Didi Wahyu Sudirman
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengembangan Sikap Positif Manajer Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1, Volume III, Februari 2003
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5048.409 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v3i1.3788

Abstract

Pengembangan sikap positif seorang manajer merupakan atribut yang meningkatkan semua keahlian menejerial dan tidak berdiri sendiri.  SIkap positif sangat berhubungan erat dengan keahlian-keahlian manajerial dan pengembangan profesionalisme seorang manajer. Pembentukan sikap manajer dapat berkembangan kearah sikap positif apabila memiliki keberanian menghadapi hambatan dan tantangan serata kemampuan menyelesaikannya dari berbagai uraian mengenai pengembangan skiap positif agar pembentukan perubahan dan peningkatan sikap positif selalu terarah menuju profil manajer yang berkualitas. Dari berbagai konsep uraian ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian seorang manajer agar mampu meningkatkan kualitas dirinya melalui pengembangan sikap positif meliputi: kemampuan membuka diri dan bersikap asertif, kemampuan untuk selalu memotivasi diri untuk bersikap positif, memiliki komitmen terhadap keajuan diri pribadi, karir dan organisasi tempat kerjanya, kemampuan mengendalikan diri. Bahwa dari berbagai proses pembelajaran sikap positif dan orientasi positif manajemen, memberikan banyak tambahan pemikiran bagaimana menjadi manajer yang bersikap positif. Dampaknya adalah meningkatnya kinerja pribadi dan organisasi.
Formulasi Aspek-Aspek Pelayanan Publik Berkualitas Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1, Volume V, Februari 2005
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5166.469 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v5i1.3819

Abstract

Pelayanan publik yang berkualitas masih menjadi kendala bagi pomerintah karena berbagai hambatan-hambatan baik dari segi sikap, porllaku dan mentalitas SDM dalam hal ini PNS sebagai aparatur pemerintah. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan melayani dan bukan untuk dilayani. Sekaligus berupaya mempertahankan dukungan, keepercayaan masyarakat dengan mereformasi wawasan berfikir dan mengevaluasi diri sejauh mana kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat terpenuhi. Upaya-upaya menuju meningkatkan kualitas pelayanan tersebut dengan memahami: unsur-unsur dan jenis pelayanan publik, kegiatan pelayanan, penyelenggaraan publik, azas, prinsip, standar pelayanan publik, kualitas dan dimensi pelayanan agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Dengan memahami formulasi aspek-aspek pelayanan publik diharapkan pegawai sebagai aparatur negara dapat meningkatkan produktivitas kerjannya dalam hal pelayanan publik dengan mengedepankan pelayanan publik yang berkualitas.
Pengambilan Keputusan sebagai Langkah Strategis Tugas Manajer Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2, Volume III, Agustus 2003
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3207.474 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v3i2.3794

Abstract

Manajer dimanapun harus membuat keputusan-keputusan. Membuat keputusan yang baik adalah sesuatu yang diusahakan untuk dilakukan oleh setiap manajer, sebab keseluruhan mutu keputusan manajerial sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi. Dalam hal ini diperlukan pemahaman terhadap konsep membuat keputusan dan bagaimana manajer membuat keputusan-keputusan berbasis informasi. Berkaitan dengan hal ini maka pengambilan keputusan yang dilakukan manajer selalu menyangkut bagaimana, menggariskan langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan bagaimana dan mengapa pengambilan keputusan tersebut dilakukan dalam kegiatan manajerial. Manajer masa kini dan masa depan, harus mampu berfikir dan mampu membuat keputusan-keputusan yagn cepat dan efektif. Setiap manajer harus mampu mengantisipasi dan menghindari masalah-masalah. manajer jjuga harus bersikap fleksibel untuk menghadapi lingkungan dan keadaan yang terus menerus berubah yang dapat ditempuh dalam rentang aktivitas manajer yang bersangkugan. Tantangan dari hakekat tugas manajer dalam pengambilan keputusan adalah mencegah rasa tertekan oleh keterbatasan waktu dan tidak membuat keputusan yang tidak efektif bahkan dengan kata lain pemborosan waktu dan uang.
Budaya Organisasi, Budaya Kerja, dan Pengaruhnya dalam Praktik Manajemen Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume V, Agustus 2005
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8376.779 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v5i2.3848

Abstract

Sebagai kepribadian suatu organisasi maka budaya organisasi memiliki sistem, pola-pola nilai, simbul-simbul dari praktik yang berkembang sepanjang usia organisasi yang bersangkutan. Budaya organisasi dibentuk oleh nilai-nilai individu dan nilai-nilai hakekat yang berkaitan satu sama lain dan berdampak positif timbulnya praktik-praktik budaya organisasi yang juga dipengaruhi oleh sikap, perilaku individu dan sikap perilaku kolektif. Berkembangnya budaya organisasi karena adanya pengaruh sikap kerja, perilaku kerja dan hasil kerja individu/karyawan dan pengaruh akumulatif membentuk suatu budaya kerja. Budaya kerja merupakan sikap hidup yang didasari oleh nilai pandangan hidup yang telah menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong yang membudaya dalam kehidupan suatu kelompok/masyarakat/organisasi yang tercermin dalam perilaku, kepercayaan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. Apabila budaya kerja ini dikembangkan dalam proses manajemen akan menumbuhkan sikap yang berorientasi pada tanggung jawab kelompok, kesediaan partisipasi/koordinasi, kesadaran kelompok, saling menghargai dan komitmen kerja. Akan tetapi dalam praktik, masih ada hambatan-hambatan dalam pengembangan budaya organisasi dan budaya kerja karena sikap dan perilaku negatif. Walaupun demikian dengan komitmen manajemen yang tinggi dan esensi kepemimpinan yang sadar akan perlunya pengembangan kelompok, maka hal tersebut bisa diatasi dengan kemampuan menemukan kesesuaian, keselarasan antara hubungan kebutuhan pribadi anggota organisasi dengan kepentingan organisasi.
Pengembangan Kapasitas Laboratorium Administrasi Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1 Volume VI, Februari 2006
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3165.206 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v6i1.3825

Abstract

Laboratorium Administrasi di lingkungan institusi merupakan salah satu jenis laboratorium yang secara spesifik merupakan elemen penunjang di bidang Pendidikan Administrasi. Sebagai suatu sistem Laboratorium Administrasi dengan kapasitasnya bertugas mengembangkan pelatihan, praktek bagi peserta didik sesuai bidang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Sebagai upaya pengembangan kapasitas maka Laboratorium Administrasi perlu melakukan berbagai regulasi melalui berbagai program yang mengarah kepada peningkatan kualitas serta memiliki relevansi yang nyata di bidang praktik-praktik maupun pelayanan dibidang Administrasi. Pengembangan lainnya, melalui usaha dan program income generating activity sekaligus mengembangkan uji praktik atau sertifikasi berbagai keterampilan dan kemampuan di bidang Administrasi. Di samping itu usaha meningkatkan kualitas program dan produktifitas melalui evaluasi diri menuju penjaminan mutu yang diharapkan.Dalam pengembangan berikutnya perlu dikaji ulang kegiatan proses belajar mengajar, pengabdian masyarakat, penelitian sesuai ranah kegiatan Laboratorium Administrasi, sekaligus menciptakan iklim kela yang kondusif, mengembangkan potensi serta membangun citra dan paradigma baru.Kata Kunci: laboratorium, kapasitas
Meningkatkan Kinerja dan Mengelola TIM secara Efektif Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2, Volume IV, Agustus 2004
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.946 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v4i2.3897

Abstract

Orang bergabung dengan kelompok karena kebutuhan mereka akan rasa aman, status, harga diri, afiliasi, kekuasaan dan atau prestasi. Dalam hal ini banyak organisasi menggunakan tim untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi dan memecahkan masalah. Tim kerja adalah kelompok formal yang terdiri dari individu­-individu terpisah dan bertanggung jawab atas tercapainya suatu sasaran. Dengan demikian semua tim kerja adalah kelornpok, tetapi hanya kelompok-kelompok formal yang menjadi tim kerja. Untuk mengembangkan tim agar efektif maka setiap orang dalam tim harus mengetahui dan memahami dengan jelas tujuan dan harapannya, peran khusus apa yang harus mereka lakukan, sekaligus memberi kesempatan para anggota tim mencurahkan ide-ide untuk mencapai sasaran, bertanggungjawab atas hasil tim tersebut. Dalam hal mengelola tim agar lebih efektif dapat digunakan pendekatan keempat fungsi dasar manjemen; perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan dan pengendalian.
Pengelolaan Laboratorium Pendidikan Administrasi Perkantoran Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6229.523 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3992

Abstract

Laboratorium Administrasi Perkantoran merupakan salah satu media yang mengacu pada konsep lembaga pendidikan untuk membantu peserta didik memaknai, mengenali proses kegiatan kantor termasuk kegiatan praktik perkantoran yang menggunakan berbagai  alat-alat kerja dan perlengkapan kantor berbasis teknologi perkantoran. Agar laboratorium Administrasi Perkantoran lebih efektif dalam mendukung proses pembelajaran Administrasi Perkantoran peerlu pengelolaan yang baik. Dleh karena itu fungsi-fungsi manajemen diterapkan dalam pengelolaan laboratorlurn Administrasi Perkantoran agar keberhasilan proses pembelajaran keterampilan di bidang keahlian administrasi perkantoran dapat lebih berkualitas sesuai standar kompetensi yang diharapkan. Ke depan upaya-upaya pengembangan laboratorium Administrasi Perkantoran perlu dilandasi budaya organisasi menuju profesionalisme sesuai kemajuan ilmu, teknologi di samping itu untuk mengantisipasi output peserta didik agar mampu rnemberikan pembelajaran laboratorium Administrasi Perkantoran di SMK (Bisnis dan Manajemen).
Kemampuan Manajer Meningkatkan Motivasi Kerja Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 1, Volume IV, Februari 2004
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3733.526 KB) | DOI: 10.21831/efisiensi.v4i1.3805

Abstract

Dalam lingkup wacana proses manajemen kesuksesan suatu organisasi/perusahaan selalu menghendaki kinerja yang memuaskan dan berkualitas. Oleh karena itu diperlukan tenaga kerja/karyawan atau sebutan apapun lainnya memiliki komitmen dan selalu termotivasi dengan baik. Peran manajer dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan merupakan tanggung jawab moral manajer dengan kemampuan memotivasi dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini sebagai wujud kompetensi diri dan keberhasilan manajer melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Dari berbagai kajian-kajian, motivasi merupakan hal yang mendasar dari implementasi proses manajemen, dan di lingkungan kerja merupakan daya dorong yang menimbulkan semangat kerja. Mengenai peran manajer dalam memotivasi kerja karyawan/bawahan maka manajer perlu memiliki kemampuan memadukan berbagai implementasi teori-teori motivasi agar dapat digunakan di lingkungan kerja organisasi/perusahaan untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan. Manajer dalam hal ini juga harus mampu melihat dan memahami bahwa motivasi sebagai suatu sistem yang mencakup sifat-sifat individual pekerjaan, situasi kerja, dan memahami hubungan antara insentif, motivasi, dan produktivitas kerja.