Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

A Preliminary Study of Paleoflood Deposits of the Lukulo, Kebumen Regency, Central Java, based on River Geomorphology Mareta, Nandian; Lubis, Rachmat F; Ansori, Chusni; Hadian, M Sapari Dwi; P Saputro, Sugeng; Farisan, Ardhan
Indonesian Journal of Geography Vol 56, No 1 (2024): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.75926

Abstract

Lukulo is a river that flows through pre-tertiary rocks to the recent. The long Lukulo fluvial processes which included erosion, transportation, and deposition were depicted in extensive alluvial deposits downstream of the river. This vast alluvial plain may be a deposit result of the Lukulo flood in the past. The paleo-flood study is a study of flood events in the past with the technique used, namely knowing slack water deposits (Steding & Baker, 1987). Delineation of slackwater deposits is necessary to determine the location of paleoflood deposition. Geomorphology of Lukulo watershed is needed as a preliminary study to determine the characteristics of the Lukulo watershed. Based on the analysis of the Lukulo watershed, DEM, with the systematic method of literature review, the result of this watershed geomorphology was obtained, namely; the morphology of the Lukulo watershed included an elongated oblong shape of the watershed, with an average Rc value of all three segments (upstream, middle, and downstream) of 0,52. The average drainage density (Dd) of river flows in the Lukulo watershed is 8,05 km/km2 (middle class). The Lukulo gradient upstream is 450, entering the middle is reduced to 300, and downstream the gradient is reduced to 100. The morphology and morphometry of the Lukulo watershed are interpreted to mean that Lukulo belongs to the medium-spanned watershed in terms of flood runoff and erosion. The lithology is a mixture of impermeable and permeable rocks. Delineation of diluvial and alluvial deposits is found in the upstream, middle, and downstream, of the Lukulo river. It depicts delineated paleoflood deposits in all segments of the river.
Gambaran Pemanfaatan Air Tanah Berkelanjutan di Geopark Kebumen Utara Mareta, Nandian; Lubis, Rachmat Fajar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 3 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i3.483

Abstract

Kebumen terletak di Provinsi Jawa Tengah yang telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada tahun 2018. Geopark Kebumen, yang kemudian diajukan sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun 2023, diharapkan akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan peneliti ke kabupaten ini. Peningkatan ini memiliki konsekuensi penting dalam menjamin ketersediaan potensi air bersih yang memadai. Makalah ini menghitung ketersediaan potensi airtanah di Bagian Utara Geopark Kebumen dengan membandingkan Atlas Ketersediaan Airtanah yang telah dipublikasikan terhadap hasil penelitian neraca air di DAS Welaran, yang merupakan wilayah Geopark Kebumen Bagian Utara. Hasil penelitian menunjukkan atlas ketersediaan airtanah memiliki dua predikat, yaitu ketersediaan airtanah rendah di bagian Utara dan ketersediaan airtanah sedang di bagian Tengah dan Selatan. DAS Welaran, yang terletak di bagian Utara, sesuai dengan predikat rendah dalam atlas ketersediaan airtanah. Hasil ketersediaan airtanah menurut Atlas adalah sebesar 1.554.205,81 m3, sedangkan menurut Neraca Air DAS Welaran sebesar 1.555.318 m3. Rasio ketersediaan airtanah antara Atlas dan Neraca Air DAS Welaran adalah 0,999. Peluang pemanfaatan airtanah masih memungkinkan di bagian Selatan, sementara di bagian Utara lebih disarankan untuk memanfaatkan air permukaan dan airtanah bebas sebagai strategi pemanfaatan air baku.
KAJIAN GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN FORMASI KARANGSAMBUNG SERTA FORMASI TOTOGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKUIFER AIRTANAH DI DESA KALISANA KABUPATEN KEBUMEN Mareta, Nandian; Ansori, Chusni
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 1 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.501 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v18i1.26531

Abstract

AbstractKarangsambung-Totogan Formation is the most exposed rock unit in Kalisana Village, Karangsambung, Kebumen. These two formations also form the bedrock of the study area, which consists of claystone. The Karangsambung-Totogan Formation is composed of sedimentary groups which are mixed up due to the gravity process known as Olistostrome. Pieces of centimeter to hundreds of meters of sedimentary rocks are scattered randomly during the scaly clay matrix. Kalisana Village is around 20 kilometers from the center of Kebumen Regency. Kalisana Village has an area of 349 hectares, with 109.86 hectares of rice fields and 239.14 hectares of dry land. Rice field area consists of irrigated and non-irrigated rice fields. Every year this research area often experiences water shortages during the dry season. The purpose of this study is to get a reference in making decisions to overcome the shortage of raw water in areas affected by drought through groundwater sources. The research methods include the preparation stage (literature study, previous research studies, preparation of tools, review of maps, etc.), field orientation, field work/measurements, data compilation, data analysis, evaluation and data processing. The results obtained three geological rock units namely; claystone associated with the Karangsambung Formation, a fragmented claystone unit associated with the Totogan Formation and breccias associated with the Waturanda Formation. Based on the geoelectric sonding results at three sounding locations, a subsurface image is obtained. At first sonding was found sandstones at depth of 11-18 meters with an aquifer thickness of about 7 meters. Correlation of tree geoelectric sonding location successfully described the subsurface of the Karangsambung-Totogan Formation which forms the base. The maximum geoelectric depth is around 120 meters. Keyword: Karangsambung Formation, Totogan Formation, Karangsambung, Geoelectric, aquifer AbstrakFormasi Karangsambung-Totogan merupakan satuan batuan yang paling banyak tersingkap di Desa Kalisana, Karangsambung, Kebumen. Dua formasi ini juga menjadi batuan alas di lokasi penelitian, yang terdiri dari batulempung. Formasi Karangsambung-Totogan tersusun oleh kelompok sedimen yang tercampur aduk karena proses pelongsoran gaya berat yang dikenal dengan istilah Olistostrome. Bongkah-bongkah batuan sedimen berukuran centimeter hingga ratusan meter tersebar secara acak dalam masadasar lempung hitam bersisik (scaly clay). Desa Kalisana berjarak sekitar 20 Kilometer dari pusat Kabupaten Kebumen. Desa Kalisana mempunyai luas 349 Ha, dengan luas lahan sawah 109,86 Ha dan lahan kering seluas 239,14 Ha. Luas lahan sawah terdiri dari sawah irigasi dan non-irigasi. Setiap tahun lokasi penelitian ini sering mengalami kekurangan air saat musim kemarau. Maksud penelitian ini adalah mendapatkan acuan dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi kekurangan air baku pada daerah yang terdampak kekeringan melalui pencarian sumber airtanah. Metode penelitian meliputi tahap persiapan (studi pustaka, studi penelitian terdahulu, persiapan alat, penelaahan peta-peta, dan lain-lain), orientasi lapangan, pekerjaan lapangan/pengukuran, kompilasi data, analisis data, evaluasi dan pengolahan data. Hasil yang didapatkan berupa tiga satuan batuan geologi yaitu; batulempung yang berkorelasi dengan Formasi Karangsambung, satuan batulempung berfragmen yang berkorelasi dengan Formasi Totogan dan breksi yang termasuk Formasi Waturanda. Berdasarkan hasil geolistrik di tiga lokasi sounding didapatkan gambaran bawah permukaan. Di lokasi sonding 1 ditemukan lapisan batupasir pada kedalaman 11-18 meter dengan ketebalan akuifer sekitar 7 meter. Korelasi 3 titik sonding geolistrik berhasil menggambarkan bawah permukaan Formasi Karangsambung-Totogan yang menjadi alas tersebut. Kedalaman maksimal geolistrik sekitar 120 meter.Kata kunci: Formasi Karangsambung, Formasi Totogan, Karangsambung, Geolistrik, akuifer