Sumijati Atmosudiro
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Gerabah Dan Kajian Kawasan: Studi Kasus Kompleks Kebudayaan Buni Jawa Barat Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.638 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i3.683

Abstract

In line with the development of Indonesian archaeological research, the direction of research that was initially focused only on site studies, needs to be expanded towards regional or regional-scale studies. Area-scale studies in addition to being able to reconstruct past lives, can also reveal cultural changes. Thus the results of area-scale research can reveal two archaeological paradigms.
Manfaat Kajian Gerabah Masa Lalu Bagi Pengembangan Kerajinan Tembikar Sebagai Penunjang Industri Pariwisata Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol 18 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.041 KB) | DOI: 10.30883/jba.v18i2.779

Abstract

Sejalan dengan perkembangan arkeologi Indonesia maka minat penelitian arkeologi tidak hanya difokuskan pada tinggalan-tinggalan yang monumental, akan tetapi ditujukan pula pada tinggalan nonmonumental seperti halnya temuan gerabah. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kajian tentang gerabah baik dalam bentuk artikel, skripsi, tesis maupun disertasi. Akibat banyaknya penelitian gerabah tersebut muncul masalah yang perlu dipecahkan terutama masalah manfaat kajian gerabah masa lampau dalam kaitannya dengan pengembangan kerajinan gerabah masa kini. Pada gilirannya hasil pengembangan itu dapat digunakan sebagai salah satu aset yang menunjang industri pariwisata. Agar dapat memecahkan masalah tersebut maka perlu dikemukakan secara garis besar hasil kajian gerabah masa lalu dan gerabah tradisional.
MANFAAT KAJIAN GERABAH MASA LALU BAGI PENGEMBANGAN KERAJINAN TEMBIKAR SEBAGAI PENUNJANG INDUSTRI PARIWISATA Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol. 18 No. 2 (1998)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v18i2.779

Abstract

In line with the development of Indonesian archaeology, the interest in archaeological research is not only focused on monumental, but also on non-monumental remains such as the pottery. This is evidenced by the many studies on pottery in the form of articles, theses and dissertations. As a result of the many researches on pottery, there are problems that need to be solved, especially the problem of the benefits of the study of past pottery in relation to the development of today's pottery handicrafts. In turn, the results of this development can be used as an asset that supports the tourism industry. In order to solve this problem, it is necessary to outline the results of the study of past pottery and traditional pottery.
GERABAH DAN KAJIAN KAWASAN: STUDI KASUS KOMPLEKS KEBUDAYAAN BUNI JAWA BARAT Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol. 15 No. 3 (1995)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v15i3.683

Abstract

In line with the development of Indonesian archaeological research, the direction of research that was initially focused only on site studies, needs to be expanded towards regional or regional-scale studies. Area-scale studies in addition to being able to reconstruct past lives, can also reveal cultural changes. Thus the results of area-scale research can reveal two archaeological paradigms
LUKISAN MANUSIA DI PULAU LOMBLEN, FLORES TIMUR (TAMBAHAN DATA HASIL SENI BERCORAK PRASEJARAH) Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol. 5 No. 1 (1984)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v5i1.262

Abstract

Dalam masa prasejarah Indonesia, hasrat manusia untuk mengekspresikan keindahan, muncul ketika manusia mulai hidup semi menetap di dalam gua-gua. Ekspresi keindahan tersebut, dituangkan dalam bentuk seni lukis, yang diterapkan pada dinding-dinding gua atau dinding-dinding batu. Hasil seni di atas selain sebagai usaha untuk mengekspresikan keindahan dimungkinkan pula sebagai ekspresi yang menggambarkan pengalaman, perjuangan, dan harapan hidupnya. Lukisan itu pada umumnya dibuat dengan warna merah, kemudian warna hitam, dan warna putih. Obyek yang dilukis 'antara lain berupa; cap-cap tangan, babi rusa, binatang melata, perahu dan lain sebagainya.
BANGUNAN MEGALITIK SALAH SATU CERMINAN SOLIDARITAS MASA PERUNDAGIAN Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol. 2 No. 1 (1981)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v2i1.290

Abstract

Masyarakat perundagian telah mencapai tata kehidupan yang teratur.Kemajuan-kemajuan muncul di segala bidang, baik yang berkaitan dengan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, kesenian maupun kepercayaan. Masyarakat masa ini telah membentuk desa-desa yang luas. Salah satu contoh desa masa tersebut telah ditemukan dalam ekskavasi di pantai Gilimanuk, Bali (R.P. Soejono, 1977a: 260). Dari jenis-jenis temuan yang berasal dari situs tersebut di atas, di~roleh gambaran tentang salah satu tata kehidupan masyarakat perundagian, khususnya yang bertempat tinggal di tepi pantai. Dari temuan yang berupa sisa-sisa makanan serta bekas-bekas benda keperluan sehari-hari, dapat diperoleh petunjuk bahwa kehidupan masyarakat di daerah itu, adalah sebagai nelayan (R.P. Soejono, 1977b: 271).
TINJAUAN SEMENTARA TENTANG ARCA MENHIR GUNUNG KIDUL Sumijati Atmosudiro
Berkala Arkeologi Vol. 1 No. 1 (1980)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v1i1.274

Abstract

Berbieara tentang area menhir tidak dapat dilepaskan dari tradisi megalitik, terutama dengan kons'ep latar belakang kepereayaannya. Hal tersebut disebabkan oleh karena didalam tradisi Megalitik dikenal suatu konsep adanya kehidupan kembali sesudah mati. Atas dasar konsep itu maka dalam masyarakat Megalitik muneul kebiasaan melakukan pemujaan nenek moyang. Melalui pemujaan terhadap nenek moyang pendukung tradisi Megalitik berkeyakinan, bahwa hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup, akan tetap terjalin.