Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL AGRIVIGOR

Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Urea pada Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) dengan Sistem Pengelolaan Air AWD (Alternate Wetting and Drying) Yassi, Amir; Ala, Ambo; Amsal, Afifah Nur Fahira
Jurnal Agrivigor VOLUME 15 NOMOR 2, DESEMBER 2024
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/ja.v15i2.43238

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari efektivitas kombinasi konsentrasi Pupuk Organik Cair dan dosis pupuk Urea dengan sistem pengelolaan air secara AWD (alternate wetting and drying) terhadap pertumbuhan dan produksi Tanaman Padi. Penelitian dilaksanakan di lahan persawahan desa Kalosi Alau, kecamatan Duapitue, kabupaten Sidenreng-Rappang, Sulawesi Selatan (3°55'21"LS 120°00'40"BT) pada bulan pada Juli sampai Oktober 2022. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan petak terpisah dengan petak utama yaitu perlakuan dosis urea yang terdiri dari tiga taraf, yaitu: 0 kg.ha-1, 50 kg.ha-1, 100 kg.ha-1 dan 150 kg/ha serta anak petak yaitu konsentrasi pupuk organik cair (POC), terdiri dari empat taraf yaitu: 0 cc.l-2 air, 2 cc.l-1 air, 4 cc.l-1 air dan 6 cc.l-1 air. Terdapat 16 kombinasi perlakuan yang di ulang sebanyak tiga kali sehingga secara keseluruhan terdapat 48 satuan percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 5 sampel, sehingga terdapat 240 sampel tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian 100 kg.ha-1 urea (u2) menghasilkan rata-rata anakan produktif tertinggi yaitu 17,34 batang, dan rata-rata klorofil total tetinggi yaitu 338,73 µmol.m-2 dan dosis 150 kg.ha-1 urea (u3) menghasilkan rata-rata produksi per petak tertinggi yaitu 13,16 kg.ha-1, rata-rata produksi per hektar tertinggi yaitu 5,90 ton.ha-1, rata-rata klorofil a tertinggi yaitu 237,20 µmol.m-2, rata-rata klorofil b yaitu 97,49 µmol.m-2. Sedangkan konsentrasi pupuk organik cair 6 cc.l-1 (p3) memberikan rata-rata tertinggi pada parameter jumlah anakan poduktif yaitu 17,52 batang, rata-rata produksi per petak 12,51 kg.ha-1, sedangkan konsentrasi pupuk organik cair 4 cc.l-1 (p2) memberikan rata-rata tertinggi pada parameter produksi per hektar yaitu 5,83 ton.ha-1.
Strategy on the Implementation of Good Agriculture Practice (GAP) in Smallholder Plantation to Improve the Production and Quality of Arabica Coffee Bean in Enrekang Regency Indonesia: Strategi Penerapan Good Agriculture Practices (GAP) pada Perkebunan Rakyat untuk Meningkatkan Produksi dan Kualitas Kopi Arabica di Kabupaten Enrekang, Indonesia T, Irfansyah; Ridwan, Ifayanti; Ala, Ambo
Jurnal Agrivigor VOLUME 12 NOMOR 1, JUNI 2021
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/ja.v12i1.14319

Abstract

This study aims to determine the priority scale in the management of Arabica coffee plants based on Good Agriculture Practices (GAP) to increase the production, productivity and quality of Arabica coffee in smallholder coffee plantations. The research was conducted in three districts in Enrekang Regency, namely Baroko, Baraka, and Masalle District, respectively, from December 2017 to January 2018. The research was in the form of a survey (literature study, observation, and interviews), the sample selection was carried out using purposive sampling on 30 respondents from Agriculture and Plantation Office of Enrekang Regency, Extension officers, Famers Groups, and coffee plant experts. Quantitative descriptive data analysis using Expert Choice Version 11 was conducted on the survey results for determining the priority scale of GAP components for Arabica coffee. The study results show that the priority scale of applying GAP for coffee plants in Enrekang Regency was the cultivation aspect (46.7%) consisted of pruning, fertilization both types and application method of the fertilizer, pest and disease control, and varieties. Secon priority was the aspect of post-harvest (27.9%) followed by harvest aspect of 25.5%.