Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji Stabilitas Formula Sediaan Losio Dari Ekstrak Metanol Daun Mangkokan (Nothopanax scutellarium Merr) Suryani, Suryani; Hamsidi, Rini; Ikawati, Nurlena
PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS PROSIDING SEMINAR NASIONAL SWASEMBADA PANGAN (Indonesia Menuju Swasembada Pangan dalam Tiga Tahun Ke
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.536 KB) | DOI: 10.37149/4786

Abstract

Daun mangkokan (Nothophanax scutellarium Merr.) memiliki kandungan senyawa yang berkhasiatsebagai antioksidan.Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula losio dari ektrak metanol daun mangkokan untuk mengetahui kestabilan (pH, viskositas, ukuran globul)  losio dengan variasi konsentrasi ekstrak 1%; 2,5%; 5%; 7,5%; dan 10%. Pembuatan ekstrak daun mangkokan menggunakan pelarut metanol dengan metode maserasi. Ekstrak metanol daun mangkokan kemudian diformulasikan menjadi sediaan losio. Losio  yang telah selesai dibuat dilakukan pemeriksaan meliputimutu fisik losio (bentuk, warna, bau/aroma, tekstur, pH,viskositas). Produk losio diuji stabilitasnya dengan metode penyimpanan cycling test pada suhu 4°C selama 24 jam lalu dikeluarkan dan  ditempatkan pada suhu 40± 2°C selama 24 jam hingga 6 siklus. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan meliputi stabilitas tampilan, pH, warna, bau/aroma, viskositas. Losio ekstrak metanol daun mangkokan yang dihasilkan stabil secara fisik. 
PROGRAM EDUKASI BIJAK MEMILIH OBAT TRADISIONAL MENGGALI POTENSI HERBAL UNTUK MENGHINDARI RISIKO EFEK SAMPING Fadel, Muhammad Nurul; Retnowati, Eko; Ikawati, Nurlena; Karuniawati, Hidayah; Da'i, Muhammad; Besan, Emma Jayanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 2 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i2.3037

Abstract

Penggunaan obat tradisional masih tinggi di masyarakat, namun sebagian besar didasarkan pada informasi empiris tanpa pengetahuan ilmiah yang memadai. Hal ini berpotensi menimbulkan penggunaan yang tidak rasional dan risiko efek samping. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait pemilihan dan penggunaan obat tradisional secara aman dan berbasis bukti ilmiah. Pengabdian dilaksanakan di Desa Sanggrahan, Kecamatan Potronayan, Nogosari, Boyolali pada 15 Juni 2025 dengan sasaran 52 Ibu-ibu PKK. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta evaluasi pre-test dan post-test menggunakan kuesioner. Materi mencakup pengenalan jenis obat tradisional (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka), kandungan kimia tanaman obat seperti kurkuminoid, xanthorrhizol, dan andrographolide, manfaat dan risiko penggunaannya, serta cara mengenali produk herbal legal dan ilegal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pengetahuan dari 55,3 (pre-test) menjadi 85,7 (post-test) atau naik 30,4 poin. Peserta antusias dan mampu membedakan produk herbal aman serta memahami pentingnya izin edar BPOM. Sebanyak 92% peserta merasa kegiatan ini bermanfaat dan berharap ada edukasi lanjutan. Kegiatan ini efektif meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih obat tradisional dan mendorong perilaku penggunaan herbal yang aman dan rasional. Edukasi berbasis komunitas direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke wilayah lain.. AbstractThe use of traditional medicines remains high in the community, but most practices are based on empirical information without adequate scientific knowledge. This may lead to irrational use and potential adverse effects. This community service activity aimed to improve public health literacy on the safe and evidence-based use of traditional medicines. The program was conducted in Sanggrahan Village, Potronayan Subdistrict, Nogosari, Boyolali, on June 15, 2025, targeting 52 PKK (Family Welfare Movement) women. The methods included interactive lectures, discussions, demonstrations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The materials covered the classification of  traditional medicines (jamu, standardized herbal medicines, phytopharmaceuticals), chemical constituents of medicinal plants such as curcuminoids, xanthorrhizol, and andrographolide, their benefits and risks, as well as how to identify legal and illegal herbal products. The results showed an increase in the average knowledge score from 55.3 (pre-test) to 85.7 (post-test), with a 30.4-point improvement. Participants were enthusiastic and able to distinguish safe herbal products and understand the importance of BPOM (Indonesian FDA) registration. About 92% of participants stated that this activity was beneficial and expected further education on the proper use of traditional medicines. This program effectively increased public awareness to be more selective in choosing traditional medicines and encouraged safe and rational herbal use. Community-based health education is recommended to be implemented sustainably and expanded to other areas.