Haris Fatwa Dinal Maula
Gadjah Mada University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Guide Them Back To The Right Path: Critical Discourse Analysis of the Ahmadiyah Community in West Nusa Tenggara Cyber Media Haris Fatwa Dinal Maula
Jurnal Studi Sosial Keagamaan Syekh Nurjati Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Rumah Moderasi Beragama of Syekh Nurjati State Islamic Institute Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.142 KB)

Abstract

Pluralitas agama dan kepercayaan di Indonesia rupanya tidak berbanding lurus dengan kemampuan negara dalam mengelolanya. Hal itu dibuktikan dengan masih maraknya konflik horizontal antar aliran keagaman. Salah satu isu yang relevan untuk dikaji adalah tentang aliran sesat di Indonesia. Kelompok Ahmadiyah menjadi kasus yang representatif karena menjadi pihak yang paling sering merasakan diskriminasi dan persekusi di Indonesia. Penelitian ini mengambil satu kasus persekusi Ahmadiyah yang terjadi di Lombok Timur pada bulan Mei 2018 sebagai titik berangkat bagaimana media membingkai Ahmadiyah. Tujuan penelitian ini adalah menginvesitigasi motif ideologis media massa siber NTB dan bagaimana media memproduksi wacana tentang Ahmadiyah dalam konteks tragedi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendayagunakan perangkat analisis wacana kritis Norman Fairclough. Penulis menganalisis berita di tiga media siber NTB, radarlombok.co.id, suarantb.com, dan lombokita.com dari Mei hingga September 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga media massa sedang melakukan mediatisasi agama yang berdampak pada dua konsekuensi, pertama; ketiga media massa justru berkontribusi dalam melanggengkan stigma kesesatan terhadap Ahmadiyah yang berdampak pada pelanggaran hak jemaat Ahmadiyah dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan. Kedua; Dalam hal ini, upaya advokasi Ahmadiyah dibingkai dalam wacana visi daerah NTB terutama terkait pembangunan dan reputasi Nusa Tenggara Barat. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang ketiga media massa itu sendiri yang cenderung mendukung visi misi negara.