Hamdan Akromullah
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ARTI NILAI DALAM SENI Akromullah, Hamdan
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.868 KB)

Abstract

Nilai merupakan suatu topik yang tidak habis-habisnya dan selalu relevan untuk diperbincangkan. Begitu juga halnya kaitan nilai dengan seni. Dilihat dalam perjalanan sejarah filsafat, sudah banyak sumbangan pemikiran para filsuf yang berkaitan dengan nilai, dan ini juga menandakan bahwa nilai adalah topik yang tidak pernah-pernah habisnya untuk diperbincangkan.Adanya jurang pemisah antara subjek di satu sisi dengan objek di sisi yang lain merupakan titik awal bagi munculnya perdebatan yang berkaitan dengan nilai. Subjektivisme sebagai aliran yang mewakili subjek sebagai titik tolak dalam nilai, menegaskan bahwa nilai-nilai, seperti kebaikan, kebenaran, keindahan, tidak ada dalam real objektif, melainkan merupakan perasaan-perasaan, sikap-sikap pribadi, dan merupakan penafsiran atas kenyataan. Di lain pihak objektivisme, sebagai aliran yang mendukung objek sebagai titik tolak dalam nilai, menegaskan bahwa nilai-nilai, kebaikan, kebenaran, keindahan, ada dalam dunia nyata dan dapat ditemukan sebagai entitas-entitas, kualitaskualitas, atau hubungan nyata dalam bentuk yang sama sebagaimana dapat ditemukan objek-objek, kualitas-kualitas, atau hubunganhubungan. Selanjutnya pendukung teori objektivisme juga menegaskan bahwa nilai-nilai adalah objektif dalam arti bahwa nilai-nilai itu dapat didukung oleh argumentasi cermat dan rasional konsisten sebagai yang terbaik dalam situasi itu.
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN: MENGHADIRKAN TEOLOGI DIALEKTIS MENGHADAPI MASA DEPAN AGAMA DAN MANUSIA Akromullah, Hamdan
JURNAL AL-AQIDAH Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/ja.v13i2.3364

Abstract

This article looks at how the early development of Islamic theology loaded with political nuances is such that dialectically gave rise to many theological schools. On the other hand the development of the idea that value-free science has brought about the bankruptcy of science itself. So much so that in the next development science demands moral values in its development. This is what experts suspect that the 21st century is the century of religion. Where it is expected at that time the active role of religion can determine the next human development. The approach used is historical philosophical, which describes how the development of Islamic theological thought then analyzes and elaborates it with the objective conditions of recent science in search of solutions. In conclusion, the dialogical relationship between the various branches of science is a hard urgent demand. Cataloging theology with social sciences such as anthropology, with a phenomenological approach. It is expected to create a paradigm of dialogical theological thought, which is an inclusive understanding. So that the difference of thought that exists is not used as an excuse as a trigger for external conflict let alone interen, as had happened in the middle of Islam. Even further it will be a solution to the problems that occur in the course of science specifically and the continuity of religion and human life.
DIMENSI EPISTEMOLOGI DALAM PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Hamdan Akromullah
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v20i1.1

Abstract

Tulisan ini membahas tentang Dimensi Epistemologi dalam Pemikiran FazlurRahman. Di akhir tulisan ini disimpulkan bahwa karakteristik mendasar gerakan neomodernismeadalah terletak pada perhatiannya yang dalam pada tradisi Islam. Metodologi, akal, dan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah persoalan-persoalanepistemologis yang utama dalam neo-modernisme Fazlur Rahman. Menurut FazlurRahman ilmu pengetahuan itu adalah benar, tergantung pada penggunaannya.Penggunaannya yang menjadikan ilmu itu benar dan salah. Sumbangan terbesar FazlurRahman bagi umat Islam adalah perombakan konsepsi umat Islam tentang epistemologiyang telah membuat pemikiran umat Islam rigid, puritan, dan dikotomis dalammemecahkan persoalan yang mengakibatkan umat Islam sulit untuk berpikir sintesis,elastis, dan pragmatis. Fazlur Rahman telah memberikan alternatif berpikir bagi kaummuslimin.
KEBENARAN ILMIAH DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU (Suatu Pendekatan Historis dalam Memahami Kebenaran Ilmiah dan Aktualisasinya dalam Bidang Praksis) Hamdan Akromullah
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v21i1.246

Abstract

Bergumulan manusia dalam kehidupannya guna mencari dan menemukan kebenaran yang esensial melahirkan beberapa pertanyaan mendasar, yaitu apakah kebenaran  itu  sungguh  ada?  Dan  kalau  ada,  apakah  kebenaran  itu?  Bagaimanakah manusia memperolehnya? Bagaimanakah sifat dari kebenaran itu sendiri, yaitu apakah dia bersifat relatif ataukah bersifat mutlak? Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berkembang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi manusia itu sendiri. Adalah berawal dari masa Yunani Kuno yaitu salah satu tokohnya Socrates, sekalipun secara tidak langsung, yang telah    meletakkan dasar-dasar kebenaran ilmiah dengan pengandaiannya bahwa ada kebenaran objektif, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik. Kemudian ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Kemudian  dilanjutkan  oleh  muridnya  Plato  yang  mengatakan  bahwa  kebenaran  itu sebagai ketidaktersembunyian adanya tidak dapat dicapai manusia selama berada di dunia ini. Dengan kata lain, menurut Plato kebenaran adalah sesuatu yang terdapat pada apa yang dikenal atau pada apa yang dikejar untuk dikenal. Dari perdebatan antara guru dan murid  ini  sedemikian  rupa  telah  menebarkan  sikap  kritis  ,  terbuka,  dan  dialogis  di kalangan filsuf yang terus ditumbuh kembangkan sehingga membentuk suatu sejarah perkembangan filsafat yang dapat di simpulkan kepada yang sifatnya pertama secara linier  (garis  lurus)  menuju  kepada  progresifisme.  Kedua    perkembangan  filsafat  itu bersifat dialektis. Kemudian ketiga perkembangan yang secara berputar (sirkuler), merupakan pengulangan-pengulangan. Tulisan ini mencoba menyajikan apa dan bagaimana kebenaran ilmiah itu, dengan menggunakan pendekatan historis mulai dari zaman Yunani Kuno sampai zaman Kontemporer. Dengan demikian selain melihat apa dan bagaimana kebenaran ilmiah itu dalam tulisan ini penulis akan menyajikan beberapa pemikiran para filsuf pada zamannya berkenaan dengan kebenaran dalam rentang sejarahnya. Kemudian bagaimanakah hubungan antara kebenaran ilmiah itu dengan ilmu pengetahuan dan bidang praksis.