Faiza Aidina
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Aceh

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REDESAIN PESANTREN MODERN DARUL ULUM DI BANDA ACEH: Arsitektur Tropis Rahmazana Aulia Herman; Faiza Aidina
Rumoh Vol. 8 No. 15 (2018): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1241.986 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i15.39

Abstract

Pesantren Modern Darul Ulum adalah sebuah Pesantren Terpadu yang menggabungkan dua lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Setiap tahun pertambahan santri semakin meningkat, tetapi fasilitas yang ada pada saat ini tidak memadai, salah satunya ruangan kelas yang tidak mencukupi , maka dari itu perlu upaya untuk merancang kembali Pesantren Darul Ulum ini dengan maksud memperbaiki desain terhadap fasilitas-fasilitas yang kurang memadai, serta mengatur keteraturan ruang dan sirkulasi. Pesantren Modern Darul Ulum di Banda Aceh ini berlokasi di Jalan Syiah Kuala nomor 5 Gampong Keuramat Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh Provinsi Aceh.  Pesantren Modern Darul Ulum di Banda Aceh ini menerapkan Pesantren Tipe D, yaitu Pesantren yang menyelenggarakan sistem pondok dan sekaligus sistem sekolah/madrasah, dengan tema yang diterapkan yaitu Arsitektur Tropis. Penerapan arsitektur tropis pada bangunan ini dengan menerapkan ventilasi silang, pilotis, dan bukaan yang besar untuk memanfaatkan angin, pemilihan bentuk massa bangunan yang tidak lebih dari lima kali tinggi lantai, dan penamanan vegetasi seperti pohon palem yang berfungsi sebagai pohon pengarah, glodokan tiang sebagai buffer, pohon tanjung dan flamboyan sebagai pohon peneduh. Orientasi bangunan timur-barat, terletak dijalan utama, pencapaian ke lokasi pesantren dapat diakses dari segala arah, melalui jalan Syiah Kuala, jalan Tengku Daud Bereu’eh, dan jalan T. Hasan Dek. Massa bangunan merupakan massa majemuk yang memiliki dua bangunan utama yang terdiri dari sekolah dan asrama. Fasilitas bangunan pendukung lainnya yaitu mesjid, kantor pengelola, aula, dapur dan ruang makan, rumah ustadz/ustadzah, ruko dan pos satpam. Kolom utama berukuran 50x50 cm, menggunakan pondasi tapak, dinding menggunakan material batu bata, dan atap menggunakan struktur baja berat. Luas lahan 48.938 m² dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah 29.362 m².
COASTAL RESTORATION THROUGH COMMUNITY PARTICIPATION: In Meuraxa District, Banda Aceh Faiza Aidina
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.034 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.58

Abstract

Tsunami in 2004 has changed urban condition in Banda Aceh especially along north west coast area.This Strecth line area has lost its vitality as an attractive urban area, in Banda Aceh those situation happened in Meuraxa district Banda Aceh (2005-2006). This qualitative research attempt to seek a way to restore this area to former condition. The idea is the conversion of waste land into more productive land. The action plan is consisted in two phase : 1.to create mangrove cultivation community and sylvofishery, 2. To create a community hub for trading, cultural activity, and recreational place. The analysis start from major scale and then focus on selected location as a starting point for a proposed action plan.
PUSAT SENI BUDAYA SIMEULUE DI KOTA SINABANG: Tema: Arsitektur Neo-Vernakular Nur Wahyuni; Faiza Aidina
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.98 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.94

Abstract

Simeulue memiliki berbagai macam seni budaya yang khas, yaitu seni nandong dan debus yang sejak lama sudah ada dan selalu diajarkan dari generasi ke generasi dan seiring berjalannya waktu seni budaya semakin dikembangkan yaitu seperti tari silongor dan mangasila, yang mana dulu hanya merupakan sebuah lagu daerah Simeulue. Di Simeulue saat ini belum mempunyai sebuah wadah atau tempat yang memiliki fasilitas yang layak untuk menampung masyarakat, serta sanggar-sanggar seni untuk mempertunjukan maupun mengembangkan kemampuan seni budaya yang dimiliki. Selain itu adanya Pusat Seni Budaya juga akan menampung layanan informasi seputar pariwisata (Tourism Information Center), dan juga sekaligus sebagai promosi Simeulue ke luar daerah. Pusat Seni Budaya Simeulue yang akan direncanakan berada di ibu kota Kabupaten Simeulue, yaitu Sinabang.Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang yang akan direncanakan termasuk kedalam klasifikasi Kabupaten. Pendekatan tema Arsitektur Neo-Vernakular untuk menghadirkan keselarasan antara kebiasaan masyarakat dengan seni budaya Simeulue. Pengembangan adat istiadat yang dimiliki oleh Simeulue, seperti motif khas milik Simeulue yaitu mata-mata, batik khas Simeulue, dan rumah adat tradisional Simeulue.Dengan analisis angin, matahari, dan hujan yang disesuaikan dengan keadaan di Simeulue. Luas lahan untuk perencanaan Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang ini 27.000 m², Massa bangunan yang direncanakan menggunakan pola massa tunggal. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 40% yaitu 7,200 m² dan ketinggian bangunan yaitu 20.000 m. Dengan fasilitas-fasilitas utama seperti Auditorium dan Amphiteather dan fasilitas pendukung Tourism Information Center, perpustakaan seni, ATM Center, Studio Seni dan fasilitas lainnya yang menjadikan pusat seni budaya menjadi lebih lengkap dan memberi manfaat lebih kepada pengunjung Pusat Seni Budaya Simeulue di Kota Sinabang.