Gilang Mahadika
Department of Anthropology, Gadjah Mada University (UGM)

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Melihat Gerakan Sosial dan Aspirasi Kerja Kaum Muda Sesudah Desentralisasi di Indonesia Gilang Mahadika
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol 8, No 1 (2022): Anthropos Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v8i1.36119

Abstract

Tulisan ini ingin menunjukkan dinamika kehidupan kaum muda dan aspirasi mereka dalam penentuan pekerjaan di daerah yang sudah otonom. Dari beberapa tinjauan pustaka yang telah dikumpulkan, menunjukkan bahwa kaum muda menghadapi beberapa tantangan dalam pencarian kerja di daerah otonom masing-masing. Hal ini disebabkan oleh dampak dari desentralisasi yang justru lebih memapankan elite-elite lokal yang sudah ada, serta hanya identitas etnis tertentu saja yang diuntungkan dan menjadi semakin kuat karena beriringan dengan kebijakan otonomi daerah. Hal ini berdampak pada kaum muda yang kian terpisahkan oleh kelas-kelas sosial dan segregasi etnisitas di suatu wilayah otonom. Gerakan kaum muda yang muncul di tengah ketidakdilan desentralisasi dapat menjadi refleksi atas transformasi hak kerja dan kondisi sosial-politik yang terjadi di Indonesia.  This paper expects to reveal the dynamics of youth generations and their work aspirations in deciding jobs in the regional autonomy. According to the collected data references, it shows that youths face certain challenges in search of work in respective regencies. It is due to the impacts of decentralization that it turns out to be more establishing local elites and empowering local-based ethnic identities who have more advantages ever since the autonomy policy was enacted. It surely provides impacts for the youths which have become more segregated by the social class and ethnicities in the regencies. Hence, the emergence of youth movements in the uneven decentralization can be considered as reflection of work rights transformation and changing socio-political circumstances taking place in Indonesia.