p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Bornedal atas Pandangan Nietzsche tentang Pembentukan Nilai Baik dan Jahat Y. Adi Wiyanto
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.678 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.57

Abstract

Nietzsche berpandangan bahwa pembentukan nilai baik dan nilai jahat dapat ditelusuri dari perbedaan kelas sosial di peradaban kuno, khususnya Yunani, yaitu antara kelas atas (kaum tuan) dan kelas bawah bawah (kaum budak). Dari perbedaan kelas tersebut, Nietzsche mendefinisikan nilai baik sebagai semua ciri dan sifat dalam kaum tuan, sedangkan nilai buruk adalah semua ciri dan sifat dalam kaum budak. Adapun nilai jahat adalah hasil pembalikan nilai baik dalam kaum tuan yang dilakukan oleh kaum budak. Pembalikan nilai ini dapat terjadi karena ressentiment. Ressentiment ini juga menghasilkan nilai baik bagi kaum budak. Bornedal menganalisis bahwa proyek filsafat Nietzsche dalam pembentukan nilai baik dan nilai jahat tersebut terlalu menyederhanakan proses mental, dorongan, dan penilaian. Menurut Bornedal, oposisi antara baik dan jahat tidak pernah stabil, definisi baik dan jahat saling melengkapi, serta baik dan jahat merupakan oposisi relatif yang terkait dengan pembentukan makna baik dan jahat itu sendiri. Selain itu, baik dan jahat juga saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Nietzsche: “Subyek yang Terbelah” sebagai Basis Subyek Moral Y. Adi Wiyanto
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.150

Abstract

Moral tidak dimaknai secara sempit sebagai kewajiban moral seperti dalam pandangan Kant, tetapi sebagai “kewajiban subyek yang terbelah”. Sebagai contoh, kewajiban untuk membunuh, yang jelas-jelas bertentangan dengan moral Kantian, harus ditaati oleh prajurit di medan perang demi mempertahankan negaranya. Dalam kasus itu, si prajurit mengalami dirinya sebagai “subyek yang terbelah”. Dalam aforisme Nietzsche diperlihatkan bahwa yang dilakukan oleh prajurit sudah sesuai dengan kaidah moral. Namun, subyek diam-diam memiliki keinginan pribadi yang egoistis: prajurit ingin hidup. Subyek akhirnya terbelah. Dalam situasi terbelah inilah, subyek berada dalam tegangan: bersikap egois atau tidak.