This Author published in this journals
All Journal Edutech
Yusar -, Yusar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE PUBLIC SPHERE AS THE EDUCATION OF MULTICULTURALISM AWARENESS -, Yusar
EDUTECH Vol 14, No 1 (2015): DINAMIKA PENDIDIKAN INDONESIA
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i1.938

Abstract

Abstract. This article was endeavor to describe the  awareness multicultural education in the Chinese Lampion Festival in Kota Bandung since 2011 to 2013. The research was held with the longitudinal, qualitative, and adopt to the action research methods. The evidence was describe that the public sphere was success to build the communicative action between the native ethnics and the Chinese. By the public sphere, each ethnics perceived their cultural differences and appreciate as an equality.  By this public sphere, the multiculturalism awareness was formed succesfully and reduce the ethnical stereotype between the native ethnics and the Chinese.  This article conclude that the awareness multicultural education may be doing by creating the public spheres. Keywords:   public sphere, education, multiculturalism Abstrak. Artikel ini menggambarkan pendidikan kesadaran multikulturalisme  melalui perayaan Cap Go Meh.  Etnis-etnis tempatan yang mengklaim sebagai pribumi memiliki stereotipe etnis yang kuat terhadap etnis Tionghoa. Penelitian telah dilakukan dengan paradigma kualitatif yang bersifat longitudinal mengadopsi pada metode action research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang publik yang dibangun antara etnis tempatan dengan etnis Tionghoa memunculkan tindakan komunikatif antar etnis.  Melalui penciptaan ruang publik tersebut, kesadaran akan keberagaman muncul dari masing-masing etnis dan memadang bahwa budaya masing-masing berdiri setara dan muncul penghargaan atas masing-masing kebudayaan. Pemahaman multikulturalisme terbangun karena ruang publik yang diciptakan. Bagian penutup dijelaskan bahwa pendidikan kesadaran multikultur dapat ditempuh melalui penciptaan ruang-ruang publik. Kata kunci:  ruang  publik, pendidikan, multikulturalisme
PEER EDUCATION ON LEPROSY ERADICATION IN GOWA RESIDENCE, SOUTH SULAWESI (ERADIKASI PENYAKIT KUSTA MELALUI PEER EDUCATION DI KABUPATEN GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN) -, Yusar
EDUTECH Vol 15, No 3 (2016): ESENSI PEMBELAJARAN MASA KINI
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i3.4874

Abstract

Abstract. Peer education in an innovative approach to raise the leprosy awareness. This research is a study to describe the peer education by the agents who was the former leprosy to give the right information about the leprosy to the people. The former leprosy associated within the civil society organization acting as the agents of peer education is the role model for leprosy eradication in Kabupaten Gowa. They both giving the example of the succed of the medical treatment on leprosy and the consequences on medical retardness. With the qualitative approach on rapid ethnography method, observation and deep interview on the agents was done to gain the information related to the peer education on leprosy. The evidence of this research describe the changing behaviour on the peole of Kabupaten Gowa conducting to the leprosy including the openness to the leprosy, the acceptance of the people on leprosy to be feel disposed and readily to have the medical treatment such screening their skins and encourage them to report if they suffered any skin problems. Furthermore, the peer education was slowly changed the people’s believe on leprosy as an mistical disease or curse become more medicals.Keywords: Peer education, young people, leprosy.Abstrak. Peer education merupakan pendekatan inovatif dalam meningkatkan kesadaran terhadap penyakit kusta. Penelitian ini menggambarkan peer education yang dilaksanakan oleh orang yang pernah mengalami kusta (OPMYK) dalam memberikan informasi yang tepat mengenai penyakit kusta kepada masyarakat. Para OPMYK tersebut adalah kelompok organisasi masyarakat sipil yang pernah mengalami penyakit kusta namun telah menjalani pengobatan sejak dini dan teratur sehingga terhindar dari kecacatan fisik secara permanen dan juga OPMYK yang telah mengalami kecacatan fisik permanen. Para OPMYK ini menjadi contoh terbaik dalam menyadarkan masyarakat atas penyakit kusta. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode rapid etnografi, serangkaian pengamatan dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai keberhasilan peer education sebagai bagian dari eradikasi kusta. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pada masyarakat Kabupaten Gowa terjadi perubahan sikap terhadap penyakit kusta, yakni terbuka terhadap kusta, bersedia untuk mendapatkan pengobatan secara medis, dan berani melaporkan diri jika ditemukan penyakit-penyakit kulit yang mengindikasikan kusta. Lebih jauh, dengan metode peer education yang dilakasanakan tersebut, secara perlahan mengubah pandangan dan kepercayaan masyarakat yang sebelumnya percaya bahwa kusta adalah penyakit gaib ataupun kutukan menjadi penyakit medis.Kata kunci: Peer education, kaum muda, kusta.