Noor Wijayahadi
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN ASAP CAIR (LIQUID SMOKE) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA KELINCI (ORYCTOLAGUS CUNICULUS) Candra Farida; Ratna Damma Purnawati; Noor Wijayahadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.644 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23299

Abstract

Latar Belakang : Asap cair dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan luka sayat karena mengandung senyawa kimia seperti fenol dan asam asetat yang berperan sebagai antioksidan, antiseptik dan antibakteri. Kedua senyawa tersebut dapat menurunkan pH sehingga dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme, menghambat oksidasi lemak, mencegah oksidasi lipida dengan menstabilkan radikal bebas serta meningkatkan aliran darah ke jaringan parut dan meminimalkan bekas luka. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian asap cair dosis bertingkat terhadap proses penyembuhan luka sayat pada kelinci. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan Post Test Only Control Group Design terhadap 6 ekor kelinci yang kemudian diambil secara acak dan dibagi menjadi 4 kelompok. Kecepatan penyembuhan luka sayat diukur dengan menghitung panjang serta mengamati gambaran makroskopis dan mikroskopis luka sayat yang dinilai dengan kriteria modifikasi Nagaoka. Hasil : Data pengukuran panjang luka sayat diolah secara statistik dengan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann Whitney, sedangkan untuk gambaran makroskopis dan mikroskopis luka sayat diolah dengan uji nonparametrik. Pada panjang luka, didapatkan hasil yang berbeda bermakna (p<0,05) antara kelompok aquades dengan povidone iodin, kelompok aquades dengan asap cair 6% serta kelompok povidone iodin dengan asap cair 3%. Pada gambaran makroskopis dan mikroskopis luka didapatkan hasil yang berbeda tidak bermakna (p>0,05) pada semua kelompok. Kesimpulan : Pemberian asap cair dosis bertingkat menyebabkan terjadinya perubahan gambaran makroskopis dan mikroskopis penyembuhan luka sayat dengan urutan hasil terbaik didapatkan mulai dari povidone iodin, asap cair 6% kemudian asap cair 3%Kata Kunci : Luka sayat, asap cair, povidone iodin, gambaran makroskopis dan mikroskopis penyembuhan luka
EFEK REMOTE ISCHEMIC PRECONDITIONING TERHADAP KADAR CKMB TIKUS WISTAR PASCA INFARK MIOKARD YANG DIINDUKSI ISOPROTERENOL Muhammad Fa&#039;iz Ramadhan; Novi Anggriyani; Noor Wijayahadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.998 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15492

Abstract

Latar Belakang : Infark miokard adalah salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian. Infark miokard dapat terjadi karena adanya iskemia berkepanjangan pada otot jantung. Salah satu indikator terjadinya infark miokard adalah CKMB. Terdapat suatu iskemia singkat dan sementara suatu organ sebelum infark miokard yang dapat melindungi otot jantung dari kerusakan yang disebut RIPC.Tujuan : Mengetahui efek RIPC terhadap kadar CKMB tikus pasca infark miokard.Metode : Penelitian eksperimental murni dengan rancangan randomized posttest only control group design. Sampel sebanyak 21 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit (P1), dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit (P2). Ketiga kelompok tersebut diinjeksi dengan isoproterenol untuk menginduksi infark miokard. Kadar CKMB diukur menggunakan spektrofotometer. Uji statistik menggunakan Uji One Way ANOVA dan Post Hoc LSD.Hasil : Kadar CKMB rerata pada kelompok kontrol sebesar 217,29 U/L, kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit sebesar 224,57 U/L, dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit sebesar 141,14 U/L. Uji Post Hoc LSD menunjukkan kadar CKMB berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan RIPC 3x15 menit(p=0,022) dan tidak terdapat perbedaan kadar CKMB pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan RIPC 3x5 menit(p=0,873).Simpulan : Terdapat perbedaan kadar CKMB antara tikus wistar kelompok P2 dengan kelompok K. Tidak terdapat perbedaan kadar CKMB antara tikus wistar kelompok P1 dengan kelompok K.