Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER PERSPEKTIF AL-QUR’AN Noor, Noer Huda
Sipakalebbi Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Sipakalebbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.253 KB)

Abstract

  Women in the prophet era were difficult to be leaders in public spheres as they were left behind, dependent on men, sexual objects. However, there is hadis that states women can be leaders in the household, so Islam acknowledges women‟s leadership roles at least for their family. If women‟s capacities in terms of their skills, knowlegde, and leaderships exist, women can become public leaders, more than family leaders. It is, therefore, women are encouraged to study and improve their skills which can lead people around them (particularly men) and provide logical and systematic arguments. If they can achieve these, they have two powerful “guns”, 1. Emotional capacities that leads to hearth, 2. Logical and analytical reasons. These contribute to healthy and stable on women‟s leaderships. Perempuan pada masa Nabi saw. sangat sulit diharapkan untuk tampil sebagai public figur pemimpin, karena pada umumnya mereka masih tertinggal, dipingit, bahkan dijadikan penghibur dan pemuas nafsu. Namun dengan hadis Nabi saw. yang menyatakan bahwa “…..Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya…… maka Islam mengakui adanya potensi kepemimpinan yang dimiliki oleh perempuan paling tidak dimulai dari rumah tangga. Pada saat seorang perempuan sudah lebih maju pengetahuannya dan kemampuan leadershipnya serta cukup berwawasan, maka ia dapat saja tampil sebagai pemimpin publik, lebih dari skala rumah tangga. Dari sini perempuan dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat mempengaruhi manusia sekitarnya (terutama kaum lelaki) dengan argumentasi-argumentasi yang logis dan ilmiah. Kalau hal tersebut dapat diraihnya, maka ketika itu perempuan memiliki dua “senjata” yang sangat ampuh, yaitu :1) perasaan halus yang dapat menyentuh qalbu dan 2) argumentasi kuat yang menyentuh nalar. Memiliki kedua hal tersebut secara mantap, maka seorang perempuan dapat mewujudkan kepemimpinan yang sehat dan langgeng
Orientalis dan Tokoh Islam yang Terkontaminasi dengan Pemikiran Orientalis dalam Penafsiran Al-qur’an Noor, Noer Huda
Al-Daulah : Journal of Criminal Law and State Administration Law Vol 2 No 1 (2013): (June)
Publisher : Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v2i1.1425

Abstract

Kaum orientalis yang senantiasa berusaha untuk mempelajari seluruh yang ada di negara belahan timur, pada akhirnya tidak hanya menjadi peneliti dan mencari ilmu tentang Timur khususnya Islam, tetapi sekaligus untuk menguasai dan menaklukkan   secara   fisik   maupun   yang   non   fisik   seperti ekonomi dan ideologi. Konotasi orientalis  bagi bangsa Timur adalah negative, namun dalam kenyataannya juga ada yang positif dan memberi manfaat bahkan ada yang memeluk Islam.