Dewa Nyoman Sucita
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI PENGUBURAN MAYAT UMAT HINDU DI DESA TIGAWASA Dewa Nyoman Sucita
Jurnal Widya Sastra Pendidikan Agama Hindu Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : STKIP AGAMA HINDU SINGARAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.318 KB) | DOI: 10.36663/wspah.v4i1.208

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap keunikan-keunikkan dan kesederhanaan dari pelaksanaan penguburan mayat umat Hindu di desa Tigawasa. Untuk merampungkan penelitian ini digunakan beberapa metode antara lain, dalam mengumpulkan data digunakan metode wawancara dan metode kepustakaan. Dalam menganalisis data digunakan model analisis etnografi (ethnography analysis) dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif. Adapun hasil penelitian yang diperoleh sebagai berikut. 1. Keunikan-keunikan Penguburan Mayat di Tigawasa antara lain: (1) tidak boleh membuat liang kubur sebelum upacara penguburan, karena kuburan tidak boleh dimasuki kecuali ada upacara penguburan/ngaben. (2) kuburan desa Tegawasa tidak disertai pura Dalem dan pura Prajapati, karena adanya awig-awig pelarangan memasuki wilayah kuburan. (3) sebagian sarana penguburan seperti bambu, kayu dan dedaunan yang diperlukan saat menguburkan harus dicari di areal kuburan tidak boleh dibawa dari rumah duka. (4) waktu penguburan tidak mencari dewasa ayu (hari baik) karena ada awig-awig desa, mayat tidak boleh didiamkan di rumah duka lebih dari 24 jam. 2. Tradisi penguburan meliputi beberapa tahapan upacara, yaitu: (1). Upacara saat meninggal ( Wawu lampus), (2). Upacara memandikan mayat (nyiramang); (3). Upacara mengusung mayat ke kuburan; (4). Upacara pembelian liang kubur dan (5). Upacara penguburan; 3. Sarana yang digunakan dalam penguburan mayat antara lain: 1). Ambuh; 2). Sisir/petat; 3). Sisig, 4). Waja; 5). Cermin/meka; 6). Uang kepeng; 7). Daun sirih; 8). Benang; 9). Mesui; 10). Daun sembung; 11). Pepage; 12). Daun penyalin/daun wi; 13). Blitbit; 14). Puung; 15). Cepu; 16). Air dan 17). Pakaian; sedangkan banten/upakara yang digunakan, diantaranya: 1). Sesagi (banten Punjung), 2). Banten aleman, dan 3). Canang gantal 21 buah.
SAMPI GERUMBUNGAN, Seni Budaya Khas Buleleng Dewa Nyoman Sucita
Jurnal Widya Sastra Pendidikan Agama Hindu Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : STKIP AGAMA HINDU SINGARAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.962 KB) | DOI: 10.36663/wspah.v4i2.282

Abstract

Tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian ini pada dasarnya untuk dapat mengungkap keberadaan Sampi Gerumbungan yang berada di desa Kaliasem Kabupaten Buleleng. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan beberapa metode, antara lain: dalam menentukan informan digunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling; mengumpulkan data digunakan teknik wawancara terstrktur dan pencatatan dokumen; dan dalam menganalisis data digunakan metode analisis data kualitatis dengan tiga tahap, yaitu menreduksi data, mendisplay data dan menarik simpulan dan verifikasi. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, maka hasil penelitian yang diperoleh, sebagai berikut: (1) asal-usul berkembangnya seni budaya Sampi Gerumbungan di desa Kaliasem berawal dari hasil kreativitas para petani setelah mereka panen raya. Hal ini dilakukan oleh petani diperkirakan mulai tahun 1923. Dan dalam perkembangan berikutnya pementasan Sampi Gerumbungan ini tidak saja terkait dengan pertanian melainkan berimbas pula pada bidang parawisata, karena dimanfaatkan oleh pemerintah Buleleng sebagai salah satu paket wisata di Buleleng, sehingga sampai saat ini ada kelompok-kelompok Sampi Gerumungan di Buleleng. (2) Nilai-nilai yang terkandung dalam seni budaya Sampi Gerumbungan, antara lain: a. nilia seni/keindahan, b. nilai budaya, c. nilai sacral dan d. nilai ekonomis. (3) Peralatan yang digunakan dalam Sampi Gerumbungan, antara lain: a. Uga; b. Samped, c. Kunali, d. Lampit, e. Tali Tengen, f. daun lampit, g. pelayah, h. Gelang Gongseng, i. Gerumbungan, j. Pecut dan k. Pengatik. (4) Keberadaan sampi Gerumbungan dewasa ini mengalami perubahan dan peningkatan kualitas dilihat dari tempat pelaksanaannya, waktu pelaksanaannya, Kostum yang digunakan pada saat pementasan, kreteria pementasan dan para penikmatnya.