T. Eka Panny Hadinata
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Aceh

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENERAPAN ARSITEKTUR LOKAL ACEH UTARA PADA PERANCANGAN BANGUNAN FASILITAS PENUNJANG BENDUNGAN KEREUTO T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.572 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.56

Abstract

Bendungan Kereuto di Kabupaten Aceh Utara ini merupakan salah satu bendungan terbesar di Sumatera, bendungan ini dibuat untuk menyelesaikan masalah pengairan dan bencana banjir yang kerap melanda kawasan Kabupaten Aceh Utara. Selain adanya konstruksi utama bendungan, terowongan, waduk, dan bangunan penunjang teknis lainnya untuk menunjang sistem pengairan bendungan juga terdapat fasilitas penunjang kegiatan nonteknis di kawasan bendungan. Bangunan fasilitas penunjang Bendungan ini dirancang dengan mengunakan pendekatan Arsitektur lokal khas Aceh Utara, hal ini bertujuan agar bendungan kereuto dapat menjadi ikon baru Kabupaten Aceh Utara. Setelah dianalisa ciri-ciri dan karakter arsitektur lokal Aceh Utara kemudian disesuaikan dengan konteks dan objek atau bangunan yang akan dirancang, maka didapat representasi Arsitektur Lokal Aceh Utara adalah bangunan rumah adat Aceh Utara, unsur yang diambil adalah unsur visual seperti bentuk, ornament serta warna karena lebih mudah dikenali. Sehingga diharapkan Bendungan Kereuto bukan hanya bernilai dari segi teknis namun juga dapat menjadi ikon wisata edukasi dan rekreasi baru di Aceh Utara.
STRUKTUR SEBAGAI ELEMEN ESTETIS PADA BANGUNAN Effendi Nurzal; T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 9 No. 17 (2019): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.614 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v9i17.66

Abstract

Untuk merancang suatu bentuk arsitektur seorang arsitek harus mampu mengaplikasikan struktur dan estetika secara seimbang. Struktur sebagai Elemen Estetika adalah estetis bangunan yang tercipta melalui logika struktur yang dipengaruhi oleh estetika arsitektur. Struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dari titik dimana gaya yang bekerja dalam bangunan ke pondasi berfungsi untuk menahan gaya-gaya tersebut. Pemakaian material struktur memegang peranan penting terciptanya estetika bangunan arsitektur. Struktur Sebagai Elemen Estetis adalah bentuk bangunan yang tercipta melalui struktur yang di rancang dengan keindahan struktur yang di ekspose.
RUMUSAN KONSEP RUANG EXPERIENTIAL LEARNING PADA PERANCANGAN KAWASAN: Studi Kasus: Sungai Mati Kp. Baru Kec. Baiturrahman, Banda Aceh T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.074 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.95

Abstract

Saat ini metode edukasi berkembang semakin pesat, hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan edukasi yang ingin diajarkan. Metode pengguanaan ruang kelas atau satu arah saat ini sudah menjadi metode yang lama dalam dunia pendidikan, oleh karenanya diperlukan metode yang baru dalam proses edukasi di dunia pendidikan dan edukasi pada masyarakat. Salah satu metode baru tersebut adalah metode Experiential Learning, metode edukasi ini perlu dikembangkan pada masyarakat, sebagaimana kita ketahui saat ini sangat sulit mengedukasi masyarakat dalam hal menjaga lingkungan, tertib lalu lintas, dan lain sebagainya. Metode ini berupaya mengedukasi secara tidak langsung namun memiliki efektifitas yang baik. Experiential Learning merupakan sistem belajar melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakan atau disuguhkan. Sehingga dampaknya lebih kuat dalam penanaman edukasinya. Experiential Learning berfokus pada rekayasa ruang spasial yang mengaitkan dengan sistem biologis manusia seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan perasa/peraba. Skenario yang ada dibuat dengan seksama dengan menanamkan nilai-nilai edukasi yang ingin dimasukkan, sehingga membuat manusia paham akan nilai edukasi tersebut. Rumusan Experiential Learning ini diharapkan menjadi acuan dalam perancangan arsitektur, baik bangunan, raung dalam, luar dan perancangan kawasan. Studi kasus yang diambil adalah kawasan sungai mati Jl. Politeknik Kp. Baru, Kecamatan Baitussalam Kota Banda Aceh dengan luas area sekitar 2 Ha. Kawasan ini saat ini menjadi area belakang dan terbengkalai tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga, sehingga perlu adanya penanganan agar kawasan menjadi lebih baik. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan pada kawasan, rumusan konsep Experiential Learning pada kawasan tersebut berfokus pada dua nilai edukasi yang akan ditanamkan pada kawasan yaitu nilai edukasi lingkungan dan mitigasi bencana. Lingkungan berkaitan dengan edukasi pemahaman masyakarat akan pentingnya menjaga lingkungan, sedangkan mitigasi bencana sebagai edukasi terkait bahaya bencana yang ditimbulkan dan cara menanganinya. Penerapan konsep perancangannya menggunakan empat tipe Experiential Learning yakni audio, visual, kinethic, dan tactile yang diaplikasikan kepada kawasan sungai mati tersebut, baik pada area sungai dan tepi sungainya.
GALERI KOPI DI BANDA ACEH, TEMA: INTANGIBLE METAPHORS: Coffee Gallery in Banda Aceh, Theme: Intangible Metaphors Aurora Vidya; T. Eka Panny Hadinata
Rumoh Vol. 12 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.896 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.168

Abstract

Aceh dan kopi merupakan dua hal yang tak terpisahkan sampai saat ini, menikmati kopi sudah menjadi tradisi yang sangat melekat sebagai gaya hidup masyarakat Aceh. Kebiasaan masyarakat untuk minum kopi, hingga memunculkan warung kopi sehingga menghadirkan icon bahwa  Aceh terkenal dengan kota “1001 warung kopi” dapat dilihat dari banyaknya warung kopi di kota  Banda Aceh. Di Banda Aceh belum terdapat Galeri Kopi yang memiliki berbagai dari kegiatan Pameran Kopi. Galeri Kopi di Banda Aceh ini sebagai media promosi (marketing) kopi, tempat event pameran skala nasional maupun internasional yang terdapat di Aceh, serta memberikan nilai edukasi tentang kopi Aceh bagi masyarakat. Tujuan perancangan ini adalah meningkatkan promosi dan nilai jual kopi Aceh di tingkat nasional dan internasional sehingga kopi Aceh mendunia. Lokasi rancangan berada di Jl. Prof Ali Hasyimi. Pango, Banda Aceh, provinsi Aceh. Galeri Kopi di Banda Aceh menggunakan tema Intangible Metaphors yaitu yang berasal dari filosofi circle of life konsep urat nadi yang merupakan sumber kehidupan, layaknya minuman kopi yang selalu menjadi sumber kebiasaan bagi masyarakat Aceh. Menggunakan bentuk-bentuk garis lingkaran, lengkungan, naik turun serta finishing fasade double skin - dinding mewakili wujud dari urat nadi itu sendiri. Galeri kopi dirancang bermassa tunggal dengan daya tampung 300 orang/hari. Luas lahan 22.791 m² (2.2 Ha). KDB 15.953m². KLB 79.768 m². Fasilitas yang terdapat pada bangunan Galeri Kopi di Banda Aceh yaitu terdapat retail, café outdoor, café indoor, area pameran, display area, roasting area, area pembuatan kopi, area tester, ruang seminar, dan ruang pengelola. Kapasitas Galeri Kopi di Banda Aceh yaitu 300 orang dan bangunan bermassa tunggal.