Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STUDI TENTANG BUDIDAYA TANAMAN KENTANG Solzum Tuberosum L DI DATARAN TINGGI DIENG KAJIAN DARI ASPEK EKONOMI DAN LINGKUNGAN (A STUDY IN ECONOMICAL AND ENVIRONEMENTAL ASPECTS TO THE CULTIVATION OF POTATOES Solzum Tuberosum L IN DIENG PLATEU) , Bondansari; Sularso, Kusmantoro Edy; Dewanto, Eko
Pembangunan Pedesaan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dieng Plateau is a region that is suitable for the development potatoes (Solanum tuberosum L.). Potato farming system is implemented on the sloping land, but conservation technologies are insufficient, so the productivity has decreased. Seemingly, the farming management also causes environmental disturbances, such as erosion, and excessive use of pesticides impact. This research aims were identifying the use of farm inputs used to anticipate the decrease of soybean productivities, and assessing the sustainability of potato farming from the economic aspect into account environmental factors. The research was conducted using a descriptive analytical method with a simple cluster sampling. Data were collected from the farm inputs and supporting data such as, product prices and saprodi, receipts and related information with potato farming activities. The results showed that used of seed, labor and inorganic fertilizer in the planting season in 2008 was more than the planting season in 2009. Used of organic fertilizers in the planting season in 2009 was more than the season planting in 2008. Potato productivity in the planting season in 2008 was higher than that in the planting season in 2009. Monoculture cropping pattern with very intensive in the use of pesticides, cropping system in the direction of the slope and bench terraces that have not been introduced well often caused environmental problems, such as landslides, floods with mud, erosion and declining productivity of potato. Potato farming was still profitable in financial terms but economically (socially), it was not feasible to be commercialized.
EFEKTIVITAS PUPUK KANDANG BERBASIS KOMPOS Azolla microphylla DAN PEMAKAIAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL TOMAT CHERRY Devi Laksitarani, Swadea; Dewanto, Eko; Rokhminarsi, Eni
Jurnal Agro Wiralodra Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Agro Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/agrowiralodra.v3i1.34

Abstract

Tomat cherry (Lycopersicum esculentum var. ceraciforme) merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan yang dianggap mempunyai prospek baik dalam pemasarannya. Rasanya yang manis dan segar serta kandungan gizi yang baik untuk tubuh dan penyembuhan beberapa penyakit membuat permintaan tomat cherry semakin meningkat. Dewasa ini dalam dunia pertanian, untuk meningkatkan hasil panen petani banyak menggunakan pupuk sintetis sehingga membuat lingkungan tercemar. Berbagai formulasi bahan alami sudah banyak digunakan di dunia pertanian saat ini, seperti pupuk kandang yang dicampur dengan kompos Azolla microphylla. Penggunaan pupuk kandang dan kompos Azolla microphylla diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis seperti pupuk NPK. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk kandang berbasis kompos Azolla microphylla dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat cherry, 2) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk kandang berbasis kompos Azolla microphylla dan pupuk NPK terhadap efisiensi penggunaan pupuk NPK pada tanaman tomat cherry. Penelitian dilaksanakan di screen house Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dengan ketinggian 110 m dpl. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan 21 hari mulai bulan Juli sampai November 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 2 faktor masingmasing 3 perlakuan dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah formulasi pupuk kandang berbasis kompos Azolla microphylla yang terdiri dari K1 (100% pupuk kandang), K2 (75% pupuk kandang dan 25% kompos Azolla microphylla), dan K2 (50% pupuk kandang dan 50% kompos Azolla microphylla). Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK, yaitu D0 (100% dosis rekomendasi), D1 (75% dosis rekomendasi), dan D2 (50% dosis rekomendasi) dengan dosis rekomendasi yang digunakan sebanyak 10 g/tanaman. Analisis data menggunakan uji F dengan taraf kesalahan 5%, apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT dengan taraf kesalahan 5%. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah cabang, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot akar segar, bobot akar kering, jumlah bunga total, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, volume tiap buah, serta Efisiensi Penggunaan Pupuk (EPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang berbasis kompos Azolla microphylla dan pupuk NPK menurunkan diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, dan jumlah bunga per tanaman, namun pemberian kompos Azolla microphylla sebesar 25% dengan penurunan dosis pupuk NPK sebesar 50% meningkatkan bobot tanaman kering sebesar 0,89% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sebesar 25,76%.
KAJIAN DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR LEACHATE PLUS DAN KETEBALAN MULSA UNTUK PERTUMBUHAN DAN HASIL WORTEL DI DATARAN RENDAH Mardin, Sobardini; Dewanto, Eko
Agrin Vol 17, No 2 (2013): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2013.17.2.206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimal pupuk organik cair leachate plus, ketebalanmulsa jerami padi terbaik dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil wortel di dataran rendah. Penelitianberupa percobaan lapangan yang telah dilaksanakan pada bulan April 2013 – Nopember 2013 di desaGrendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas ketinggian tempat ± 110 m dpl. Wortel yangditeliti merupakan varietas New kuroda dan faktor yang dicoba meliputi dosis POC leachate plus yang terdiriatas D0=0cc/tanaman, D1=50cc/tanaman, D2 =75cc/tanaman dan D3=100cc/tanaman, dan ketebalan mulsajerami padi yang meliputi M1=ketebalan satu lapis, M2=ketebalan dua lapis, dan M3=ketebalan tigalapis.Rancangan yang digunakan adalah RAKL dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberiandosis POC leachate plus dan ketebalan mulsa jerami berbeda sangat nyata terhadap tinggi tanaman, bobotbrangkasan, volume umbi, diameter umbi, bobot umbi per tanaman, dan bobot umbi per petak efektif .Pemberian dosis POC lechate plus terbaik adalah 50 cc/tanaman dengan bobot umbi maksimal 131,11 g perpetak efektif dan setara dengan 19,224 ton/ha sedangkan pemberian mulsa dengan ketebalan dua lapismemberikan bobot umbi maksimal 135,83 g/petak efektif atau setara dengan 19,916 ton/ha. Terdapat interaksiyang sangat nyata terhadap tinggi tanaman, volume umbi, diameter umbi, berat umbi per tanaman, dan bobotumbi per petak efektif. Kombinasi terbaik pada pemberian dosis POC 50 cc per tanaman dan ketebalan mulsadua lapis dengan berat umbi 153,33 g/petak efektif atau setara dengan 22,482 ton/ha.Kata kunci: POC Leachate Plus, mulsa, wortel, dataran rendahABSTRACTObjectives of this study were to understand the optimal dose of leachate plus liquid organic fertilizer andthe best straw mulch thickness to increase carrot growth and crop in lowland, as well as their interaction. It wasconducted in wetland at Grendeng Village North Purwokerto Subdistrict Banyumas regency, with the elevationabout 110 m above sea level, starting from April to November 2013. The research used randomized completelyblock design (RCBD) with three replications. The first examined factor was doses of leachate plus liquidorganic fertilizer containing four levels namely D0 = 0 cc/plant, D1: 50 cc/plant or 500 cc/plant, D2: 75 cc/plantor 750 cc/plant, and D3: 100 cc/plant or 1000 cc/plant. The second factor was straw mulch thickness consistingof one layered thickness (M1), two layered thickness (M2), and three layered thickness (M3). The results showedthat doses of leachate plus liquid organic fertilizer were significantly different on plant height, fresh canopyweight, tuber volume, tuber diameter, tuber weight, and tuber weight per effective plant. The best dose wasachieved in leachate plus liquid organic fertilizer of 50 cc/plant tuber weight at 131.11 g per effective plot orequivalent with 19.224 tones/ha and mulch treatment gave the best result with two layered straw mulch for tuberweight per effective plot or equivalent with 19.916 tones/ha. Highly significant interaction was showed in plantheight, tuber volume, tuber diameter, and for tuber/root weigh per effective plot on the combination of 50cc/plant of leachate plus liquid organic fertilizer and two layered straw mulch for tuber weight 153.33g or similarto 22.482 tones/ha.Key words: leachate plus liquid organic fertilizer, mulch, carrot, low land