Articles
Babad Bakalan Sebuah Data Baru Bagi Sejarah Indonesia Kuno
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (634.543 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v14i2.640
Stories about saints are generally found in various historiographical texts or constitute local history. However, the correctness of the text is still questionable. Babad Bakalan is a text that as a whole reveals matters of a historiographical or local history, and the manuscript is reliable. On this occasion, a paper will be presented based on new data obtained in research on the Islamic Mataram Settlement and Transportation Route in Wonogiri Regency.
Nilai Sufistik Pada Inskripsi Pintu Makam Sunan Kudus
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 15 No 2 (1995)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2205.348 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v15i2.657
This paper described the cultural product of the people of the past in terms of the culture of art in writing. In addition, the teachings contained in the kind of literature have sufistic values that have a great influence on the development of Islam, especially in Java. This article is intended to reveal the value contained in the inscription on the door of the tomb of Sunan Kudus, which does not yet know the meaning of the content of the value implied in it.
Awal Perkembangan Islam Di Pedalaman Jawa Bagian Selatan Berdasarkan Tinggalan Budaya Islam
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 19 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1859.761 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v19i1.797
Dalam tulisan ini akan memberikan gambaran tentang perkembangan Islam di pedalaman Jawa bagian selatan dan beberapa tinggalan budaya Islam, berupa tinggalan-tinggalan arkeologis dan sejarah yang diduga telah ada sejak awal berkembangnya Islam di Jawa, (abad XV - XVI Masehi). Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan, bahwa Islam, pada awal perkembangannya juga terjadi di daerah pegunungan dan daerah pedalaman.
Teknik Analisis Naskah Berhuruf Arab
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 20 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (701.818 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v20i1.806
Analisis terhadap naskah berhuruf Arab adalah suatu proses penelitian yang memerlukan kecermatan dan kehati-hatian, untuk itu sangat diperlukan adanya dukungan dari berbagai disiplin ilmu untuk dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan yang ada di dalam naskah. Sehingga apa yang telah menjadi tujuan dan sasaran penelitian benar-benar dapat tercapai. Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya dalam suatu penelitian perlu adanya suatu metode dan teknik yang betul-betul akurat dan jelas. Uraian di atas telah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang teknis analisis terhadap sumber tertulis, berupa naskah dan lebih khusus lagi, kepada naskah berhuruf Arab. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa dalam analisis terhadap naskah-naskah kuna berhuruf Arab terdapat beberapa tahapan yang harus di lalui, hal ini dimaksudkan agar dapat mencapai hasil analisis yang benar-benar terarah. Disamping itu, secara khusus dalam proses analisis terhadap naskah-naskah berhuruf Arab terdapat hal-hal yang sangat perlu diperhatikan, diantaranya hal-hal yang brkaitan erat dengan huruf dan Bahasa Arab, termasuk ilmu-ilmu pendukungnya Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran dan interpretasi, sehingga pada akhimya dapat memberikan suatu interpretasi yang jelas dan akurat.
Peranan Tasawwuf Dalam Sosialisasi Islam Di Indonesia
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 21 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1202.125 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v21i1.834
Dari sekian banyak karya-karya sastera yang cenderung memuat ajaran-ajaran mistis atau tasawwuf menunjukkan bahwa tenyata Islam dan sufismenya telah memiliki daya tarik di kalangan para sasterawan muslim di masa lalu. Hal ini disebabkan selain karena relevansinya bagi manusia, juga karena pandangan estetiknya yang lebih memuaskan, dibanding pandangan estetik humanis Barat, sebab bagi Islam, pandangan estetik keindahan merupakan suatu rahmat atau karunia yang wajar dari Tuhan. Keindahan merupakan bagian dari sifat Tuhan yang memiliki nilai spiritual dan pembebasan dari kehidupan kebendaan, sehingga dalam Islam, keindahan adalah merupakan bukti keilahi. Dengan demikian nampak semakin jelas, bahwa di Indonesia, tasawwuf memiliki peranan yang cukup penting dalam proses sosialisasi Islam.
Islam Dan Sinkretisme Di Jawa
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1479.682 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i1.863
Strategi yang diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam, di daerah pesisir utara Jawa berbeda dengan strategi yang diterapkan di beberapa daerah di pedalaman Jawa, yaitu strategi perdagangan merupakan langkah yang dominan, disamping juga dilakukan dengan pendidikan, perkawinan dan rnengadopsi kesenian lokal dengan dimasuki muatan-muatan Islam. Akan tetapi pada periode berikutnya setrategi yang dominan diterapkan oleh para tokoh penyebar Islam di beberapa daerah pedalaman Jawa adalah melalui pendidikan dengan lembaga-lembaga seperti pesantren dan organisasi-organisasi tarekat yang rnerupakan aktualisasi dari ajaran-ajaran tasawwuf. Meskipun demikian, telah berlangsung suatu proses sinkretisasi yang menitik beratkan pada aspek kognitif dan aspek perilaku rnasyarakat jawa, sebagai akibat adanya dua budaya (pra-Islam dan Islam) yang sating bersentuhan, kemudian diolah sedemikian rupa sehinga tidak terjadi adanya pertentangan atau konflik. Dan pada akhirnya Islam dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Jawa.
Perdagangan Dan Mistisisme Dalam Islamisasi Di Sumatera Dan Jawa
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1833.296 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v23i2.877
Hubungan dagang antara orang Eropa dengan Timur Tengah yang telah mewarnai peta dagang sebelum masa Islam menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Eropa dengan Asia telah berlangsung semenjak sebelum Nabi Isa. Kemudian setelah runtuhnya dominasi India dan Cina , karena ditaklukkannya India bagian utara yang kemudian merembet ke Selatan dan penyerangan ke China oleh tentara Islam di Timur Tengah, maka tampaklah gelombang orang-orang Arab mulai membentuk koloni-koloni bagi para pedagang. Hubungan dagang dan politik antara Cina dengan Persia, Cina dengan Sriwijaya, India dengan Sriwijaya dan India dengan Cina merupakan hubungan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Hubungan semacam ini tidak mungkin terhapus begitu saja. Oleh karena itu ketika ajaran Muhammad (Islam) mulai mapan di Timur Tengah dan berkuasa di India bagian utara, maka arus perdagangan internasional semakin diintensifkan, demikian pula ajaran Islam itu sendiri.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pelestarian Dan Pemanfaatan Sumberdaya Budaya (Studi Kasus di Situs Candi Morangan)
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 24 No 1 (2004)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1835.8 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v24i1.898
Given the limited number of cultural resources (finite), non-renewable, non-movable, and fragile, the use of cultural resources must be oriented towards conservation. Therefore, in an effort to utilize cultural resources, it should be used with care. Then in terms of the development of cultural assets, we must also look at the value of various interests, so that the various conflicts of interest that exist can be suppressed as far as possible so that there is no attempt to defeat each other, but mutually beneficial.
Situs Candi Sambisari Yang Pernah Terpendam
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 25 No 1 (2005)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1458.66 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v25i1.908
Geomorphologically, Sambisari Temple site is located on the alluvial plain at the foot of Mount Merapi, so that the land is fertile, it is easy to get water and the land is suitable for living and farming. This reason is very possible for the construction of temples. However, because then the area where the site was covered by volcanic ash as a result of the eruption of Mount Merapi which was very powerful due to the combination of the three tectonic, gravitational and volcanic forces that caused the volcanic cone of Merapi to flow sunken hyperbolic faults. This results in the level of soil fertility around the Sambisari Temple Site decreasing and even becoming damaged, because based on the soil material the sediment comes from the main material of lava deposits and fluvial deposits resulting from cleavage of pyroclastic materials from the eruption of Merapi Volcano in the form of boulder, gravel, sand, and dust. While the development of the soil around the Sambisari Site is still in the initial stage which is a type of horizon regosol soil and this soil has not experienced horizon differentiation, so that the soil profile is homogeneous. Such soil properties can be observed through the texture of dusty sand to gravel dust.
Candi Sojiwan Dalam Pemugaran
nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 25 No 1 (2005)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (822.805 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v25i1.915
The restoration of Sojiwan Temple is still in the early stages of implementation, namely up to the stage of installing the foundation or the foot of the temple. In several other parts, including the installation of the veranda floor, the installation of the body and roof of the temple, and the installation of the temple stairs have not been carried out. Nevertheless, the restoration of Sojiwan Temple will take place in accordance with the activity plan, as has been prepared during the restoration preparation stage (pre-restoration). Because the restoration implementation activities will continue, it is necessary to have a partnership with several related agencies or institutions, especially in terms of human resource needs who have expertise in certain fields, so that the smooth implementation of the restoration will show results in accordance with the expectations of all parties