Hanif Fathoni
Fakultas Tarbiyah Institut Studi Islam Darussalam Gontor

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gaya Bahasa Dalam Syair “Al-i’tira>f” Karya Abu Nuwas: Sebuah Analisis Stilistik Fathoni, Hanif
AT TADIB Vol 7, No 2 (2012): Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya bahasamerupakan cara yang digunakan pengarang dalam memaparkangagasan sesuai dengan tujuan dan efek yang ingin dicapainya. Dalam kreasipenulisan sastra, efek tersebut dilakukan untuk pemerkayaan makna, penggambaranobyek dan peristiwa secara imajinatif, maupun pemberian efek emotiftertentu bagi pembacanya. Wahana yang digunakan untuk memaparkan gagasandengan berbagai efek yang diinginkan tersebut bukan hanya mengacu padalambang kebahasaan melainkan juga pada berbagai macam bentuk sistem tandayang potensial dapat digunakan untuk menggambarkan gagasan dengan berbagaimacam kemungkinan efek estetis yang ditimbulkannya. Kaitan gaya bahasadengan bahasa, genre maupun budaya itu berarti gaya sangat erat kaitannyadengan pengarang, sebab pengarang itulah yang menciptakannya. Oleh karenaitu, sangat wajar kalau di katakan le style c’est de l’homme meme (gaya bahasa merupakancerminan sang penutur bahasa).Diantara karya sastra Arab yang monumental di Indonesia adalah puisiAbu Nuwas khususnya karyanya yag berjudul “al-I’tiraf ”. Syair “I’tiraf ” iniadalah sajak-sajak yang diyakini dicipta oleh Abu Nuwas sebelum ia wafat.Jenis puisi ini dipilih karena cukup terkenal di kalangan pesantren di Indonesiakarena maknanya yang begitu berkesan dikalangan mereka. Namun benarkahpuisi ini hasil karya Abu Nuwas?, untuk itu perlu kiranya pembahasan tentanggaya bahasa puisi Abu Nuwas ini dikaji lebih dalam.
Pemikiran Pendidikan Islam Syekh Ahmad al-Qushashi dan Relevansinya di Era Modern Fathoni, Hanif
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 2 No. 2 (2022): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v2i2.2687

Abstract

Islamic education of Indonesia cannot be separated from the role of previous middle eastern scholars. Sheikh Ahmad al-Qushāshī is one of the middle eastern scholars who influenced previously the thinking of Indonesian scholars, whose students took many roles in Indonesian history. Some of the problems discussed in this study are the objectives, methods, educational curriculum and patterns of teacher-student interaction according to Sheikh Ahmad al-Qushāshī and their relevance to modern education in Indonesia. This research is a library research with analytical descriptive method, with several literature sources examined such as as-Simth al-Majid, Manżūmah al-Tawhīd, and other sources. The data analysis technique used is content analysis initiated by Shelley and Krippendorff. The results of research on the educational thinking of al-Qushāsh are briefly as follows: the purpose of education according to al-Qushāsh is to unite God, and become a pious servant. The educational curriculum is a curriculum based on monotheism which is divided into common, special and very special. The al-Qushāshī curriculum approach has an integration pattern between exoteric and esoteric sciences. The method of al-Qushāshī education is the exemplary method, bai'at-talqīn, al-Ŝuhbah and al-ta'dīb, taslīm, and Ilbās. The pattern of teacher-student interaction has a familial pattern of interaction (teachers act as parents, educators, and student guides), so that his thoughts are quite relevant to the modern era.
KODIFIKASI HADIS DALAM PANDANGAN SUNNIY DAN SHI’IY Fathoni, Hanif
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.252 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.10

Abstract

Kodifikasi hadis memerlukan waktu yang cukup panjang dan diwarnai persaingan politik antar sekte atau kelompok dalam islam. Persaingan politik ini menimbulkan perpecahan pemikiran umat Islam menjadi dua kelompok besar yaitu Ahlu al-Sunnah (Sunniy) dan Shi’iy (pengikut Ali). Sunniy dan syiah sering berbenturan dalam memahami hadis. Keduanya memiliki perbedaan yang berakar dari pemahaman konsep hadis atau sunnah, walaupun antara Sunniy dan Shi’iy tidak terdapat perbedaan pandangan dalam menilai kedudukan hadis sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran. Penelitian akan mengkaji tentang kodifikasi hadis dari sudut pandang Sunniy dan Shi’iy. Selanjutnya, data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan historis dan perbandingan. Menurut kalangan Sunniy, periwayatan hadis dalam keadaan belum tertulis dan terkodifikasikan dengan baik ketika ditinggal wafat Nabi Muhammad SAW. Beliau belum memerintahkan sahabat untuk melakukannya sekaligus menghindari tercampurnya al-Quran dan Hadis. Bagi Shi’iy, kodifikasi hadis sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan bahkan mereka meyakini bahwa Sayyidina Ali ibn Abi T{alib telah menulisnya.Kata Kunci: Hadis, Sunniy, Shi’ahAbstractThe codification of the hadith took a long time and was colored by political competition between sects or groups in Islam. This political competition led to a split in Muslim thought into two major groups, namely Ahlu al-Sunnah (Sunniy) and Shi'iy (followers of Ali). Sunni and Shi'a often clash in understanding the hadith. Both have differences that are rooted in the understanding of the concept of hadith or sunnah, although between Sunniy and Shi'iy there are no different views in assessing the position of hadith as the second source of law after the Koran. This research will examine the codification of hadith from the Sunniy and Shi'iy point of view. Furthermore, the collected research data were analyzed using historical and comparative approaches. According to Sunniy circles, the narration of the hadith was not written and codified properly when the Prophet Muhammad died. He has not ordered his friends to do so and at the same time avoid mixing the Koran and Hadith. For Shi'iy, the codification of hadith has existed since the time of Rasulullah SAW and they even believe that Sayyidina Ali ibn Abi Talib wrote it.Keywords: Hadith, Sunniy, Shi’ah