Suhu bumi saat ini semakin meningkat dan sumber energi fosil semakin menipis, hal ini perlu disikapi dengan bijak untuk memperoleh kenyamanan hidup manusia dimasa depan melalui penelitian energi terbarukan. Energi terbarukan adalah energi yang secara ilmiah tidak dapat habis seperti air terjun, energi angin dan energi surya. Energi surya dapat dimanfaatkan memanaskan air. Air panas merupakan kebutuhan manusia untuk air minum dan air mandi. Pada umumnya untuk memperoleh air panas dengan membakar gas. Gas diperoleh dari alam, suatu saat akan habis sehingga dibutuhkan energi alternatif. Negara Indonesia terletak di lintasan matahari maka akan disinari matahari sepanjang hari, sehingga energi panas surya dapat dijadikan enegi alternatif untuk memanaskan air denganA menggunakan kolektor surya. Kolektor surya plat datar dengan sudut kemiringan 300 digunakan untuk menyerap energi panas surya dan oleh kaca penutup kolektor surya, suhu energi surya meningkat dan ditransfer pipa panas yang berisi fluida kerja R134a. Akibatnya suhu fluida kerja R134a naik dan massa jenisnya menurun. Perbedaan massa jenis fluida kerja R134a yang panas dengan dingin, menyebabkan fluida kerja R134a mampu bersirkulasi di pipa panas secara alami dengan prinsip sirkulasi efek termosiphon. Saat fluida kerja R134a bersirkulasi melewati air ditangki air, fluida kerja R134a mentransfer panasnya ke air dan suhu air akan meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tekanan fluida kerja R134a terhadap unjuk kerja pemanas air energi surya sistem pipa panas dan galat perhitungan efisiensi kolektor. Hasil kajian tekanan fluida kerja dapat mempengaruhi unjuk kerja kolektor surya yaitu efisiensi kolektor 15,50% tekanan 90 psi dengan galat 0,88%; efisiensi kolektor 28,24% tekanan 100 psi dengan galat efisiensi 0,07% dan efisiensi kolektor 35,49% tekanan 110 psi dengan galat 1,31%. Hasil kajian adalah efisiensi kolektor terbaik 35,49% tekanan 110 psi dan galat efisiensi kolektor terbaik 0,07%.