Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Masjid Pulo Kameng Akulturasi dan Toleransi Masyarakat Aceh Masmedia Pinem
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 20, No 1 (2013): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/analisa.v20i1.8

Abstract

abstrakPenelitian ini adalah penelitian sejarah, yang berusaha mengungkap Masjid kuno Pulo Kameng sebagai salah satu artefak penting peninggalan Islam di Aceh Selatan. Metode yang di-pakai adalah kuantitatif dengan model pendekatan historisarkeologis. Pendekatan ini diperlukan untuk mendeskripsikan sejarah dan struktur fisik bangunan masjid kuno Pulo Kemeng yang kaya dengan nilai filosofis. Hasil penelitian ini dihasilkan yaitu:Pertama, Masjid Pulo Kameng didirikan pertama kali pada masa kerajaan Teuku Kejruen Amansyah, pada tanggal 28 Ramadan 1285 H/12 Januari 1869 M. Pembangunan tersebut melibatkan beberapa kampung yaitu Kampung Paya, Kampung Purut, Kampung Kluet, Kampung Krueng Batu, Kampung Ruwak, dan Kampung Tinggi. Kedua, Arsitektur masjid mendapatkan pengaruh kebudayaan Cina dalam bentuk kubah berbentuk pagoda, Hindu-Budha dengan ciri atap tumpang, dan berakulturasi dengan tipe bangunan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa secara filosofis masyarakat Aceh pada masa lalu toleran dan akomodatif dengan perbedaan etnis dan budaya.Kata Kunci: Sejarah, Akulturasi, Masjid Pulau Kameng, Aceh Selatan. abstractThis is an historcal study which discusses an ancient mosque Pulo Kameng as one of the important artifacts of Islamic heritages in South Aceh. It applies qualitative method with historical-archeological approach. The approach is necessary to describe history and physical architecture of the mosque Pulo Kameng which is richof philosophical values. The results are: firstly, Pulo Kameng Mosque was established in the period of Teuku Kejruen Amansyah, on the 28th of Ramadan 1285 H/12 January 1869 M. The process of the establishment involved several villages, they are Kampung Paya, Kampung Purut, Kampung Kluet, Kampung Batu Krueng, Kamoung Ruwak, and Kampung Tinggi. Secondly, the architecture of the mosque can be regarded as the picture of how the Acehnese tolerated and accomodated various ethnic and cultural differences due to the fact that the kubah (the top of the mosque) and he roof are characterized by various cultures: Chinese, Hinduism, Buddhist and the local ones. Keywords: History, Aculturation, Pulau Kameng Mosque, South Aceh.---------------------------------------------------------------------------------Tulisan ini pernah dipresentasikan pada acara “Seminar Rumah Ibadah Kuno”Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, di Hotel Bumi Wiyata Depok, 16-18 November2011.*
Sejarah Masjid Al-Falah Kiai Modjo Tondano-Sulawesi Utara masmedia pinem
Tsaqofah Vol 13 No 1 (2015): June 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i1.3390

Abstract

Tulisan singkat ini difokuskan pada upaya mengungkap asal-usul berdirinya Masjid Kiai Modjo, untuk mengetahui aristektur bangunan dan makna filosofisnya, serta untuk mengetahui sejarah perkembangan Masjid Kiai Modjo baik dari sisi bangunan fisik maupun dari sisi kegiatan ke­agamaannya. Salah satu peninggalan kesejarahan yang masih bisa disaksikan dari Kiai Modjo adalah bangunan masjid yang megah di Tondano. Masjid ini merupakan masjid yang memiliki nilai kesajarahan yang sangat tinggi di Sulawesi Utara. Meskipun pada awalnya keberadaan mereka di wilayah ini bukan untuk menyebarkan Islam, tetapi secara kasat mata mereka telah memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di ujung timur Indonesia. Dari perspektif arkeologi keagamaan, masjid ini di samping masih memiliki elemen-elemen asli darimasanya, juga menjadi bukti sejarah penting dalam mempertahankan dan memperjuangkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Kata Kunci: Masjid Al-Falah Kiai Modjo, Kampung Jawa Tondano, UU Cagar Budaya No. 11 Th. 2010.
Masjid Pulo Kameng Akulturasi dan Toleransi Masyarakat Aceh Masmedia Pinem
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 20, No 1 (2013): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.646 KB) | DOI: 10.18784/analisa.v20i1.8

Abstract

abstrakPenelitian ini adalah penelitian sejarah, yang berusaha mengungkap Masjid kuno Pulo Kameng sebagai salah satu artefak penting peninggalan Islam di Aceh Selatan. Metode yang di-pakai adalah kuantitatif dengan model pendekatan historisarkeologis. Pendekatan ini diperlukan untuk mendeskripsikan sejarah dan struktur fisik bangunan masjid kuno Pulo Kemeng yang kaya dengan nilai filosofis. Hasil penelitian ini dihasilkan yaitu:Pertama, Masjid Pulo Kameng didirikan pertama kali pada masa kerajaan Teuku Kejruen Amansyah, pada tanggal 28 Ramadan 1285 H/12 Januari 1869 M. Pembangunan tersebut melibatkan beberapa kampung yaitu Kampung Paya, Kampung Purut, Kampung Kluet, Kampung Krueng Batu, Kampung Ruwak, dan Kampung Tinggi. Kedua, Arsitektur masjid mendapatkan pengaruh kebudayaan Cina dalam bentuk kubah berbentuk pagoda, Hindu-Budha dengan ciri atap tumpang, dan berakulturasi dengan tipe bangunan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa secara filosofis masyarakat Aceh pada masa lalu toleran dan akomodatif dengan perbedaan etnis dan budaya.Kata Kunci: Sejarah, Akulturasi, Masjid Pulau Kameng, Aceh Selatan. abstractThis is an historcal study which discusses an ancient mosque Pulo Kameng as one of the important artifacts of Islamic heritages in South Aceh. It applies qualitative method with historical-archeological approach. The approach is necessary to describe history and physical architecture of the mosque Pulo Kameng which is richof philosophical values. The results are: firstly, Pulo Kameng Mosque was established in the period of Teuku Kejruen Amansyah, on the 28th of Ramadan 1285 H/12 January 1869 M. The process of the establishment involved several villages, they are Kampung Paya, Kampung Purut, Kampung Kluet, Kampung Batu Krueng, Kamoung Ruwak, and Kampung Tinggi. Secondly, the architecture of the mosque can be regarded as the picture of how the Acehnese tolerated and accomodated various ethnic and cultural differences due to the fact that the kubah (the top of the mosque) and he roof are characterized by various cultures: Chinese, Hinduism, Buddhist and the local ones. Keywords: History, Aculturation, Pulau Kameng Mosque, South Aceh.---------------------------------------------------------------------------------Tulisan ini pernah dipresentasikan pada acara “Seminar Rumah Ibadah Kuno”Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, di Hotel Bumi Wiyata Depok, 16-18 November2011.*