Kemampuan pemahaman konsep perkalian pada dasarnya berasal dari konsep penjumlahan yang dilakukan secara berulang, namun pada prosesnya banyak ditemukan penerapan pembelajaran perkalian cenderung bersifat menghapal daripada memahami konsep perkalian itu sendiri. Hal tersebut banyak memunculkan stigma bahwa mengoperasikan operasi hitung perkalian lebih sulit daripada operasi hitung lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman konsep perkalian peserta didik pada pembelajaran matematika. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IV-D SD Negeri Lenteng Agung 07. Penentuan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 26 peserta didik kemudian 3 peserta didik terpilih akan dilakukan wawancara. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu menggunakan lembar tes peserta didik yang berkaitan dengan pemahaman konsep perkalian dan materi bangun datar siswa sekolah dasar, kemudian wawancara dilakukan kepada 3 peserta didik dan guru kelas IV. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi teknik melalui tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan pemahaman konsep perkalian pada pembelajaran matematika peserta didik masih tergolong rendah. Pada saat proses wawancara dilakukan peserta didik tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti dengan tepat. Pertanyaan yang diajukan sesuai dengan indikator soal yang telah ditetapkan yaitu (1) kemampuan memanfaatkan dan memilih prosedur yang sesuai dengan kaidah operasi hitung perkalian (2) kemampuan konsep perkalian untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan dan kemampuan menggunakan syarat perlu atau syarat cukup pada permasalahan yang diberikan.