Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan lebih dari 75 persen wilayahnya berupa perairan sangat potensial bagi pengembangan budidaya perairan seperti perikanan Dalam pengolahan produksi perikanan seringkali organ dalam tubuh ikan, kepala ,lembar insang tidak ikut diolah. Demikian juga hasil ikutan dari penangkapan ikan seperti ikan rucah dan ikan yang rusak selama pengangkutan dibuang begitus aja, sehingga sering menimbulkan pencemaran lingkungan. Dalam kondisi krisis ekonomi seperti saat ini Nampak bahwa nutrisi dan makanan ternak merupakan aspek penting dalam sistem industri peternakan di Indonesia. Kebutuhan bahan pakan ternak sampai sekarang masih sanga tergantung pada Negara lain. Pemanfaatan limbah perikanan dan pertanian untuk pakan ternak dalarn bentuk silase dapat merupakan salah satu upaya mengatasi kekurangan pakan ternak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahu persentase penambahan karbohidrat dari onggok tapioca dan cairan kobis yang digunakan sebagai inokula pada pembuatan silase ikan. Metode penelitian yang digunakana dalah eksperirnen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial 3 x 2. Faktor pertarna penambahan onggok (A) terdiri dari 3 (tiga) taraf yaitu A1 = onggok 20 g, A2 : onggok 25 g, A3 : onggok 30 g. sedang factor kedua, cairan kobis (B) terdiri dari2 (dua) taraf, yaitu Bl : cairan kobis 12,5r nl danB 2 : cairan kobis 25 ml. Masing-masing perlakuan diulangg 3 (tiga) kali. Variabel yang diamati adalah pH silase, pada tanterlarut, kadar asam total (kandungan asamla ktat), nilai normol dan jurnlah koloni mikrobia. Analisis statistic menunjukkan bahwa penarnbahan karbohidrat dari onggok tapioca dan cairan kobis berpengaruh sangat nyata(P < 0,01) terhadap pH , kadar asam total, nilai formol dan jumlah koloni mikrobia, tetapi tidak berpengaruh (P > 0,05) terhadap padatan terlarut (N-terlarut), penambahan onggok tapioca 30g dengan cairan kobis 12,5 ml menunjukkan hasil silase yang terbaik, .dengan waktu pemeratan (inkubasi) empat minggu