JAJUK DWI SASANADJATI, JAJUK
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KEMBANG DERMO DALAM RITUAL KESUBURAN DI DESA OLEHSARI BANYUWANGI PADA KARYA TARI “SEBLANG LULIAN” , M.TRI.RAGEL.ALFAN.FAJAR; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual adat Seblang Olehsari merupakan salah satu dari beberapa ritual adat yang berada di Kabupaten Banyuwangi. Ritual adat Seblang rutin diadakan tiap tahunya untuk menolak bala dan membersihkan desa dari segala penyakit dan musibah yang melanda desa tersebut. Ketertarikan awal terhadap ritual adat Seblang sehingga menjadikan sebuah ide garap, karena Seblang merupakan sebuah pertunjukan yang berbeda daripada pertunjukan lainya. Perbedaan itu terlihat dari bentuk penyajianya dan gerak-gerak yang dilakukan secara tidak sadar oleh sang penari Seblang tersebut. Keunikan Seblang Olehsari di bandingkan dengan Seblang Bakungan sehingga koreografer tertarik untuk menjadikan sebuah ide garap, yaitu terletak pada saat keterlibatan penonton atau masyarakat pada saat upacara adat tersebut berlangsung. Koreografer menjadikan makna dari upacara adat Seblang Olehsari tersebut sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan simbol-simbol yang terdapat pada ritual Seblang tersebut melalui karya tari Seblang Lulian. Pentahapan penciptaan dalam menciptakan karya seni dimulai dari eksplorasi, improvisasi, komposisi. Terdapat banyak metode yang digunakan dalam penciptaan tari. Beberapa metode tersebut kemudian digabung untuk dapat ditemukan fokus serta tema yang tepat. Setelah itu baru konsep karya menjadi acuan untuk membuat suatu karya tari. Struktur penyajian dalam karya tari Seblang Lulian dibagi menjadi empat bagian yaitu intro (awalan) menceritakan persiapan upacara adat Seblang tersebut, yang di awali dengan selamatan desa, pada bagaian intro ini koreografer mencoba untuk membangun imajinasi penonton dengan memunculkan simbol-simbol yang biasa digunakan pada saat acara selamatan sebelum upacara adat seblang dimulai. Koreografer mengambil properti tempeh,karena tempeh merupakan simbol terkuat pada saat selamatan tersebut berlangsung. Setelah terciptanya karya tari Seblang Lulian, koreografer menemukan sebuah transformasi yaitu pada bentuk dari fungsi ritual dan bentuk fungsi untuk pertunjukan. Seblang pada saat ritual menggunakan panggung arena dengan posisi penonton berada di sekeliling panggung, melihat fungsi dari ritual kesuburan tersebut yang harus kembali pada masyarakat itu sendiri sedangkan dalam bentuk pertunjukan, panggung yang digunakan adalah panggung procenium dimana pemain dan audient (penonton) memiliki batasan.Kata Kunci: Kembang Dermo, Seblang Lulian, Ritual Kesuburan,Dramatik
KREASI PENYAJIAN KESENIAN TAYUB DI KABUPATEN TULUNGAGUNG (TINJAUAN STRUKTUR DAN GAYA) KRISTIAN ARUM SARI, FEMILIA; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Tayub terdapat hampir di seluruh Pulau Jawa dan menjadi salah satu ekspresi yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Kesenian Tayub merupakan sebuah ritual kesuburan. Kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung dalam penyajiannya berbeda dari daerah lain, bahkan mempunyai sebutan tersendiri yaitu Tayub Tulungagung-an. Keunikan pada penyajian Tayub Tulungagung-an ini terdapat pada jumlah waranggana yang banyak dan ciri khas pada saat ngibingan. Peneliti ingin mengkaji lebih jauh dengan rumusan masalah ;1. Bagaimana struktur penyajian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung?, 2. Bagaimana gaya penyajian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung?.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan objek penelitian kesenian Tayub di Kabupaten Tulungagung. Hasil penelitian ini membahas tentang struktur dan gaya penyajian kesenian tayub di Kabupaten Tulungagung. Terdapat elemen-elemen yaitu gerak, iringan, pola lantai, busana juga tempat dan waktu pelaksanaan. Elemen tersebut menjadi satu kesatuan yang harus ada dalam sebuah penyajian kesenian Tayub. Struktur penyajian terdiri dari struktur besar yaitu nguyu-nguyu(pra acara), bedayan (tarian selamat datang), gedhog (proses pembagian sampur diawali pramugari), ngibingan (adegan waranggana dan pengibing menari bersama). Gaya dipengaruhi oleh bentuk, teknik dan faktor-faktor. Secara bentuk, gaya pada kesenian Tayub Tulungagungan terdapat pada sajian bedayan dan ngibingan, yang memunculkan pola gerak megol mental, ngeper dan ogek lambung. Sajian gendingnya menggunakan pola kendang ganggamina, dengan teknik pukulan yang keras sehingga menghasilkan pola geraknya mengikuti tekanan kendang yang disajikan kemudian memunculkan karakter yang sigrak dan dinamis. Karakter tersebut dipengaruhi oleh faktor individual, yaitu disebabkan waranggana yang centil dan genit. Pola lantai yang disajikan merupakan gambaran filosofi kehidupan manusia yang selalu maju mundur, dan lintasan pola lantai yang berpapasan kemudian coblosan adalah sebuah makna simbolis dari kesenian Tayub, yaitu sebuah lambang kesuburan.Kata kunci :Tayub, Tulungagung-an, Struktur, Gaya
BENTUK DAN FUNGSI TARI GANDHONG DESA BANGUN, KECAMATAN MUNJUNGAN, KABUPATEN TRENGGALEK KUSUMAWARDANI, PUTRI; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Gandhong Desa Bangun Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek mempunyai ciri yang unik yaitu pada struktur penyajiannya, biasanya dalam sebuah satu sajian tari terdapat satu durasi yang utuh artinya dalam satu objek tersebut menampilkan satu objek yang spesifik, namun pada Tari Gandhong memiliki 4 sub tema pembentuk Tari Gandhong tersebut. Struktur penyajian inilah yang nantinya akan membentuk elemen-elemen unsur pada Tari Gandhong menjadi sangat unik. Tari Gandhong ini merupakan tarian yang mengalami kesenjangan atau pergeseran, semula digunakan sebagai tarian pengesah pada ritual menjadi tarian pengiring pada ritual, maka dari masalah tersebut mengalami perubahan bentuk dan pergeseran fungsi.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pada Tari Gandhong Desa Bangun Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan perekaman dengan validitas data berupa teknik triangulasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Struktur pertunjukan Tari Gandhong terdiri dari empat sub tema yaitu Tari Sarak, Tari Tani Makaryo, Tari Celeng, dan Tari Onggotruno. Keunikan pada Tari Gandhong yang menjadi ciri khas yaitu pada ke empat sub tema tersebut. Empat sub tema itulah yang membentuk elemen-elemen pada Tari Gandhong ini memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Berdasarkan fungsi, Tari Gandhong memilki dua fungsi yaitu fungsi primer dan sekunder, fungsi primer pada Tari Gandhong adalah sebagai pengiring ritual. Fungsi yang kedua yaitu fungsi sekunder yang terdiri dari fungsi sebagai pengikat dan pembangkit rasa solidaritas, media komunikasi, sarana kebutuhan ekonomi, dan sarana regenerasi.Kata Kunci: Tari, Gandhong, Trenggalek, bentuk, struktur, fungsi
KARYA TARI SAMUDIWARAGATI SEBAGAI UNGKAPAN RASA SYUKUR MASAYARAKAT NEKAYAN PANTAI PRIGI DALAM BENTUK DRAMATIK YULIANA SAPUTRI, PUPUT; DWI SASANADJATI, JAJUK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Desa Tasikmadu sebagian besar menggantungkan hidupnya di laut. Sebagai ungkapan rasa syukur dan berdoa memohon keselamatan dalam bekerja, para nelayan mempunyai kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap setahun sekali yaitu Larung Sembonyo. Penulis mencoba menciptakan sebuah sajian tari untuk menarik perhatian masyarakat yang berisi ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil laut melalui sajian sebuah karya koreografi baru dengan teknik gerak tradisional yang dikembangkan dengan tipe tari dramatik.Kajian teori koreografi dari berbagai ahli dijadikan pijakan dalam penciptaan karya tari ini, koreografi kelompok oleh Sumandiyo Hadi, metode konstruksi I oleh Jacqueline Smith, dan teori ungkapan oleh Soedarsono. Hasil penciptaan karya tari yang relevan juga turut menjadi sumber atau referensi mengenai konsep, teknik, dan gaya untuk memperlihatkan perbedaan orisinalitas masing-masing karya tari.Konsep dalam penciptaan karya tari ini terdiri dari tema yaitu wujud syukur dengan judul Samudiwaragati. Penata tari menggunakan tipe dramatik, dengan mode penyajian representatif dan simbolis. Penerapan tipe tari dramatik penulis ingin memunculkan suasana-suasana yang mendukung pada karya Samudiwaragati. Elemen utama tari adalah gerak dengan penggunaan teknik tradisional yang dikembangkan dan gaya tari Mataraman. Elemen pendukung meliputi iringan, tata cahaya, tata rias dan busana, tata pentas. Proses penciptaan dimulai dari rangsang, kerja studio sampai terbentuknya karya tari dengan judul Samudiwaragati. Karya tari ini diharapkan dapat menjadi sebuah karya yang inspiratif melalui tema yang dihadirkan dan memberikan informasi tentang budaya yang ada di Trenggalek. Konsep garap karya ini memiliki kecenderungan pada gerak-gerak anggun dan lemah lembut sehingga dapat melatih kemampuan serta meningkatkan kualitas kepenariannya dalam hal intensitas dan konsentrasi penari dalam bergerak. Penggunaan tipe dramatik dalam karya ini memberikan kesan agung sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat.Kata Kunci: Samudiwaragati, Ungkapan, Syukur, Dramatik.
DRAMATIC DANCE WORK WITH THE TITLE "WREDAYA" AS A VISUALIZATION OF MBAH KARTINING'S SPIRIT OF STRUGGLE Rizky Pratama, Fairuz Ahmad; Dwi Sasanadjati, Jajuk
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 7 No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v7n2.p1-22

Abstract

The Muludan Mask tradition is a tradition to welcome the Prophet's birthday, but unfortunately it is starting to fade due to the influence of globalization & modernization. Mbah Kartining, the remaining Muludan Mask craftsman, remains loyal and continues to be enthusiastic about maintaining the existence of the Muludan Mask. The purpose of creating this dance work is to visualize the spirit of Mbah Kartining's struggle in preserving & maintaining the Muludan Mask tradition. Made using Jacqueline Smith's I construction method. The Wredaya dance work is a dance work with the theme of the spirit of struggle, inspired by Mbah Kartining's spirit in maintaining the Muludan Mask in the era of globalization & modernization which continues to accelerate, packaged in the form of a dramatic dance type with double cones, presented by 9 female dancers, with a presentation mode representative-symbolic, the East Javanese style of the Arek ethnic group. dressed in a kutung kebaya and shorts, dominated by green and gold which symbolizes the ever-growing enthusiasm to achieve glory from Mbah Kartining's hope of maintaining this tradition until it grows again. Staged on the Proscenium stage which is supported by lighting. Accompanied by two types of musical instruments, namely Javanese gamelan with pentatonic tones and western music with diatonic tones.