This Author published in this journals
All Journal Jurnal EMPATI
Rada Gusti Pertiwi
Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA SIBLING RIVALRY DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 12 SEMARANG Rada Gusti Pertiwi; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.382 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23437

Abstract

Psychological well-being adalah sikap positif individu pada dirinya dan orang lain, otonomi/mandiri, menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang bermanfaat, memiliki tujuan dalam hidup dan membuat hidup lebih bermakna, serta berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki. Sibling rivalry adalah persaingan, kecemburuan dan kebencian antara saudara kandung yang muncul setelah kelahiran anggota baru dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sibling rivalry dan psychological well-being pada siswa SMP Negeri 12 Semarang. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 12 Semarang yang memiliki saudara kandung. Populasi berjumlah 251 siswa dengan sampel penelitian berjumlah 153 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur menggunakan skala psychological well-being (36 aitem, α= 0,902) dan skala sibling rivalry (31 aitem, α=0,905). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara sibling rivalry dengan psychological well-being, dengan koefisien korelasi rxy= -0,522 dengan p 0,000 (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi sibling rivalry maka semakin rendah psychological well-being siswa, begitu juga sebaliknya, semakin rendah sibling rivalry maka semakin tinggi psychological well-being siswa. Sibling rivalry memberikan sumbangan efektif sebesar 27,3% terhadap psychological well-being. Sedangkan sebesar 73,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.