Syaichon Ibad
Universitas Islam Negeri Sunan Ampe Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kritik Nalar Abid Al-Jabiri: Pembacaan Terhadap Turats dan Modernitas Syaichon Ibad
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol 18, No 1 (2022): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Juni 2022
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berupaya untuk mengetahui deskontruktisitas epistemologi keislaman yang dilakukan oleh Abid al-Jabiri dengan menawarkan nalar barunya untuk bangsa Arab, agar Islam lebih dewasa dan terampil dalam menyikapi modernitas. Disamping itu penelitian ini bertujuan  untuk mendeteksi beberapa kelompok intelektual muslim Arab yang muncul dengan membawa varian “jalan keluar”-nya masing-masing, dalam rangka memberikan sebuah sintesa yang apik di tengah pandangan polaritas Arab-Islam terhadap turats dan modernitas. Dalam pengertian Arab kontemporer, turats lebih berupa warisan intelektual atau sebuah cara mengorganisasi ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Lebih tepatnya turats adalah sebuah perangkat berpikir kaum muslimin baik dalam tindakan memahami atau pengolahan pengetahuan yang telah dirumuskan dan dibukukan pada masa kodifikasi ilmu-ilmu keislaman. Lain halnya dengan turats dalam wacana Arab klasik yang cenderung memberikan penekanan melalui hukum Islam yang bermakna harta warisan. Ditambah lagi turats memiliki denotasi cara melihat yang menyongsong ke depan, sangat kontras dengan tradisi yang memiliki posisi di masa lampau dan mengandung makna negatif, seperti aktivitas taqlid buta kepada sesuatu secara pasif. Sedangkan modernitas disini sebagai prestasi capaian umat manusia kontemporer dianggap sering menggugat relevanitas Islam dalam menyikapi gagasan-gagasan perubahan yang kerap ia hembuskan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, hasil menunjukkan bahwa al-Jabiri tidak sekedar mengkritik trilogi nalar Arab (Bayani, ‘Irfani, Burhani) yang diyakini sebagai penyebab keterbelakangan Islam maupun sebatas menolak pendekatan beberapa kalangan intelektual Arab-Islam. Melainkan al-Jabiri memilih untuk bersikap lebih adil dengan mensinergikan ketiga nalar Arab tersebut untuk menjadi pendamping umat Islam dalam kehidupan kontemporer, sehingga tidak ada lagi benturan-benturan mengenai prinsip-prinsip keislaman dengan bayang-bayang perubahan, sebab pada hakikatnya perubahan itu sendiri adalah Sunnatullah.
Kritik Nalar Abid Al-Jabiri: Pembacaan Terhadap Turats dan Modernitas Syaichon Ibad
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 18 No. 1 (2022): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Juni 2022
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v18i1.272

Abstract

Artikel ini berupaya untuk mengetahui deskontruktisitas epistemologi keislaman yang dilakukan oleh Abid al-Jabiri dengan menawarkan nalar barunya untuk bangsa Arab, agar Islam lebih dewasa dan terampil dalam menyikapi modernitas. Disamping itu penelitian ini bertujuan  untuk mendeteksi beberapa kelompok intelektual muslim Arab yang muncul dengan membawa varian “jalan keluar”-nya masing-masing, dalam rangka memberikan sebuah sintesa yang apik di tengah pandangan polaritas Arab-Islam terhadap turats dan modernitas. Dalam pengertian Arab kontemporer, turats lebih berupa warisan intelektual atau sebuah cara mengorganisasi ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam. Lebih tepatnya turats adalah sebuah perangkat berpikir kaum muslimin baik dalam tindakan memahami atau pengolahan pengetahuan yang telah dirumuskan dan dibukukan pada masa kodifikasi ilmu-ilmu keislaman. Lain halnya dengan turats dalam wacana Arab klasik yang cenderung memberikan penekanan melalui hukum Islam yang bermakna harta warisan. Ditambah lagi turats memiliki denotasi cara melihat yang menyongsong ke depan, sangat kontras dengan tradisi yang memiliki posisi di masa lampau dan mengandung makna negatif, seperti aktivitas taqlid buta kepada sesuatu secara pasif. Sedangkan modernitas disini sebagai prestasi capaian umat manusia kontemporer dianggap sering menggugat relevanitas Islam dalam menyikapi gagasan-gagasan perubahan yang kerap ia hembuskan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, hasil menunjukkan bahwa al-Jabiri tidak sekedar mengkritik trilogi nalar Arab (Bayani, ‘Irfani, Burhani) yang diyakini sebagai penyebab keterbelakangan Islam maupun sebatas menolak pendekatan beberapa kalangan intelektual Arab-Islam. Melainkan al-Jabiri memilih untuk bersikap lebih adil dengan mensinergikan ketiga nalar Arab tersebut untuk menjadi pendamping umat Islam dalam kehidupan kontemporer, sehingga tidak ada lagi benturan-benturan mengenai prinsip-prinsip keislaman dengan bayang-bayang perubahan, sebab pada hakikatnya perubahan itu sendiri adalah Sunnatullah.