Pandemi Covid-19 saat ini telah menjadi fokus permasalahan utama bagi seluruh negara di dunia dan belum dapat diprediksi kapan pandemi covid-19 akan berakhir. Berbagaipermasalahan muncul akibat dampak dari pandemi covid-19. Jumlah orang yang terpapar covid-19 di Indonesia setiap harinya terus mengalami penambahan. Pemerintah terusberupaya menekan jumlah penyebaran virus corona dengan menerapakan berbagai kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar), selalu menggunakan masker, jaga jarak, bekerja,belajar, beribadah maupun aktivitas lainnya yang dilakukan dari rumah. Berbagai sektor kehidupan mengalami dampaknya, diantaranya bidang perekonomian, jasa, transportasi,pariwisata, pendidikan maupun bidang lainnya. Dalam hal ini bidang pendidikan mengalami dampak yang dukup serius siswa diharuskan belajar dari rumah menggunakan metodedaring, hal tersebut cukup menambah permasalahan baru karena tidak semua wilayah di Indonesia teraliri listrik dan jaringan internet dengan baik, sehingga pembelajaran menjaditertunda, atau hanya dilakukan dengan fasilitas seadanya. Sebanyak 68.729.037 siswa di Indonesia belajar dari rumah akibat dampak covid-19, sebanyak 4.183.591 Gurumelaksanakan kegiatan belajar dari rumah, dan sebanyak 534.639 satuan pendidikan terdampak akibat covid-19 (Data Dapodik Kemendikbud, April 2020). Sejalan dengan kebijakan tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga mencangangkan gerakan “Merdeka Belajar” yang merupakan kebebasan berpikir, dan kebebasan berinovasi.Berangkat dari permasalah tersebut, bangsa Indonesia memiliki tokoh pelopor pendidikanyakni Ki Hadjar Dewantara yang memiliki pandangan tentang Pendidikan yakni TripusatPendidikan dan Sistem Among. Merdeka Belajar yang dicanangkan saat ini diharapkanmemiliki relevansi dengan konsep merdeka belajar Ki Hadjar Dewantara, sehingga adanyawabah pandemic covid-19 ini menjadi sebuah momentum untuk merefleksikan danmengevaluasi sistem Pendidikan yang telah berjalan di Indonesia.