p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rasa - Surat-surat Ayu Utami Ayu Utami
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1968.692 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.90

Abstract

Ayu Utami menuliskan argumentasi bagaimana ia menilai tiga karya pilihan dari 10 karya terbaik pada Hadiah Sastra Rasa 2022. Hadiah Sastra Rasa ditujukan untuk para penulis pemula. Menurutnya, memberikan Hadiah Sastra merupakan cara merawat dan memelihara sastra Indonesia. Esei mengenai karya-karya Sasti Gotama, Thoriq Aufar dan Hilmi Faiq, merupakan kritik sastra yang menarik, walau ia mengaku pemenang sayembara merupakan pilihan personal. Namun metodologinya dalam menulis kritik sastra telah memberikan kesejukan dalam padang tandus tulisan serius tentang sastra di negeri ini.
Membaca Gurindam daripada Nietzsche Ayu Utami
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.115

Abstract

Esei ini membicarakan tentang Nietzsche yang filsuf sekaligus sastrawan dan pemusik. Prinsip estetika Nietzsche yang pertama adalah mudah dan ringan. Mudah dan ringan menurut kriteria Nietzsche sendiri. Sesuatu yang hanya merangsang syaraf dan indera dan tak lebih dari itu tidak masuk hitungannya — seperti musik Wagner. Menurutnya, keindahan adalah untuk sedikit orang. Ia juga tidak percaya ada keindahan an sich. Keindahan pada dirinya sendiri adalah suatu makhluk mitologis, sejenis dengan idealisme. Padahal, estetika harus berkelindan dengan prinsip biologis. Prinsip biologis yang ia maksud adalah adanya gerak hidup yang naik dan gerak hidup yang turun (degenerasi). Dari situ, ada estetika yang merayakan hidup, yaitu estetika klasik. Dan, ada estetika yang membenci hidup, atau estetika dekaden, yaitu estetika modern yang ia saksikan. Kasus Wagner baginya adalah kasus dekadensi Eropa modern. Ia mencerca gaya Wagner sebagai brutal, palsu, tidak canggih, dengan membandingkannya pada karya komponis Prancis George Bizet, Carmen, yang ia tonton sedikitnya sampai dua puluh kali.