p-Index From 2021 - 2026
1.554
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Camus, Tubuh dan Sejarah Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.515 KB)

Abstract

Sejak umur 17 tahun, Camus makin menyadari dua hal penting dalam hidupnya: kemiskinan dan kematian. Kemiskinan tak pernah merupakan nasib malang baginya, justru memberinya pelajaran berharga. Kesengsaraan mencegahnya untuk percaya bahwa keadaan baik-baik saja di dunia dan dalam sejarah. Hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan gairah dan rasa sakit, bukan dengan ide-ide. Ia tidak butuh janji masyarakat sempurna kelak kemudian hari, ia tidak perlu janji surga. Camus memperhitungkan kenyataan bahwa kita tidak bisa serba tahu tentang hidup dan dunia.
Camus: Kini dan Abstraksi Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 3 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.162 KB)

Abstract

Wabah pes melanda kota Oran. Ada 500 orang mati setiap minggu. Kota itu kemudian lock down. Selanjutmya, dalam merumuskan pelayanan kesehatan publik untuk melawan pes, sains dan administrasi pemerintahan melihat kasus, angka, titik dalam statistik, bukan orang seorang yang menanggungkan sakit. Korban wabah bahkan hanya kasus, hanya angka dalam penghitungan pasien dan kematian. Manusia dan kemanusiaannya dihentikan. Ada jarak emosional dengan tiap mereka, dengan semua mereka. Bagi Dr. Bernard Rieux, peraturan adalah peraturan, tidak ada dispensasi, karena wabah telah berkecamuk, dan ia hanya dapat melakukan apa yang harus dilakukan. Rambert, sang wartawan, menilai Rieux tidak mempunyai perasaan manusiawi. Manusia yang kongkrit, yang majemuk dan berubah-ubah, hanya bisa masuk dalam satu tatanan yang rapi yang gampang diatur jika ia dirumuskan sebagai sebuah ide. Tapi untuk itu ada yang harus disisihkan: cinta. Melihat pandemi Covid yang berlangsung lebih dari satu tahun lamanya, kiranya novel La Peste dari Albert Camus menjadi relevan untuk dibahas kembali.
Aku Dalam Puisi Sebuah catatan untuk sajak-sajak Toeti Heraty Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 5 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.241 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v5i01.75

Abstract

Puisi hidup dengan hal-hal yang tak akan kekal, tak esensial, hanya aksidental. Tiap kali, yang fana, yang rentan, yang kebetulan dan tak disangka-sangka justru membuat kita (dan puisi) jadi hidup, antara asyik dan murung, dan kita seakan-akan tergugah, berseru. Sifat puisi yang seperti itulah yang membuat Plato mengatakan bahwa ada “perseteruan purba antara puisi dan filsafat”. Demikian yang ditulis Goenawan Mohamad ketika membahas sajak-sajak Toeti Heraty. Selain sebagai penyair dan kolektor seni, almarhumah Toeti Heraty juga seorang filsuf, disertasinya kemudian dibukukan menjadi Aku Dalam Budaya (1984).
Akar Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 7 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 7
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.914 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v7i01.103

Abstract

Pada 18 Juni 2022, di Galeri “Roh”, Jakarta dibuka pameran senirupa Syaiful Aulia Garibaldi, seniman yang bekerja dari Bandung dengan puluhan karya yang sudah dipamerkan di pelbagai galeri di dunia. Goenawan Mohamad diminta membuka dialog dengan Garibaldi. Artikel yang ditulis pada jurnal ini merupakan bagian utama dari percakapan itu. Menurut Goenawan, karya Syaiful Aulia Garibaldi dapat dilihat sebagai kontras terhadap estetika Mondrian. Kehendak Syaiful untuk mengaitkan seni rupanya dengan sains bisa jadi sesuatu yang problematis. Namun menurut Syaiful, kerja Seni dan Sains justru saling menguatkan. Dalam pengalaman berkarya, jawaban atas pertanyaan untuk apa dan apa gunanya berkarya, justru didapatkan dari lingkungan Sains.
Erotika Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.117

Abstract

Seni rupa diasumsikan lahir dari dualisme (subyek/obyek dan melihat/dilihat) di mana subyek merepresi obyek, menentukan ukuran dan ruangnya. Sementara subyek, dengan tatapannya yang menentukan, seakan-akan terlepas dari sudut pandangnya dan tak terpengaruh si obyek. Dürer dan orang sezamannya percaya bahwa keindahan, sebagai kesan visual, bisa dijabarkan sebagai sesuatu yang bisa diukur secara obyektif. Ia percaya bahwa ‘melihat’ bisa menangkap dengan pasti dunia di luar diri subyek. Bagi Descartes, bukan mata itu yang melihat, melainkan rasio, atau sukma. Dengan mengambil ‘hanya dalam beberapa hal saja’ dari realitas, dan menyisihkan yang lain, tubuh ini adalah sebuah tubuh yang diorganisir untuk menghadirkan sebuah ide tertentu. Tak jauh berbeda dari tubuh perempuan-perempuan yang molek dalam kanvas Ingress, tubuh itu pun tak merdeka. Yang-erotik dalam kanvas adalah sesuatu yang diatur: perempuan-perempuan yang dipasang pasif dalam sebuah ruang untuk mentaati sebuah ide (laki-laki) tentang kecantikan seksual. Jernih, mudah terlihat, tapi kaku dan nyaris beku.
Kota, Waktu, Puisi Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 01 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i01.131

Abstract

Ketika individu berubah jadi himpunan, manusia jadi acuh tak acuh kepada kefanaannya sendiri yang sunyi. Waktu tak menimbulkan gentar. Kefanaan itu kini hampir sepenuhnya berada dengan sebuah jarak, di luar diri. Waktu yang menggerogoti usia datang seperti gigi yang gemertak. Orang-orang hanya pasif. Pada gilirannya, kepadatan dan mobilitas menyentuh tempat tinggal itu sendiri. Ketika sebuah ruang tinggal kian dialami sebagai komoditas – yang nilai gunanya telah diubah jadi nilai tukar -- maka keadaan transit jadi lengkap. Tapi justru di dalam keadaan itulah terjadi apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “fantasmagoria dari yang-interior”. Menurut Goenawan Mohamad, dalam tiap keadaan yang tak stabil dan mengalir lekas dari luar, ada dorongan hati manusia untuk menemukan yang tetap dan mengklaim kembali sifat permanen dalam tiap ruang privat.
An Aesthetic of Framing and Deframing: Notes on Takdir Alisyahbana and Latiff Mohidin Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.151

Abstract

Esei membahas karya dan pemikiran Sutan Takdir Alihsjahbana dan membandingkannya dengan Latiff Mohidin, seorang pujangga dan pelukis asal Malaysia. Menurutnya, di tahun-tahun awalnya, Takdir adalah pemberontak. Seperti banyak pendukung modernitas, Takdir melihat masa depan sebagai sesuatu yang tidak lagi diartikulasikan dengan masa lalu. Masa depan menjadi titik fokus dan prinsip pengorganisasian baru. Masalah dengan pandangan ini adalah bahwa ia menempatkan gerakan sejarah pada gambar linier - bahkan tertib. Perjalanan Takdir adalah narasi optimisme yang dapat diprediksi, adanya telos dan kepastian.
Mimpi Itu Asyik Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.175

Abstract

Karya-karya seni rupa Syakieb Sungkar kali ini bermain dengan yang absurd. Dalam deskripsi Anna Sungkar yang pas, “kacau, tidak logis, berantakan, dan salah tempat.” Lukisan Syakieb bergerak antara fantasi dan bukan fantasi, warna dan bentuk yang ramai, ganjil, provokatif, becanda, berolok-olok.
Pasca-humanisme, Puisi, dan Chat-GPT Goenawan Mohamad
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.187

Abstract

Ada keyakinan bahwa manusia berada unggul di atas alam, ia penakluk dunia. Tapi kemudian datang pemikiran baru bahwa humanisme yang mengunggulkan manusia itu digugat. Mulai diragukan asumsi manusia sebagai pusat dan sumber sejarah. Manusia itu hasil bentukan wacana yang belum lama umurnya, dan mungkin tak lama lagi bisa berakhir. Namun Transhumanisme merayakan prestasi pengukuhan manusia, dan kemampuan memperkuat dirinya dengan menggunakan teknologi tinggi— sebuah ide yang tersirat dalam imajinasi dan eksperimen cyborg. Dengan bersemangat “para transhumanis” ingin meningggalkan tubuh mereka untuk mereproduksi “manusia” sebagai produk teknologi tinggi.