M Machasin
State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Undestanding the Qur’an with Logical Arguments Discussion on ‘abd al-Jabbār’s Reasoning M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.310-330

Abstract

Mu'tazilah terkenal sebagai aliran pemikiran logis dalam sejarah pemikiran Islam. Mereka selalu berusaha untuk membangun paham keagamaan atas dasar kerja logis akal. Dalam melakukan kerja itu mereka mau tidak mau bertemu dengan kesulitan memahami Al-qur’an yang dalam banyak tempat memberikan keterangan yang secara sepintas terasa tidak logis. Misalnya, bacaan-bacaan yang memberikan pengertian kebebasan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri, ketika dihadapkan dengan ketentuan-ketentuan Allah yang tidak dapat diubah manusia Keberadaan al-Qur'an sebagai dasar ajaran Islam bagi kaum Sunni tidak diragukan sama sekali, namun bagi kaum Mu'tazilah terdapat beberapa catatan. Kalau al-Qur'an itu firman Allah, apakah beritanya dapat dipakai untuk menjadi bukti keberadaan-Nya. Secara nalar, memang pertanyaan ini tidak dijawab dengan positif. Kandungan berita tidak dapat menerangkan keberadaan pemilik berita, karena itu berarti akan terjadi lingkaran syetan: kandungan berita hanya dapat dianggap benar jika pemilik berita tidak berbohong, sementara keberadaan pemilik berita itu sendiri diterangkan oleh kandungan berita. Dengan demikian al-Qur'an tidak dapat memberikan keterangan pertama tentang Allah sendiri, kata 'Abd al-]abbar yang terkenal dengan sebutan al-Qādlī atau Qādlī al-Qudlāh (320/932-415/1025), seorang tokoh Mu'tazilah pada kebangkitannya setelah dijatuhkan dari lingkaran kekuasaan politik oleh Khalifah al-Mutawakkil (847-86I). Lalu bagaimana kitab ini dapat merupakan dalil bagi pemikiran teologis Islam? Tulisan ini membahas pemikiran 'Abd al-Jabbdr mengenai hal-hal itu dan yang berkaitan dengannya. Kesimpulannya adalah bahwa menurut tokoh ini orang mesti menggunakan penalaran logis dalam mendudukkan al-Qur'an dalam struktur pemikiran teologis dan dalam memahami keseluruhan bacaan-bacaannva.
Epistemologi ‘Abd Al-Jabbār Bin Ahmad al-Hamadzānī M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.045.39-53

Abstract

Epistemologi (dari bahasa Yunani Kuna, episteme = pengetahuan dan logos = teori) didifinisikan, antara lain, sebagai cabang filsafat yang menyelidiki asal, struktur, metode-melode dan keabsahan pengetahuan. Dengan demikian judul di atas mengandung pengertian konsep 'Abd al-Jabbār mengenai hal-hal yang berkenaan dengan teori pengetahuan itu. Akan tetapi tulisan ini tidak membicarakan semua masalah itu. Ini dilakukan selain karena keterbatasan ruang dan waktu, juga karena kenyataan bahwa 'Abd al-Jabbār tidak menulis teorinya tentang pengetahuan secara lengkap dengan maksud khusus untuk menjelaskan konsepnya tentang pengetahuan. Memang ia menulis satu buku penuh dengan masalah pokok penalaran dan pengetahuan, yakni juz XII dari al-Mughnī fī Abwāb al-Tawhīd wa al-‘ad-l yang diberi anak judul al-Nadhar wa al-Ma'ārif, namun buku itu ditulis sebagai satu bahagian dari pembicaraannya tentang masalah teologi. Buku itu dimaksudkan sebagai landasan bagi konsepnya tentang kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia. (taklīf). Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini hanyalah konsep 'Abd al-Jabbār tentang pengetahuan, kriteria-kriteria pengetahuan yang benar macam-macam pengetahuan dan penalaran sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yangbenar.  Bagaimana pengetahuan diungkapkan dalam bentuk yang bisa ditangkap orang lain dan sumber-sumber pengetahuan, tidak akan dibahas  dalam tulisan ini.
Islami In Indonesia: An Introductory Remarks M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.23-36

Abstract

To speak about Islam in such a big population will involve a very large range of problems, from the insufficiency of the materials, to the disputes over subjects on which several researches have been done. The most important historicals are those related to its coming in this archipelago. To this day, no one can tell exactly when it came here for the first time, why it was accepted by the majority of the people, who propagated it here etc. The social scientist faces the problem that Islam is expressed here, as in any other part of Muslim world, in a vast number of variations. We can see, on the one hand, many "Muslims" in whom Islam. is only a "transparent veneer that fails to disguise the underlying substance of purely heathen character" On the other hand, we find puritans who see Islam as a total system that has to be applied in all aspects of their life. Therefore, we have to restrict ourselves to the most important subjects to talk about. As an introduction to the study of Islam in Indonesia, this paper will deal only with its system of beliefs and practices, its organizations, its educational institutions, its political appearances and its relations to the government Of course, these subjects cannot be dealt with sufficiently without placing them in its historical background.