelitian kualitatif terlebih dahulu dan diikuti dengan penelitian kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam berformat open-ended question. Sementara pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuisioner yang dirancang dengan theory of planned behavior untuk mengukur minat karyawan dalam mengikuti vaksinasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa BSI melakukan berbagai upaya komunikasi seperti melalui email, grup WhatsApp, hingga melakukan pendataan bagi karyawan yang sudah dan belum divaksin. BSI juga memantau aktivitas karyawan dengan pendataan aktivitas karyawan secara konsisten untuk mencegah penularan covid-19. Keberhasilan komunikasi BSI juga tidak lepas dari faktor-faktor eksternal seperti harus divaksinasi untuk pergi ke tempat umum, himbauan pemerintah dan saran para ulama untuk divaksinasi, serta aturan dari perusahaan BSI sendiri. Hal ini juga dibenarkan dalam analisis kuantitatif di mana faktor subjective norms merupakan faktor yang paling berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap minat melakukan vaksinasi. Faktor attitude dan perceived behavioral control juga berpengaruh positif dan signifikan, meskipun tidak sebesar faktor subjective norms. Maka, di samping kesadaran karyawan akan manfaat vaksinasi, keberhasilan komunikasi BSI untuk menumbuhkan minat vaksinasi tidak lepas dari tekanan sosial yang mengharuskan karyawan bersedia untuk divaksin.