Reaksi adat sebagai pemulihan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas (Keraton Sambas) berupa upacara adat Antar Ajong, Tepung Tawar, dan Mandi Belulus yang bersifat tradisional dan religius- magis secara turun-temurun dilaksanakan. Pada dasarnya upacara adat tersebut bertujuan untuk mendo’akan kerluarga, kerabat, dan masyarakat dengan harapan dapat menciptakan suasana hidup aman, selaras, dan sejahtera, terhindar dari gangguan ghaib, serta bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat apabila terganggu. Adapun rumusan masalah pada penulisan ini adalah apakah upacara adat sebagai reaksi terhadap pemulihan keseimbangan masih dilaksanakan pada kerabat, keturunan, dan masyarakat Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas (Keraton Sambas). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Empiris dengan pendekatan Deskriptif Analisis yakni penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan keadaan sebagaimana mestinya yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, sampai mengambil suatu kesimpulan terakhir berhubungan dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut, reaksi adat sebagai pemulihan keseimbangan dalam kehidupan kerabat, keturunan dan masyarakat Keraton Sambas adalah sebagai sarana untuk memohon keselamatan, dan meminta rezeki, pada pelaksanaannya sudah mengalami perubahan. Faktor penyebab perubahan upacara adat antar ajong, tepung tawar, dan mandi belulus ini adalah faktor agama yang tidak membenarkan diantaranya yang berbau mubazir dan syirik-musyrik, kemampuan financial kurang karena biaya pelaksanaan upacara adat tersebut terlalu besar disetiap pelaksanaannya, serta kemajuan tingkat pola fikir masyarakat yang modern, kemajuan zaman dan tekhnologi hal inilah yang menyebabkan upacara adat tersebut mengalami perubahan. Akibat tidak dilaksanakannya upacara adat antar ajong, tepung tawar, dan mandi belulus menurut tradisi asli Keraton Sambas ini tidak adanya sanksi adat atau tidak ada bayar uang dan memotong hewan bagi kerabat, keturunan dan masyarakat yang tidak melaksanakan upacara adat tersebut menurut tradisi asli Keraton Sambas. Sedangkan upaya yang dilakukan Fungsionaris adat, kerabat dan masyarakat Keraton tidak dilaksanakannya pelaksanaan upacara adat antar ajong, tepung tawar, dan mandi belulus menurut tradisi asli Keraton Sambas yaitu dengan melakukan reaksi adat untuk memulihkan keseimbangan yang terganggu akibat pelaksanaan upacara adat tersebut tidak dilaksanakan menurut tradisi asli Keraton Sambas, agar hal-hal yang tidak diharapkan seperti malapetaka, jauh dari rezeki, dan terganggu oleh gangguan ghaib terhindar atau terelakkan. Terlepas daripada itu semua tergantung pada Kuasa Allah Swt.  Keyword : Reaksi Adat, Pemulihan Keseimbangan, Kesultanan Alwatzikhoebillah, Keraton Sambas.