Christnawati Christnawati
Universitas Gadjah Mada

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Optimalisasi Gerakan Oklusal Gigi Kaninus Maksila Menggunakan Lingual Button pada Alat Ortodontik Lepasan Wuriastuti Kusumandari; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.226 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11978

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang berhubungan dengan ketersediaan ruang untuk menampung gigi-gigi permanen. Kurangnya panjang lengkung rahang sering dianggap sebagai faktor etiologi terjadinya gigi berjejal dan impaksi. Panjang lengkung palatal yang kurang dapat menyebabkan terlambatnya erupsi gigi maksila. Perawatan yang dilakukan menggunakan alat ortodontik lepasan memiliki keterbatasan dalam memberikan gerakan oklusal untuk membantu erupsi gigi permanen. Pasien perempuan usia 10 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju dan gigi bawah berjejal. Hasil pemeriksaan objektif ditemukan crowded ringan gigi anterior bawah, 53 palatoversi, 43 labioversi serta gigi 13 dan 23 belum erupsi. Maloklusi Angle klas II divisi 1 sub divisi dengan overjet normal dan deep overbite. Analisis ruang menurut Moyers dan Nance menunjukkan adanya kekurangan ruang untuk tumbuh gigi 13 dan 23. Pasien dirawat dengan plat ekspansi radial simetri pada rahang atas karena terjadi kontraksi ringan pada regio premolar dan distraksi ringan pada regio molar, guna mencarikan ruang untuk tumbuhnya gigi 13 dan 23 dan pada rahang bawah untuk koreksi crowded anterior. Enam bulan setelah gigi 53 dan 63 tanggal, proses erupsi gigi 13 dan 23 berterlihat mengalami kelambatan. Oleh karena itu, pada permukaan labial gigi 13 dan 23 yang mulai erupsi sebagian, dipasangkan lingual button yang dikombinasikan dengan buccal spring untuk membantu gerakan oklusal pada proses erupsinya. Lingual button merupakan salah satu komponen cekat yang dipasangkan pada permukaan gigi dan dikombinasikan dengan buccal spring untuk mengoptimalkan gerakan oklusal pada alat ortodontik lepasan. ABSTRACT: Optimization of Maxillary Canine Occlusal Movement Using the Fixed Component of Removable Orthodontic Appliance. The growth and development of jawbones are related to the availability of space for permanent teeth. Arch-length deficiency is often mentioned as an etiologic factor for crowding and impactions. A short palatal length can delay the eruption of maxillary teeth. The treatment using removable orthodontic appliance has a limitation in giving occlusal movement to help permanent teeth erupt. A 10-year-old female patient complained about protrusive upper anterior teeth and crowded lower anterior teeth. The objective examination found lightly crowded lower anterior teeth, 53 palatoversion, and 43 labioversion, while teeth 13 and 23 had not erupted. Angle Class II division 1 sub division malocclusion with normal overjet and deep overbite was detected. The space analysis of Moyers and Nance showed the lack of available space for 13 and 23 eruption. The patient was treated with symmetrical radial expansion plate on the maxilla because of a mild contraction on the premolar region and mild distraction on the molar region in order to gain space for 13 and 23 eruption as well as on the mandible for correction of the lower anterior teeth crowding. Six months after 53 and 63 losses, there was a delay in the 13 and 23 eruptions. Therefore, on the labial surfaces of 13 and 23 that start erupting partially a lingual button combined with buccal spring was attached to help the occlusal movement during the eruption process. Lingual button is one of the fixed orthodontic components attached on the surface of teeth and combined with buccal spring in order to optimize the occlusal movement on removable orthodontic appliance.
Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg Herna Juliana Nainggolan; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.589 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8192

Abstract

Gigi berjejal dapat terjadi pada semua klasifikasi maloklusi. Perawatan gigi berjejal berat dengan teknik Begg menggunakan vertical loop untuk meningkatkan kelentingan busur labial supaya dapat terpasang pada gigi berjejal sehingga levelling dan unravelling gigi anterior dapat tercapai. Tujuan artikel ini untuk menerangkan manfaat dari vertical loop pada kasus gigi berjejal berat. Pada artikel ini disajikan dua kasus gigi berjejal parah dan crossbite. Kasus pertama: laki-laki 17 tahun tidak percaya diri karena berjejal dan gingsul. Diagnosis: maloklusi Angle klas III subdivisi tipe skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula prognatik, gigi berjejal parah dan crossbite anterior. Kasus kedua: perempuan 18 tahun, mengeluhkan gigi berjejal, sulit dibersihkan dan gusi sering berdarah. Diagnosis: Maloklusi Angle klas I tipe skeletal klas I dengan bimaksiler retrusif dan bidental protrusif  gigi berjejal berat dan crossbite anterior. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg, pada tahap pertama digunakan archwire diameter 0,014” dengan vertical loop untuk koreksi gigi malposisi berupa gigi berjejal, membuka dan menutup ruang gigi anterior dengan menggerakkan gigi ke arah mesiolabial dan labiolingual sehingga gigi berjejal dan crossbite anterior dapat terkoreksi. Hasil: Koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite dipertahankan, penutupan sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Kesimpulan dari penggunaan vertical loop pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik Begg menunjukkan sangat efektif dalam mengoreksi gigi berjejal berat dan crossbite anterior.
Perawatan Impaksi Gigi Premolar Pertama Mandibula Pada Maloklusi Angle Klas II Divisi 2 Subdivisi Dengan Teknik Be Apreka Tigor Kusumasmara; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.726 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8386

Abstract

Impaksi gigi terjadi karena gigi gagal untuk erupsi secara sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi lain maupun jaringan lunak atau padat di sekitarnya. Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi geraham ketiga rahang bawah, gigi kaninus rahang atas, dan gigi premolar kedua. Impaksi premolar sering terjadi karena pencabutan prematur dari gig geraham desidui. Gigi premolar pertama jarang terjadi impaksi dibandingkan premolar kedua. Tujuan laporan kasus adalah untuk memaparkan penatalaksanaan perawatan untuk mengkoreksi impaksi gigi premolar pertama mandibula menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa prosedur bedah. Pria 21 tahun mengeluhkan gigi yang berjejal pada rahang atas dan rahang bawah. Gigi kaninus desidui kiri rahang atas dan rahang bawah belum tanggal. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle Klas II  divisi 2 bimaksiler protrusif dengan hubungan skeletal klas II, gigi anterior maksila retrusif, disertai impaksi gigi premolar pertama mandibula kiri. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Begg dan pencabutan gigi desidui, Kesimpulan, impaksi gigi premolar pertama mandibula dapat tercapai pada tahap pertama teknik Begg tanpa pendekatan tindakan bedah, tahap selanjutnya yang akan dicapai adalah tahap memperbaiki inklinasi aksial gigi.Treatment Of Class II Division 2 Angle Malocclusion With Mandibular Premolar Tooth Impaction Using Begg Technique. Tooth impaction is a tooth that fails to erupt perfectly to its position because of the other tooth, surrounding soft or hard tissue that blocks its eruption. Premolar often fails to erupt due to a premature extraction of deciduous molar. This case study aims to illustrate the treatment of mandibular first premolar impaction using Begg technique for fixed appliance. The experiment was conducted to a 21 year-old male patient who complained about his crowding of upper and lower teeth, also the persistence of his upper and lower left deciduous canine. The case was diagnosed as class II division 2 angle malocclusion with bimaxillary protrusion with class II skeletal relation, and maxillary anterior teeth retrusion. The left mandibular of first premolar teeth was impacted. The treatment using Begg technique has helped to fix the appliance with the extraction of the deciduous teeth. From the evaluation, it can be concluded that the treatment of impacted mandibular first premolar is achieved on the first stage of Begg technique without surgical approach. The next objective of the treatment is to correct the teeth axis.
Perawatan Teknik Begg Pada Maloklusi Klas I Dengan Kaninus Impaksi dan Insisivus Lateral Agenesis Kristina Wijaya Gunawan; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.191 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8388

Abstract

Impaksi kaninus maksila sering dijumpai pada sisi palatal daripada labial. Agenesis adalah anomali pertumbuhan akibat tidak ada satu atau lebih benih gigi. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan kemajuan perawatan kasus Maloklusi klas I dengan kaninus impaksi dan insisivus lateral agenesis menggunakan alat cekat teknik Begg. Seorang pasien usia 20 tahun datang mengeluhkan gigi-gigi depan atas dan bawah yang berjejal sehingga mengganggu penampilan. Perawatan bertujuan untuk koreksi Maloklusi Angle klas I tipe dentoskeletal dengan deepbite, crossbite gigi 25 terhadap 35, pergeseran midline dental maksila dan mandibula ke kanan sebesar 2,5 mm dan 3,0 mm, 13 impaksi vertikal pada sisi labial, 42 agenesis, dan edentulous parsial regio 36. Koreksi dilakukan dengan pencabutan 14, 25, pemanfaatan ruang bekas pencabutan 36 dan exposure gigi kaninus yang impaksi. Tahap pertama teknik Begg adalah leveling, unraveling, dan bite opening, diikuti dengan koreksi midline dan penutupan sisa ruang bekas pencabutan. Kesimpulan: perawataan ortodontik menggunakan teknik Begg yang dilakukan simultan dengan exposure kaninus impaksi labial dengan closed eruption technique dapat memberikan hasil yang memuaskan.Treatment for Class I Malocclusion with Impacted Canine and Agenesis Lateral Incisor Using Begg Technique. Maxillary canine impaction occurs commonly on the palatal than labial side. Agenesis is a developmental anomaly condition because of the absence of one or more tooth buds. This case report aims to explain the treatment progress of class I malocclusion with impacted canine and agenesis lateral incisor using fixed appliance through Begg technique. A 20-year-old female patient complained about her upper and lower anterior dental crowding that disturbed her appearance. The treatment aims to correct the Angle class I malocclusion dentoskeletal types with deepbite, crossbite 25 to 35, maxillary and mandibulary dental midline shift to the right by 2.5 mm and 3.0 mm, 13 labially vertical impacted, 42 agenesis, and partial edentulous 36. The correction was obtained through extraction 14 and 25, and the use of former space from extraction 36 and exposure of impacted canine. The first step of treatment using Begg technique is to leveling, unraveling, and bite opening. The second step is midline correction and space closure. Finally, it can be concluded that orthodontic treatment using Begg technique which is done simultaneously and exposure of labial- canine impaction with closed eruption technique can give satisfactory results.
Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Yohana Retno Wikandari Purwaningsih; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.457 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8389

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer Rully Utami; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.937 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8527

Abstract

Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi.Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm,  posterior openbite and clicking have been corrected.
Perawatan Ortodontik pada Maloklusi Klas II Divisi 1 dengan Overjet Besar dan Palatal Bite Menggunakan Alat Cekat Teknik Begg Reni Kurniasari; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.935 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8538

Abstract

Maloklusi Klas II divisi 1 sering disertai overjet besar dan palatal bite, koreksi overjet besar dan palatal bite akan sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama. Pada perawatan ortodontik menggunakan teknik Begg koreksi overjet besar dan palatal bite dapat dilakukan secara bersamaan karena memakai differential force. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan hasil koreksi overjet besar dan palatal bite pada kasus maloklusi klas II divisi 1 menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg. Kasus: Pasien laki-laki usia 17 tahun, dengan keluhan gigi rahang atas berjejal dan maju. Diagnosis: maloklusi Angle Klas II divisi 1 dengan hubungan skeletal klas II, mandibular retrusif dan bidental protrusif disertai crowding sedang, overjet sebesar 10,78 mm, palatal bite dan pergeseran garis median rahang atas ke kiri 1,5 mm. Perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg diawali pencabutan kedua gigi premolar pertama atas dan kedua premolar kedua rahang bawah. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014”, anchorage bend 45º dan elastik intermaksiler klas II. Setelah 7 bulan perawatan, hasil menunjukkan crowding terkoreksi, overjet besar dan palatal bite terkoreksi sempurna. Overjet menjadi 2,2 mm dan overbite menjadi 2 mm. Kesimpulan dari perawatan maloklusi klas II divisi 1 disertai overjet besar dan palatal bite menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg menunjukkan hasil yang baik.Orthodontic Treatment Of Class II Division 1 Malocclusion With Large Overjet and Palatal Bite Using Orthodontic Begg Technique. Class II division 1 often accompanied with large overjet and palatal bite, treatment of the large overjet and palatal bite would be difficult and time consuming. On orthodontic treatment using Begg technique correction of the large overjet and palatal bite can be done simultaneously for wearing a differential force. Purpose of this article is to present the results of a large overjet correction and palatal bite in case of class II division 1 malocclusion using a fixed orthodontic appliance Begg technique. A 17 years old male patient, complained his crowding and protruding upper teeth. Diagnosis: class II division 1 Angle malocclusion, with class II skeletal relationship, mandibular retrusive and bidental protrusive accompanied moderate crowding, overjet 10.78 mm, palatal bite and upper dental centerline shift to the left 1.5 mm. Treatment using a fixed appliance Begg technique was initiated by extraction two first upper premolars extraction  of maxillary first premolar on both side and mandibular second premolar on both side. The first stage of treatment was conducted using multiloop arch wire 0.014”, anchorage band 45o and class II intermaxillary elastics. After seven month of treatment, the results showed crowding corrected, a large overjet and palatal bite perfectly corrected. Overjet of 2.2 mm and overbite to 2 mm. Orthodontic treatment of class II division 1 malocclusion with large overjet and palatal bite using orthodontic Begg technique showed a good result.
Perawatan Gigitan Terbuka Anteroposterior Tipe Skeletal dengan Teknik Straightwire Vega Mandala; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.235 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8754

Abstract

Gigitan terbuka merupakan maloklusi yang bercirikan tidak terdapatnya tutup menutup gigi rahang atas dan bawah, dapat terjadi pada regio anterior maupun posterior dan dapat melibatkan dental maupun skeletal. Maloklusi ini memerlukan ketelitian dalam penentuan diagnosis dan perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik dan kestabilan jangka panjang. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk menginformasikan manajemen pasien dengan gigitan terbuka tipe skeletal. Pasien pria berumur 19 tahun datang ke Klinik Ortodonsia FKG UGM dengan keluhan utama gigi depan yang tidak rata dan tidak dapat digunakan untuk menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan pasien memiliki kebiasaan menelan dengan menjulurkan lidah. Pemeriksaan model studi menunjukkan maloklusi Angle kelas I dengan gigitan terbuka anterior dari regio premolar kedua kanan ke kiri sebesar 10,7 mm disertai malposisi gigi individual dan pergeseran garis tengah rahang bawah ke kiri. Pemeriksaan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas II dengan retrusif bimaksila, rotasi mandibula searah jarum jam dan gigitan terbuka skeletal. Pasien menolak tindakan bedah ortognatik sehingga dilakukan perawatan ortodontik kamuflase. Perawatan diawali dengan latihan miofungsional untuk melatih cara penelanan yang benar dilanjutkan dengan perawatan ortodontik teknik straightwire dengan pencabutan empat gigi molar pertama. Penutupan gigitan terbuka menggunakan elastic box anterior. Hasil evaluasi menunjukkanpengurangan besar gigitan terbuka dari 10,7 mm menjadi 1,25 mm. Kesimpulannya elastic box anterior dapat digunakan untuk mengoreksi gigitan terbuka yang etiologinya melibatkan intrusi gigi anterior.  Skeletal Anteroposterior Open Bite Treatment with Straight Wire Technique. Open bite is a malocclusion with characteristic no overlapping between maxillar and mandibular teeth. This malocclusion may occur in anterior or posterior region and involved dental or skeletal. This malocclusion needed precise diagnosis and treatment to get a good treatment result and long term stability. The aim of this case report was to inform management of patient with skeletal open bite. A 19 years old male came to orthodontic clinic Faculty of Dentistry Gadjah Mada University with the chief complaint anterior crowding, and anterior teeth cannot be used to bite. Clinical finding showed patient had tongue thrusting habit. Study model analysis showed class I Angle malocclusion with 10.7 mm anterior open bite from right second premolar to left second premolar, with individual teeth malposition and mandibular midline shifting to the left. Cephalometric finding showed class II skeletal relationship with bimaxillar retrusive, clockwise mandibular rotation and skeletal open bite. This patient refused orthognatic surgery, so he received camouflage orthodontic treatment. This treatment was started with monofunctional exercise to correct the swallowing action then continued with straight wire orthodontic treatment with four first molar extractions. Anterior box elastic was used to close the bite. Evaluation result showed open bite was decreased from 10.7 mm to 1.25 mm. The conclusion was anterior box elastic could be used in open bite correction that involved anterior teeth intrusion as an etiology.
Perawatan Ortodontik menggunakan Teknik Begg pada Kasus Pencabutan Satu Gigi Insisivus Inferior dan Frenectomy Labialis Superior Shella Indri Novianty; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.67 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8757

Abstract

Pencabutan gigi insisivus rahang bawah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan ruang pada perawatan ortodontik. Seleksi kasus yang ketat harus dilakukan sebelum menentukan pencabutan gigi tersebut, agar mendapatkan hasil perawatan yang baik. Artikel ini memaparkan hasil perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas I disertai dengan spacing anterior rahang atas dan pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah, serta frenektomi frenulum labialis superior pada seorang wanita berumur 47 tahun yang datang dengan diagnosa kasus maloklusi Angle klas I, skeletal klas I disertai protrusif bimaksiler, bidental protrusif, spacing anterior rahang atas, crowding anterior rahang bawah dan beberapa malposisi gigi individual pada kedua rahang. Frenektomi pada frenulum labialis superior dan pencabutan insisivus sentralis kiri rahang bawah dilakukan untuk mencapai tujuan perawatan. Perawatan aktif dimulai pada bulan September 2012 menggunakan alat cekat teknik Begg dan berakhir pada bulan September 2013. Retraksi anterior dilakukan pada rahang atas sebesar 5,0 mm dan rahang bawah sebesar 2,5 mm. Observasi pada hasil akhir perawatan terlihat ada perubahan yang baik pada profil, susunan gigi geligi dan analisis sefalometri. Pada pemeriksaan studi model diperoleh hasil bahwa overjet akhir 3,5 mm, overbite 3,0 mm, interdigitasi baik, dan median line rahang atas dan rahang bawah tidak segaris. Pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah pada kasus maloklusi Angle klas I dengan spacing anterior rahang atas dan dilakukan perawatan dengan alat cekat teknik Begg, memberikan hasil perawatan yang cukup memuaskan. Orthodontic Treatment Using Begg Technique In The Case of Extraction of One Inferior Incisor Tooth and Superior Labial Frenectomy. Extraction of lower arch incisive was the alternative way for space gaining on orthodontic treatment. Case selection is needed before deciding the extraction in order to achieve optimal orthodontic treatment result. The Objectives of this study is to report the result of orthodontic treatment using Begg technique appliance on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch, extraction of one incisive central at the lower arch and frenectomy of frenulum labial superior. A 47 years old woman was diagnosed as Angle’s class I malocclusion, class I skeletal with bimaxillary protrusion, bidental protrusion, spacing anterior on the upper arch, crowding anterior on the lower arch, and tooth malposition on both arches. Frenectomy at frenulum labii superior and extraction of one incisive central at the lower arch were done for the orthodontic treatment. Orthodontic treatment was started on September 2012 and finished on September 2013. The upper anterior were 5 mm retracted and the lower anterior were 2.5 mm retracted. An observation at the end of treatment showed improvement in profile, alignment of the teeth, and skeletal appraisal. Study model observation showed 3.5 mm of overjet, 3.0 mm of overbite, good interdigitation, and median line shifting of the lower arch anterior. Extraction of one incisive central at the lower arch, for Orthodontic treatment on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch using Begg technique appliance showed an excellent result.
Perbandingan Inklinasi dan Ukuran Rahang antara Orang Jawa Buta dan Normal C. Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4244.559 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15396

Abstract

Latar Belakang. Penglihatan merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mengontrol postur kepala. Postur kepala berhubungan dengan kompleks kraniofasial. Maksila dan mandibula merupakan bagian dari kompleks kraniofasial. Pada orang buta terjadi penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan daerah orbita karena tidak adanya rangsang. Tujuan Penelitian adalah untuk mempelajari perbandingan inklinasi dan ukuran rahang berdasarkan jenis kelamin antara orang Jawa buta dan normal. Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap 53 subjek, terdiri dari 25 orang buta ( 12 orang laki-laki dan 13 orang perempuan) dan 28 orang normal (14 orang laki-laki dan 14 orang perempuan). Setiap subjek penelitian dilakukan pengambilan sefalogram lateral pada posisi alamiah kepala, kemudian dilakukan penapakan pada kertas kalkir di atas iluminator. Pengukuran sembilan parameter inklinasi dan ukuran maksila dan mandibula dilakukan pada hasil penapakan. Data dianalisis dengan uji Anava dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p<0,05). Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal dan kelompok buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta (p<0,05). Kesimpulan Ukuran maksila laki-laki buta lebih besar daripada perempuan normal. Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal lebih besar daripada perempuan normal, laki-laki buta, dan perempuan buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta. Background Vision is one of the factors involved in the control of head posture. The posture of the head is related to craniofacial complex. Maxilla and mandible are part of craniofacial complex. In the blind there are deviations of growth and development of the orbital region in the absence of stimuli. The purpose of this study was to compare the inclinations and sizes of maxilla and mandible of the blind and normal Javanese subjects. Methods the research was conducted on 53 subjects, consisting of 25 blind subjects (12 men and 13 women) and 28 normal subjects (14 men and 14 women). Each subject of the research conductes on the lateral sefalogram in natural head position, then trace on tracing paper over the illuminator. In the nine-parameter measurements performed tracing inclination and size of the maxilla and mandible. Data were analyzed with two way ANOVA. The results showed that there were no significant differences (p<0.05) on the inclination of the maxillary, mandibular inclination, maxillary base length, and shape of the mandible between the blind and normal Java as well as between the sexes. The size of the blind males maxilla larger than normal females (p<0.05). the length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal and the blind females, as wella as normal females is greater than the blind females (p<0.05). The conclusion The size of the maxilla of the blind males larger than normal females. The length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal females, the blind males, and the blind females, as well as normal females is greater than the blind females.