Rahmini Hadi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis IslamIAIN Purwokerto

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MARO TRADITION IN BANYUMAS COMMUNITY Rahmini Hadi
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 18 No 2 (2020): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.297 KB) | DOI: 10.24090/ibda.v18i2.3909

Abstract

This article discusses the Maro tradition of Banyumas commu- nity, whose existence is endangered by the modernization. Maro is a tradition dealing with agriculture profit share between a landowner and the cultivators by dividing the harvest into two equal parts, half is for the landowner, and the other half is for the cultivator. Maro is commonly applied for dividing the net profit, i.e. the amount of harvest minus the expenses of plantation processes. This tradition enables the low social- economy class to survive as they get the fair benefit for their efforts. The data of this research were collected through interviewing the people en- gaged in the Maro tradition as well as literary studies from previous re- searches related to the topic. This research finds that maro tradition in Banyumas has been popular since the arrival of tarekat in this region. The lands owned by kyai were rented to the cultivators whose payment is given in the form of profit-sharing, called Maro. With such a system, the profit is shared fairly to the cultivators who have done a lot of effort in producing rice. This system meets Islamic values, which emphasize profit sharing based on efforts and work performances. The landowners give freedom to the cultivators, and the net harvest obtained is divided equally between the two parties. Maro system, which was carried out with an oral contract, is considered not to burden the cultivators because of the clear counting system and easy procedures. Social solidarity is also formed in this tradition, it employs people to help the planting and harvesting process, called sambatan.
Manajemen Zakat, Infaq, dan Shadaqah di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banyumas Rahmini Hadi
el-Jizya: Jurnal Ekonomi Islam Vol. 8 No. 2 (2020): el-Jizya : Jurnal Ekonomi Islam
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.221 KB) | DOI: 10.24090/ej.v8i2.3750

Abstract

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011, dalam rangka pengelolaan zakat pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota, Kabupaten Banyumas membentuk BAZNAS untuk meningkatkan perolehan pengumpulan dana zakatnya. Proses reorganisasi BAZNAS Kabupaten Banyumas telah merampingkan pimpinan BAZNAS menjadi lima orang saja. Hasil penelitian menunjukkan, fungsi-fungsi manajemen telah diterapkan BAZNAS dalam pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqah di Kabupaten Banyumas. Proses perencanaan melalui 3 (tiga) langkah, yaitu: menentukan target pengumpulan zakat, infaq, dan shadaqah; menentukan besarnya penyaluran zakat, infaq, dan shadaqah untuk ditasarufkan pada setiap program BAZNAS. Pelaksanaan fungsi pengorganisasian tampak pada struktur organisasi BAZNAS yang menggambarkan pengelompokkan kegiatan sehingga kegiatan yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama. Kepemimpinan pimpinan BAZNAS yang mengarahkan segenap SDMnya melaksanakan program dan kegiatan untuk mewujudakan tujuan BAZNAS merupakan bentuk pelaksanaan fungsi pengarahan. Mekanisme pengawasan dilaksanakan secara internal dan eksternal. Tingkat pendidikan dan pengalaman SDM BAZNAS menjadi faktor pendukung dalam proses perencanaan, fungsi pengorganisasian, pengarahan (actuating), serta memudahkan pengawasan dan koordinasi oleh pimpinan BAZNAS. Jumlah SDM BAZNAS Kabupaten Banyumas yang hanya 21 orang menjadi faktor penghambat ketika dikaitkan dengan luas wilayah Kabupaten Banyumas. Selain itu, jumlah mustahiq yang lebih besar dibandingkan dengan muzakki, kesadaran berzakat masyarakat masih rendah sehingga inisiatif membayar zakat masih rendah, serta sistem manajemen baik secara IT maupun manual yang belum memadai, merupakan faktor penghambat penerapan fungsi-fungsi manajemen, khususnya fungsi pengorganisasian dan pengarahan.