Murjani Sani, Murjani
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KEPERCAYAAN TERHADAP PERPINDAHAN MAKAM DI TANJUNG Sani, Murjani
Jurnal Studia Insania Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.396 KB) | DOI: 10.18592/jsi.v2i1.1090

Abstract

Describing where the moving tomb of Syekh Timur Tengah (hereinafter abbreviated as STT) in Tanjung. The removal of STT was through mediation with the tomb. This tomb is managed to perpetuate the relationship with STT’s spirit and the pilgrims. There is ‘haulan’ tradition in every 14 of Sha’ban, at that time HA is busy to communicate to the STT’s spirit, showing his encounter with the spirit of the dead in ‘conscious’ condition. According to al-Jauzi, the alive people can meet the spirit of the dead through dreams/ conscious based on the al-Zumar verse 42. It said that death is not lost but it is the separation of the body with the spirit. Their meeting is based on Ali ‘Imron verse 169-171 when he gets the blessing from Allah and when his brother who livedin the path of His. This is recognized by the Sufism as Liqa Barzakhi, as experienced by al-Tijani, it is out of ratio range. Meeting of HA and STT’s spirit is assumed as liqa Barzakhi, although it requires further study.
TAREKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Sani, Murjani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.94 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v10i1.931

Abstract

This paper describes only the existence of Islamic Sufiyah tarekat (TSI) in the thought of H. Abdul Muin Hidayatullah. The results show that the TSI was built by H. Abdul Muin since 1955 after he was brought into a spiritual meeting with Rasulullah, Prophet Adam and Moses as well as 40 leaders of an Islamic state. At that time, he had been inducted as a murshid Zabir tarekat, while Murshid is the Messenger of Allah. Thats when it started developing tarekat until he passed away, 1995 at the age of 87 years. Murshid was replaced by his own son, K.H. Abdullah al-Mahdi and develop it until now. The Islamic Sufiyah Tarekat is growing quite rapidly; reaching 7,000 people are now members, consisting of listeners, students, followers and supporters. They spread in South Kalimantan, especially in Banjarmasin, and in the District Tabunganen Tabalong, and actively carry out the teaching daily deed specified. It is in meaningful, positive impact on the development of faith and piety of its members.
TARIKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Sani, Murjani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.283 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.447

Abstract

Karya ilmiah ini hanya mendeskripsikan keberadaan (asal-usul, perkembangan, mursyid, silsilah, pengikut, suluk, wirid dan praktiknya) Tarikat Sufiyah Islam (TSI) dalam pemikiran tasawuf H. Abdul Muin Hidayatullah. Hasilnya menunjukkan bahwa TSI ini dibangun oleh H. Abdul Muin sejak tahun 1955 setelah ia (menurut pengakuannya) dibawa ke alam rohani (liqa barzakhi) bertemu dengan Rasulullah, nabi Adam dan nabi Musa serta 40 orang pimpinan negara Islam. Ketika itu (menurutnya), ia dibaiat sebagai Mursyid Zahir tarikat ini, sementara Mursyid Batinnya adalah Rasulullah. Mulai saat itulah tarikat ini dikembangkannya hingga ia meninggal dunia (1995) dalam usia 87 tahun. Mursyid penggantinya adalah anaknya sendiri, K.H. Abdullah al-Mahdi dan mengembangkannya hingga sekarang.TSI ini merupakan tarikat baru dalam sejarah ketarikatan, karena tidak termasuk dalam deretan tarikat yang ada di dunia Islam. Unsur ketarikatan terpenuhi dalam tarikat ini, seperti adanya mursyid, anggota/murid, suluk/khalwat, amaliah (wirid) dan praktiknya. Kecuali itu sebagaimana dikemukakan di atas, silsilah mursyidnya yang tidak bersambung karena H. Abdul Muin selaku pimpinannya mengaku bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendapatkan ajaran/amaliah (wirid) TSI daripadanya. Padahal dalam tataran teori sufistik disebutkan bahwa silsilah mursyid haruslah bersambung (muttasil), sehingga tidak diragukan lagi ke muktabarahannya. Konsekuensi logis dari ketidak-bersambungan silsilah mursyid ini menjadi lahan adanya pro-kontra terhadapnya, sebagaimana halnya tarikat al-Tijaniyah. Meski pun demikian, ternyata Tarikat Sufiyah Islam ini berkembang cukup pesat, sekarang anggotanya mencapai 7.000 orang, ada yang berstatus pendengar, pelajar, pengikut dan pendukung. Mereka tersebar di Kalimantan Selatan terutama di Banjarmasin, Tabunganen dan di Kabupaten Tabalong, dan aktif melaksanakan ajaran/amaliah (wirid) yang ditentukan. Karena itu keberadaannya cukup berarti (berdampak positif) bagi pembinaan keimanan dan ketakwaan anggotanya, meski pun hal ini masih perlu dilakukan penelitian.
KEPERCAYAAN TERHADAP PERPINDAHAN MAKAM DI TANJUNG Sani, Murjani
Jurnal Studia Insania Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.396 KB) | DOI: 10.18592/jsi.v2i1.1090

Abstract

Describing where the moving tomb of Syekh Timur Tengah (hereinafter abbreviated as STT) in Tanjung. The removal of STT was through mediation with the tomb. This tomb is managed to perpetuate the relationship with STT?s spirit and the pilgrims. There is ?haulan? tradition in every 14 of Sha?ban, at that time HA is busy to communicate to the STT?s spirit, showing his encounter with the spirit of the dead in ?conscious? condition. According to al-Jauzi, the alive people can meet the spirit of the dead through dreams/ conscious based on the al-Zumar verse 42. It said that death is not lost but it is the separation of the body with the spirit. Their meeting is based on Ali ?Imron verse 169-171 when he gets the blessing from Allah and when his brother who livedin the path of His. This is recognized by the Sufism as Liqa Barzakhi, as experienced by al-Tijani, it is out of ratio range. Meeting of HA and STT?s spirit is assumed as liqa Barzakhi, although it requires further study.
TARIKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Sani, Murjani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.283 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v12i2.447

Abstract

Karya ilmiah ini hanya mendeskripsikan keberadaan (asal-usul, perkembangan, mursyid, silsilah, pengikut, suluk, wirid dan praktiknya) Tarikat Sufiyah Islam (TSI) dalam pemikiran tasawuf H. Abdul Muin Hidayatullah. Hasilnya menunjukkan bahwa TSI ini dibangun oleh H. Abdul Muin sejak tahun 1955 setelah ia (menurut pengakuannya) dibawa ke alam rohani (liqa barzakhi) bertemu dengan Rasulullah, nabi Adam dan nabi Musa serta 40 orang pimpinan negara Islam. Ketika itu (menurutnya), ia dibaiat sebagai Mursyid Zahir tarikat ini, sementara Mursyid Batinnya adalah Rasulullah. Mulai saat itulah tarikat ini dikembangkannya hingga ia meninggal dunia (1995) dalam usia 87 tahun. Mursyid penggantinya adalah anaknya sendiri, K.H. Abdullah al-Mahdi dan mengembangkannya hingga sekarang.TSI ini merupakan tarikat baru dalam sejarah ketarikatan, karena tidak termasuk dalam deretan tarikat yang ada di dunia Islam. Unsur ketarikatan terpenuhi dalam tarikat ini, seperti adanya mursyid, anggota/murid, suluk/khalwat, amaliah (wirid) dan praktiknya. Kecuali itu sebagaimana dikemukakan di atas, silsilah mursyidnya yang tidak bersambung karena H. Abdul Muin selaku pimpinannya mengaku bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendapatkan ajaran/amaliah (wirid) TSI daripadanya. Padahal dalam tataran teori sufistik disebutkan bahwa silsilah mursyid haruslah bersambung (muttasil), sehingga tidak diragukan lagi ke muktabarahannya. Konsekuensi logis dari ketidak-bersambungan silsilah mursyid ini menjadi lahan adanya pro-kontra terhadapnya, sebagaimana halnya tarikat al-Tijaniyah. Meski pun demikian, ternyata Tarikat Sufiyah Islam ini berkembang cukup pesat, sekarang anggotanya mencapai 7.000 orang, ada yang berstatus pendengar, pelajar, pengikut dan pendukung. Mereka tersebar di Kalimantan Selatan terutama di Banjarmasin, Tabunganen dan di Kabupaten Tabalong, dan aktif melaksanakan ajaran/amaliah (wirid) yang ditentukan. Karena itu keberadaannya cukup berarti (berdampak positif) bagi pembinaan keimanan dan ketakwaan anggotanya, meski pun hal ini masih perlu dilakukan penelitian.
TAREKAT SUFIYAH ISLAM DALAM PEMIKIRAN TASAWUF H. ABDUL MUIN HIDAYATULLAH Sani, Murjani
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 10, No 1 (2011)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.94 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v10i1.931

Abstract

This paper describes only the existence of Islamic Sufiyah tarekat (TSI) in the thought of H. Abdul Muin Hidayatullah. The results show that the TSI was built by H. Abdul Muin since 1955 after he was brought into a spiritual meeting with Rasulullah, Prophet Adam and Moses as well as 40 leaders of an Islamic state. At that time, he had been inducted as a murshid Zabir tarekat, while Murshid is the Messenger of Allah. That's when it started developing tarekat until he passed away, 1995 at the age of 87 years. Murshid was replaced by his own son, K.H. Abdullah al-Mahdi and develop it until now. The Islamic Sufiyah Tarekat is growing quite rapidly; reaching 7,000 people are now members, consisting of listeners, students, followers and supporters. They spread in South Kalimantan, especially in Banjarmasin, and in the District Tabunganen Tabalong, and actively carry out the teaching daily deed specified. It is in meaningful, positive impact on the development of faith and piety of its members.