Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Meningkatkan Kualitas Manisan Carica Dengan Bebantuan Ekstraktor Otomatis Di Daerah Wisata Kejajar Edy Supriyo; Ireng Sigit Admanto
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 1, No 4 (2020): Nopember 2020
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.298 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2020.8852

Abstract

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengolah hasil pertanian agar lebih bervariasi dengan tetap mengutamakan keamanan pangan itu sendiri.Pengolahan produk makanan juga harus memperhatikan umur simpannya dan bagaimana cara untuk mempertahaankan umur simpan. Salah satu cara yang biasanya dilakukan untuk menambah umur simpan suatu produk pangan adalah dengan cara pengawetan.Metode pengawetan yang dikembangkan baik skala rumah tangga, industry kecil atau industry besar melibatkan perlakuan fisik seperti: pemanasan, pengeringan, pendinginan dan pembekuan, perlakuan penambahan bahan kimia atau kombinasi keduanya.Buah carica merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang tidak mudah ditemukan didaerah lain di Indonesia, namun tumbuh subur di dataran tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo. Buah carica memiliki citra rasa unik, bau harum yang khas dan daging buah yang kenyal.Buah Carica juga termasuk dalam komoditi pertanian yang tidak tahan lama atau sangat cepat mengalami kerusakan bila disimpan dalam keadaan segar. Oleh karena itu, adanya upaya pengolahan lebih lanjut sangat membantu memperpanjang masa simpan buah sehingga dapat dikonsumsi kapan saja, lebih praktis, dan memberi nilai tambah terhadap buah. Salah satu industry  pengolahan buah carica yang cukup berkembang di daerah Dieng Wonosobo adalah UKM Sunrise Tujuan dari pengabdian ini  adalah untuk menerapkan teknologi tepat guna pada UKM produsen manisan Carica, sehingga dapat diaplikasikan selain untuk mengetahui pengaruh waktu perebusan, juga mingkatkan kualitas manisan Carica.
ANALISA TAMBAK GARAM MELALUI PROGRAM SEMI INTENSIF DI LOMBOK TIMUR Edy Supriyo
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 2, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.416 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2021.11067

Abstract

Abstrak Garam sebagai salah satu produk pangan prospek bisnis yang cukup bagus, karena garam merupakan kebutuhan yang sangat penting seperti, bahan kimia, dan bahan pengawet. Pada Pengabdian ini bertujuan memberikan penyululuhan menganalisis perhitungan finansial pada produksi garam dari Tambak Garam di Kabupaten Lombok Timur. Pengabdian  ini dilakukan terjun langsung ke areal tambak garam yang mengunakan metode semi entensif.  Kelompok perberdayaan usaha garam rakyat ( Pugar ), Pada tambak garam seluas 2 ha yang diperuntukan untuk demplot dengan lahan sewa menunjukkan menguntungkan dan layak untuk dijalankan. Biaya produksi sebesar Rp. 18.752.165,- dengan produktifitas 60 ton/tahun, harga garam di pasaran saat panen untuk kualitas 2 sebesar Rp 450/kg maka BEP produksi 41,67 ton. Maka keuntungan sebesar 18,33 ton atau sebesar  Rp. 8.248.500,-  . Secara keseluruhan, benefit yang diterima petambak termasuk baik karena dapat menutupi biaya operasional yang dikeluarkannya dan masih memperoleh keuntungan.Kata Kunci: Benefit, Biaya produksi garam AbstractSalt as a food product has a pretty good business prospect, because salt is a very important requirement, such as for chemicals and preservatives. This community service aims to provide counseling on analyzing financial calculations on salt production from salt ponds in East Lombok Regency. This service is carried out directly to the salt pond area using a semi-entensive method. The community salt business empowerment group (Pugar), a 2 ha salt pond designated for demonstration plots with leased land, shows that it is profitable and feasible to run. The production cost is Rp. 18,752,165, - with a productivity of 60 tons / year, the price of salt in the market at harvest time for quality 2 is IDR 450 / kg, so the BEP production is 41.67 tons. Then a profit of 18.33 tons or Rp. 8,248,500, -. Overall, the benefits received by farmers are good because they can cover the operational costs incurred and still make a profit. Keywords: Profit, salt production price
PENGOLAHAN LIMBAH AMPAS TAHU MENJADI PRODUK OLAHAN PANGAN (VEGETARIAN AMPAS TAHU) DI DESA SUGIHMANIK Edy Supriyo
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 2, No 2 (2021): Nopember 2021
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.713 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2021.12661

Abstract

Desa Sugihmanik merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan dimana terdiri dari 8 dusun di dalamnya. Masyarakat Desa Sugihmanik khususnya di Dusun SendangMudal Sebagian besar bekerja sebagai pembuat tahu dalam skala home industry. Dan permasalahan yang terjadi belakangan ini berupa pencemaran air dikarenakan limbah ampas tahu dengan kata lain tidak adanya pengolahan limbah hasil produksi. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah peningkatan jumlah Limbah Ampas Tahu adalah dengan cara memberikan hasil ampas tahu ini menjadi pakan ternak warga setempat untuk mengurangi tingkat pencemaran sungai. Namun dikarenakan kurang efektif maka salah satu yang dapat dilakukan adalah mengolah limbah ampas tahu ini menjadi sebuah produk olahan pangan berupa Produk Olahan Pangan Vegetarian. Tujuan Pengolahan ini selain mengurangi tingkat pencemaran adalah untuk membuat Produk Olahan Pangan Vegetarian yang berasal dari limbah ampas tahu sebagai produk yang bernilai ekonomis sehingga dapat meningkatkan penghasilan. Hasil dari Produk ini memiliki cita rasa ikan asin, bau seperti ikan dan warna coklat keemasan dengan lapisan hitam nori sebagai kulitnya. Untuk Uji produk yang telah jadi dapat disimpulkan bahwa sudah sesuai dengan uji SNI yang berlaku dimana dari uji kenampakan, rasa, aroma, dan tekstur sudah mendapatkan nilai diatas rata-rata.
TEKNOLOGI ULIR FILTER UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS GARAM RAKYAT DI KABUPATEN BREBES Edy Supriyo
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 2, No 3 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.017 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2022.14396

Abstract

AbstrakKualitas garam rakyat ditentukan dari kualitas air laut sebagai bahan baku pembuatan garam. Salah satu usaha untuk memperbaikinya adalah dengan menerapkan teknologi ulir filter pada produsen garam di Kabupaten Brebes. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas garam rakyat dengan menggunakan TUF dengan ketinggian air pada tambak kristalisasi dan masa panen yang berbeda. Aplikasi teknologi TUF dimulai dengan memasukkan air laut sebagai bahan baku garam ke dalam tambak penampungan air laut dengan densitas 3oBe. Kemudian air laut dialirkan ke petak peminihan melalui filter yang terdiri dari pasir silika, batu kerikil, arang aktif dan zeolite. Dalam petak peminihan ini terjadi evaporasi air laut oleh sinar matahari dan udara sehingga densitas mencapai 15oBe. Selanjutnya air laut dialirkan ke petak ulir selama 6 hari dan densitasnya menjadi   20oBe. Ketika masuk ke  petak kristalisasi,  air laut mendekati jenuh 20oBe dengan ketinggian air 5 dan 7cm. Kristal garam akan terbentuk pada 25-26oBe dan proses kristalisasi tersebut terjadi selama 4-10 hari, pemanenan dilakukan pada waktu yang berbeda.  Hasil penelitian menunjukkan kualias garam yang berbeda, dengan kedalaman air di tambak kristalisasi yang lebih tinggi (7 cm) dan pemanen yang lebih lama (10-15 hari) pada Tambak Brebes 7 menghasilkan garam dengan kandungan NaCl yang paling tinggi (96,65%) dan kandungan MgCl dan kadar air paling rendah (996,83 Mg.Kg-1 dan 2,33%), yang dipengaruhi oleh ketinggian air dan lama pemanenan. Teknologi Ulir Filter ini baik diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas garam rakyat.Kata kunci : Kualitas Garam, impuritas, TUF, garam rakyat 
DAYA SIMPAN MANISAN CARICA GUNA MEMPERSIAPKAN PANGSA PASAR GLOBAL Edy Supriyo; Wisnu Broto; Retno Hartati
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 1, No 2 (2019): Nopember 2019
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.154 KB)

Abstract

Manisan buah carica dan sirup carica adalah produk khas dan produk unggulan dari Kabupaten Wonosobo. UKM  produsen manisan Carica tersebar sepanjang jalan Wonosobo – Dieng. Beberapa UKM yang memproduksi manisan Carica dalam jumlah besar lebih dari 1000 Ton/ tahun berusaha mengekport produk ke negara tetangga seperti Malayisa, Singapura dan Thailand, begitu juga negara di Timur Tengah Arab Saudi, Yaman,  dan Jordania. UKM dengan produk Manisan Carica  terus berusaha untuk memperluas pangsa pasar. Beberapa pameran dagang di Perancis dan Jerman, telah diikutinya. Permasalahan yang timbul saat ini daya simpan manisan carica masa masih pendek yaitu 6 bulan. Dengan menambahkan konsentrasi gula menjadi Brix 60, maka masa kedaluarsa dari carica dapat diperpanjang sampai menjadi 360 hari atau 1 sehingga produk Manisan Carica, telah memenuhi persyaratn ekspot untuk pangan olahan