This Author published in this journals
All Journal Jurnal Jaffray
Hermanto Suanglangi
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bahasa Roh: Apa dan Bagaimana? Suanglangi, Hermanto
Jurnal Jaffray Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v2i1.146

Abstract

Apakah itu glossalalia? Glossalalia adalah adalah kata 1.ang dibangun daridtra kata Cerika, yaitu " glossa" yang berarti bahasa atau lidah dan "lalia"artinva pembicaraan, perkataan. Sehingga "glossalalia" adalah suatu pembicaraan dengan lidah, atau perkataan denganlidah. Dari istilah inilah maka orang biasa menyebutnya dengan bahasa roh dan bahasa lidah, di mana bahasa roh, atau bahasa lidah adalah semacam bahasa yang dengan kemampuan Roh Kudus orang dapat mengucapkannya. Baik dalam Korintus maupun dalam Kisah Para Rasul, sama-sama disebutbahasa roh karena keduanya semacam bahasa yang diucapkan dengan kemampuan dari Roh yang sama yaitu Roh Kudus.
Iman Kristen dan Akal Budi Suanglangi, Hermanto
Jurnal Jaffray Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v2i2.160

Abstract

Apakah iman bertentangan dengan rasio atau akal budi, ataukah rasio adalahsesuatu yang tidak bersangkut paut dengan iman? Pertanyaan ini pertanyaan klasik di dalam kekristenan, oleh karena pertanyaan ini telah mempengaruhi agama Kristen selama berabad-abad lamanya. Dari pertanyaan di atas muncul dua macam ekstrim yang berbeda, di nurna ada yang memandang bahwa orang Kristen harus menekankan iman sebagai satu-satunya pokokyang harus menjadi landasan dalam kehidupan orang Kristen sehingga tidak menekankan rasio. Di lain pihak, ada yang menjadikan rasio sebagai satu-satunya standar segala sesuatu, kalau tidak masuk akal maka itu bukan kebenaran, seperti yang diungkapakan Immanuel Kant "gunakanlah rasiomu setinggi mungkin", bahkan Rene Descartes berkata, "Cogito ergo sum,I think therefore I am. I am am thinking being", sehingga segala sesuatu menjadi objek pikiran termasuk Allah, inilah pikiran era Rasionalisme.
Bahasa Roh: Apa dan Bagaimana? Hermanto Suanglangi
Jurnal Jaffray Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v2i1.146

Abstract

Apakah itu glossalalia? Glossalalia adalah adalah kata 1.ang dibangun daridtra kata Cerika, yaitu " glossa" yang berarti bahasa atau lidah dan "lalia"artinva pembicaraan, perkataan. Sehingga "glossalalia" adalah suatu pembicaraan dengan lidah, atau perkataan denganlidah. Dari istilah inilah maka orang biasa menyebutnya dengan bahasa roh dan bahasa lidah, di mana bahasa roh, atau bahasa lidah adalah semacam bahasa yang dengan kemampuan Roh Kudus orang dapat mengucapkannya. Baik dalam Korintus maupun dalam Kisah Para Rasul, sama-sama disebutbahasa roh karena keduanya semacam bahasa yang diucapkan dengan kemampuan dari Roh yang sama yaitu Roh Kudus.
Iman Kristen dan Akal Budi Hermanto Suanglangi
Jurnal Jaffray Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v2i2.160

Abstract

Apakah iman bertentangan dengan rasio atau akal budi, ataukah rasio adalahsesuatu yang tidak bersangkut paut dengan iman? Pertanyaan ini pertanyaan klasik di dalam kekristenan, oleh karena pertanyaan ini telah mempengaruhi agama Kristen selama berabad-abad lamanya. Dari pertanyaan di atas muncul dua macam ekstrim yang berbeda, di nurna ada yang memandang bahwa orang Kristen harus menekankan iman sebagai satu-satunya pokokyang harus menjadi landasan dalam kehidupan orang Kristen sehingga tidak menekankan rasio. Di lain pihak, ada yang menjadikan rasio sebagai satu-satunya standar segala sesuatu, kalau tidak masuk akal maka itu bukan kebenaran, seperti yang diungkapakan Immanuel Kant "gunakanlah rasiomu setinggi mungkin", bahkan Rene Descartes berkata, "Cogito ergo sum,I think therefore I am. I am am thinking being", sehingga segala sesuatu menjadi objek pikiran termasuk Allah, inilah pikiran era Rasionalisme.