Rusim Mardjono, Rusim
Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Jl. Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang – Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Varietas Unggul Wijen Sumberrejo 1 dan 4 untuk Pengembangan di Lahan Sawah sesudah Padi MARDJONO, RUSIM
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPengembangan wijen di Indonesia banyak dilakukan di lahan kering pada musim hujan. Saat ini pengembangan  wijen  banyak  dilakukan di lahan sawah sesudah padi atau sesudah tembakau di musim kering. Biji wijen banyak  digunakan dalam berbagai industri, baik untuk minyak maupun aneka industri makanan, seperti kecap, kue dan makanan  ringan lainnya. Varietas unggul wijen Sumberrejo 1 (Sbr 1) dan Sumberrejo (Sbr 4) sangat sesuai untuk ditanam di lahan sawah sesudah padi di musim kering. Sbr. 1 karena umur lebih panjang bisa ditanam pada MK-1 sedangkan Sbr. 4 karena umurnya lebih genjah dapat ditanam pada MK-2. Teknologi budidaya yang perlu dikembangkan antara lain : Pola tanam yang sesuai, pengolahan tanah yang baik, jarak tanam dan waktu tanam yang tepat, penggunaan benih bermutu, serta pemupukan yang sesuai. Pengendalian gulma dan penggemburan tanah, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen yang tepat.Kata kunci: Wijen, Sesamum indicum, varietas unggul Sumberrejo 1,            Sumberrejo 4, pengembangan,   lahan   sawah,   Jawa Timur. ABSTRACTSesame Superior Varieties Sumberrejo 1 and 4 for Development in Rice Field after PaddySesame in Indonesia is mostly grown in dry area at rainy season. This time  it is also grown in wet rice field at dry season after paddy or tobacco. Sesame seeds are used for industrial purposes, including sesame oil and various food industry  such as soy-souce, cookies and snacks. Superior varieties Sbr 1 and Sbr 4 are suitable for sesame development in rice field after paddy. Sbr 1 with a longer period of culture age is suitable for planting at dry season-1, whereas Sbr 4, a shorter one is suitable for dry season-2. Package of technology need to be developed including appropriate cropping pattern and soil management, proper plants spacing and sowing using superior seeds, proper fertilizer, weeding and thinning, pest and disease control, proper harvest and post harvest management.Key  words  :  Semame,  Sesamum  indicum,  variety, Sumberrejo 1, Sumberrejo 4,  development, rice field after paddy, East Java.
Pengembangan Kapas Genjah Tahan Wereng di Wilayah Kering MARDJONO, RUSIM
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKPengembangan kapas (Gossypium hirsutum) di Indonesia sebagian besar dilakukan di lahan tadah hujan yang ketersediaan airnya sangat terbatas, sehingga sering mengalami hambatan dan hasilnya kurang memuaskan. Di daerah tersebut pada periode akhir musim kapas biasanya air hujan sudah habis atau sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk daerah tersebut perlu pengembangan kapas berumur genjah. Disamping  itu,  banyak  kendala  yang  lain  seperti langkanya  modal  petani,  ketiadaan  benih  bermutu, kekeringan dan serangan hama utama yaitu wereng kapas Amrasca biguttula, Helicoverpa  armigera dan Pectinophora gossypiella. Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pengembangan kapas di wilayah kering adalah penggunaan kapas genjah tahan wereng, penggunaan benih bermutu, teknologi budidaya yang sesuai, dan penerapan teknologi pengendalian hama terpadu.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, kapas genjah, wereng    kapas,    Amrasca    biguttulla, pengembangan,  wilayah kering. ABSTRACTDevelopment of Early Maturity Cotton Resistant  to Jassid in Dry Area.Cotton in Indonesia is grown mainly in rainfed area where water is very limited. So that, it frequently faces some constraints and its productivity is low. In this area, water shortage is a major problem for cotton growth and development, therefore this area needs early maturity cotton varieties. Other limiting factors were lack of farmers’ capital, inavailability of high quality  seeds,  drought  and  insect  pest  attact (A. biguttula,  H. armigera and P. gossypiella). To solve the problem, using early maturity cotton variety resistant to jassid, high quality seeds, cultivation technology, and integrated pest management are appropriate tools to increase the cotton productivity.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, early maturity cotton,  jassid, Amrasca             biguttula, development, dry area