Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Pengendalian Waste Produk Pipa HDPE dengan Metode Lean Manufacturing dan Rekomendasi Perbaikan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) di PT ABC Fitrotul Bahri Affandi; Joumil Aidil Saifudin
JUMINTEN Vol 3 No 1 (2022): Juminten: Jurnal Manajemen Industri dan Teknologi
Publisher : UPN Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.418 KB) | DOI: 10.33005/juminten.v3i1.372

Abstract

PT ABC ialah perusahaan di bidang usaha pembuatan Pipa PVC serta HDPE. Permasalahan yang terjadi di perusahaan yakni produk defect pipa HDPE sangat besar sehingg menyebabkan menyebabkan kerugian pada perusahaan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Lean Manufacturing Dan rekomendasi dengan menggunakan metodeFailure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode Lean Manufacturing Adalah metode yang sangat cocok digunakan dikarenakan untuk mencari tahu akar permasalahan dari defect yang terjadi. Dan supaya defect itu berkurang. Berdasarkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Terdapat reduksi waktu produksi sebesar 65 menit dari lead time pada big picture mapping awal sebesar 324 menit menjadi 259 menit pada big picture mapping usulan. Terdapat 3 waste yang memiliki nilai Risk Priority Number tertinggi yaitu Waste defect disebabkan oleh Suhu Hoper dan Extruder yang kurang stabil pada proses pemanasan mesin dan peleburan biji plastik, waste Overproduction disebabkan Planning produksi yang kurang tepat, Serta Defect yang terjadi membuat produk harus di kerjakan ulang. Waste waiting disebabkan Terjadi delay dikarenakan Menunggu pemanasan suhu dalam Hoper. Rekomendasi perbaikan yang dapat diusulkan yaitu Pembuatan jadwal perawatan atau maintenance pada mesin Hoper dan Extruder, dan jika memungkinkan mengganti ke mesin yang lebih baru dan dengan sistem yang terotomasi. Dan Menambah kapasitas mesin Crusher (pengolah defect) dengan kapasitas yang lebih besar agar defect tidak menumpuk di gudang defect, karena kapasitas mesin Crusher (pengolah defect) lebih kecil daripada defect yang di hasilkan.