Naskah-naskah kuno merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang mengandung kearifan lokal untuk digali dan dijadikan acuan bagi kehidupan generasi penerusnya. Naskah-naskah Sunda Kuno yang ditulis pada abad ke-16 dan 17 Masehi menunjukkan bukti-bukti hubungan baik antara Tiongkok dengan Sunda pada masa itu, bahkan jauh sebelum abad ke-7 Masehi.Nuansa isi naskah Sunda Kuno pada umumnya berupa ajaran kehidupan yang menjadi pegangan masyarakat Sunda pada masa itu. Naskah-naskah tersebut adalah: Sewaka Darma (SD), Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK), Amanat Galunggung (AM) , Sri Ajnyana (SA), Bujangga Manik (BM), Darma Jati (DJ), Kawih Pangeuyeukan (KP), Carita Parahiyangan (CP), dan Carita Ratu Pakuan (CRP). Studi pustaka dilakukan terhadap naskah-naskah Sunda Kuno yang telah melalui tahap penelitian filologis dan diterbitkan dalam bentuk edisi teks dan terjemahan. Pengumpulan data dari naskah-naskah tersebut difokuskan pada teks-teks yang menyebut nama Cina. Selanjutnya data tersebut diklasifikasikan berdasarkan kelompok bahasa, bangsa, produk, dan keahlian.Pengetahuan masyarakat Sunda pada abad ke-16 dan 17 tentang Tiongkok membuktikan bahwa mereka telah saling mengenal melalui bahasa, peradaban, produk-produk berkualitas tinggi, politik, dan kepandaian. Produk-produk berkualitas tinggi dari Tiongkok merupakan data yang paling banyak ditemukan dalam naskah Sunda Kuno. Ini menunjukkan bahwa hubungan perdagangan merupakan aspek yang sangat maju pada saat itu. Keharmonisan hubungan Tiongkok dan Sunda seperti yang tercatat dalam Naskah-naskah Sunda Kuno merupakan kearifan lokal yang sudah sepantasnya digali dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kearifan lokal ini menjadi sangat penting ketika bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis mental dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa demi tegaknya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.