Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL JAHE MERAH TERHADAP PEMBERIAN NAUNGAN ALAMI PADA TANAH GAMBUT ARI DIPINTO DIPINTO; Darussalam Darussalam; Iman Suswanto Suswanto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38608

Abstract

Intensitas naungan merupakan aspek lingkungan yang berperan penting bagi tanaman jahe yang perlu diteliti guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan intensitas cahaya yang terbaik dari tanaman naungan terhadap pertumbuhan dan  hasil tanaman jahe merah pada tanah gambut.Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari  2019 sampai Juni di Sungai Selamat Pontianak Utara. Rancangan percobaan adalahmenggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Analisis keragaman denganuji beda nyata jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 5%, dengan 5 perlakuan komposisi tanaman naungan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, dan setiap ulangan terdiri dari 15 tanaman jahe.Adapun perlakuan tanaman naungan yang dimaksud adalah komposisi naungan tanaman pare. n0= Tanpa naungan, n1= Ditanam 4 tanaman/2m2, n2= Ditanam 6 tanaman/2m2,n3 = Ditanam 8 tanaman/2m2, n4 = Ditanam 10 tanaman/2m2. Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman(cm), berat kering tanaman(g), jumlah daun(helai), jumlah anakan per rumpun(tunas) danberat rimpang per rumpun(g).Hasil penelitian menunjukan perlakuan  tanaman naungan  n4  dengan intensitas cahaya 40% pada pertumbuhan meningkatkan tinggi tanaman, berat kering dan berat segar tanaman jahe. Pada hasil perlakuan n0 dengan intensitas cahaya 100% meningkatkan jumlah daun dan berat rimpang. Tanaman jahe merupakan tanaman yang memerlukan naungan pada pertumbuhan dan memerlukan intensitas cahaya yang penuh pada hasil untuk mendapatkan produksi yang baik.
Kajian Formulasi Mutan Trichoderma sebagai Kandidat Agens Pengendali Hayati Hawar Beludru Septobasidium pada Lada Iman Suswanto Suswanto
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.619 KB) | DOI: 10.26418/plt.v4i2.9373

Abstract

Hawar beludru Septobasidium adalah penyakit utama di sentra lada Kalimantan Barat. Upaya pengendalian penyakit dengan Trichoderma spp. memberikan harapan besar. Trichoderma spp. memiliki keragaman yang tinggi, adaptif terhadap lingkungan ekstrim, mekanisme antagonis bekerja simultan antara antibiosis, hiperparasit dan kompetisi untuk beragam patogen. Media propagasi Trichoderma spp. juga mudah diperoleh dari lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan mengkaji isolat mutan T. harzinum sebagai bahan aktif biofungisida, pembuatan formulasi granuler, kemampuan bertahan dan efektifitas biofungisida di lapangan. Kegiatan meliputi perbanyakan mutan unggul Trichoderma spp isolat Th-E1002, serangkaian uji untuk konfirmasi kemampuan antagonis, degradasi kitin, sporulasi dan pertumbuhan miselium. Pembuatan formulasi granular dengan bahan pembawa seperti tepung beras ketan, bawang putih dan lengkuas. Pengujian kualitas biofungisida melalui aplikasi di lapangan dan kelayakan selama masa penyimpanan. Hasil penelian menunjukkan agens hayati yang baik dapat diperoleh melalui seleksi yang mempertimbangkan berbagai cara kerja agens hayati baik berupa antibiosis, kompetisi maupun hiperparasit. Formulasi biofungisida granuler berbentuk keping berbahan aktif isolat mutan T. harzianum Th-1002 memiliki berat 5 gr, kepadatan konidia 3,5 x 106/keping dan viabilitas konidia mencapai 80%. Masa pakai terbaik dari biofungisida granuler dalam kantung plastik hanya mencapai 1 bulan. Dosis aplikasi 1 tablet/liter digunakan 2-3 kali mampu menghambat Septobsidum spp mencapai 70-80%. Kata kunci: hormon organik, pupuk cair organik, stum mata tidur karet. Kata kunci: biofungisida, hawar beludru, lada.