Ary Widiyanto
Balai Penelitian dan PengembanganTeknologi Agroforestry

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

AKTIVITAS DAN CURAHAN WAKTU PETANI DALAM PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL DI CIAMIS JAWA BARAT Ary Widiyanto
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v5i1.4056

Abstract

This study was conducted to determine the implementation one of the social forestry program in Ciamis, particularly related to the activity and time allocation of farmers during the program. This study used questionnaires and interviews with a total sample of respondents were 90 people, who came from three farmer groups or Lembaga Masyarakat Desa Hutan/ LMDH (each 30 people). Three LMDH represented three different planting patterns, namely; pine-coffee, teak-cardamom, and teak-papaya. The results indicate that during the first four years of the program, coffee farmers spent the longest time in the program (227 days), followed by cardamom farmers (174 days) and the last papaya farmer (108 days). Based on the activities, the longest activity for coffee farmers is maintenance, whereas for cardamom and papaya farmers are harvesting. Pine-coffee pattern can provide the greatest benefit to farmers because crop cultivation activity (coffee) that lasts a long time (20 years) compared cardamom (10 years) and papaya (2 years). In addition pine harvest waiting period also faster (30 years) compare to teak (up to 40 years). However, coffee farmers only earn twice from wood thinning activities, compared cardamom and papaya farmers, who earn six times from wood thinning.Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui implementasi salah satu program perhutanan sosial di Ciamis, khususnya terkait dengan aktivitas dan curahan waktu petani selama program. Penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara dengan total sampel responden adalah sebanyak 90 orang, yang berasal dari tiga kelompok tani atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan/LMDH (masing-masing 30 orang). Tiga LMDH ini mewakili tiga pola tanam yang berbeda, yaitu; pinus-kopi, jati-kapulaga, dan jati-pepaya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa selama empat tahun pertama program, petani kopi mencurahkan waktu paling lama dalam program (227 hari), disusul petani kapulaga (174 hari) dan terakhir petani papaya (108 hari). Berdasarkan kegiatannya, kegiatan yang paling banyak memerlukan waktu bagi petani kopi adalah pemeliharan, sedangkan bagi petani kapulaga dan papaya adalah pemanenan. Kegiatan PHBM pinus-kopi dapat disebutkan memberikan manfaat paling besar kepada petani karena kegiatan budidaya tanaman sela (kopi) yang berlangsung lama (20 tahun) dibandingkan kapulaga (10 tahun) dan papaya (2 tahun). Selain itu masa tunggu panen kayu pinus juga berlangsung lebih cepat (30 tahun) dibandingkan kayu jati (sampai dengan 40 tahun). Meskipun demikian, petani kopi hanya mendapatkan dua kali kegiatan penjarangan kayu, jika dibandingkan petani kapulaga dan papaya, yang mendapatkan enam kali penjarangan kayu.