This Author published in this journals
All Journal Jurnal Medika Hutama
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FIBROSIS PARU PASCA COVID 19: SEBUAH TANTANGAN BARU Feryandi Limanto Suhardi; Richard Chayadi
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduksi: COVID 19 (SARS CoV 2) merupakan pandemi yang dimulai dari Wuhan pada Desember 2019 yang disebabkan oleh virus corona.1 Coronavirus (CoV) adalah virus RNA yang diketahui menyebabkan infeksi pernapasan pada manusia. Pada 11 Maret 2020, COVID 19 dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia.2 Komplikasi toraks yang paling ditakuti pada COVID 19 adalah emboli paru dan fibrosis paru. Angka kejadian terjadinya fibrosis paru belum diketahui secara pasti.3 Fibrosis paru terjadi akibat kerusakan alveolar dan badai sitokin yang membentuk jaringan fibrosis untuk mengganti parenkim paru sebagai penyembuhannya.4 Kasus: Pria, DS, usia 64 tahun, datang ke IGD dengan keluhan batuk dan demam sejak 9 hari sebelum masuk RS. Sesak sudah mulai dirasakan sejak 4 hari sebelum masuk RS. Setelah dilakukan pemeriksan, pasien dinyatakan positif COVID 19 dan dilakukan rawat inap. Pasien dinyatakan sembuh pada hari rawat ke 20 setelah dua kali PCR Swab negatif. Keluhan sesak masih tetap dialami walaupun dinyatakan PCR swab negatif. CT scan paru diulangi pada hari rawat ke-25 dan didapatkan hasil fibrosis paru, Echocardiography juga dilakukan untuk menyingkirkan adanya emboli paru. Pasien mengalami perburukan pada hari rawat ke-30 dan dinyatakan meninggal dunia pada hari rawat ke-39. Diskusi: Virus SARS-CoV-2 akan menyebabkan kerusakan pada organ, terutama pada paru-paru melalui aktivitas imun host.4 Pengobatan fibrosis paru akibat COVID-19 masih belum diketahui sepenuhnya. Dari penelitian lebih dari 3 dekade lalu, pirferidone dan nintedanib telah digunakan untuk mengobati fibrosis paru idiopatik.5 Kesimpulan: Fibrosis paru menjadi salah satu sekuele pasca ARDS COVID-19 yang patut diperhatikan, karena walaupun telah sembuh dari COVID-19, penyintas masih dapat merasakan gejala sisa, bahkan hingga meninggal.