Sebagai komitmen pemerintah Indonesia terhadap perubahan iklim untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pemerintah menargetkan pencapaian bauran energi nasional untuk EBT pada tahun 2025 sebesar 23%, dimana sampai dengan tahun 2019 masih tercapai 12,36%. Oleh sebab itu pemerintah melalui PT. PLN membuat program cofiring pada pembangkit batubara. Potensi biomasa di Indonesia yang melimpah dan banyak jenisnya mempunyai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda, sehingga mememerlukan analisa lebih dalam terkait potensi risiko dan kesesuaian dengan tipe boiler pembangkit. Beberapa sample biomasa yang dianalisa dalam penelitian ini adalah wood chip, sawdust, wood pellet, sekam padi (rice husk), cangkang sawit (palm kernel shell), pellet tandan kosong kelapa sawit (empty fruit bunch) yang di cofiing dengan batubara High Volatile BC Bituminous. Tahapan analisa dimulai dari uji laboratorium untuk mengetahui sifat-sifat kimianya dilanjutkan dengan analisa potensi terjadinya slaging, fouling, corrosion, abrasion dan agglomeration pada simulasi pembakaran single fuel dan cofiring 5 dan 10%. Hasil analisa menunjukkan bahwa kandungan sulfur biomasa (0,05-0,09%) jauh lebih kecil dibandingkan dengan batubara (0,11-0,63%), sehingga biomasa mengasilkan emisi SO2 yang lebih rendah dan ramah lingkungan. Nilai kalor biomasa relatif bervariasi tergantung dari jenis biomasanya dan kecenderungan memiliki kandungan volatile matter dan oxygen yang lebih tinggi dibandingkan dengan batubara. Hasil analisa pada single combustion fuel potensi terjadi slaging yang paling tinggi pada cangkang sawit, potensi fouling tinggi pada batubara, sawdust, wood pellet dan pellet EFB mempunyai potensi fouling yang parah. Potensi korosi tinggi terjadi pada sawdust, sekam padi, cangkang sawit dan potensi korosi parah pada pellet EFB. Potensi abrasion parah terjadi pada sekam padi. Sedangkan potensi agglomeration rata-rata dalam range medium, tetapi wood chip, wood pellet dan PKS mempunyai potensi yang mendekati tinggi. Pada pembakaran cofiring potensi terjadinya slaging tinggi terjadi ketika cofiring 10% pellet EFB dengan batubara bituminous C. Potensi terjadinya fouling tinggi pada semua biomasa ketika cofiring 5 dan 10% dengan batubara bituminous BC. Sedangkan untuk potensi terjadinya corrosion, abrasion dan agglomeration dalam range rendah sampai dengan medium. Potensi risiko akan lebih tinggi jika prosentase cofiring lebih tinggi dari 10%.