Asmuliadi Lubis
Universiti Malaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINJAUAN FIQIH MUAMALAH TERHADAP PELAKSANAAN UPAH HARIAN PENGGARAPAN SAWAH: (STUDI KASUS DI DESA CIAWIGAJAH KECAMATAN BEBER KABUPATEN CIREBON) Asmuliadi Lubis
Al Barakat Vol 2 No 01 (2022): Al Barakat - Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.649 KB) | DOI: 10.59270/jab.v2i01.94

Abstract

Motivasi utama orang mencari pekerjaan dan bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bervariasi dan meningkat. Oleh sebab itu, manusia berusaha untuk bekerja agar mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, maka cara lain dalam mendapatkan penghasilan yaitu dengan bekerja pada orang lain atau bekerja dibawah pimpinan orang lain. Bentuk kerjasama tersebut termasuk bagian dari upah mengupah, dalam ruang lingkup Fiqih Muamalah upah mengupah termasuk ke dalam akad ijarah. Bentuk kerjasama akad ijarah di Desa Ciawigajah, yaitu kerjasama antara petani (pemilik sawah) dan buruh tani yang melakukan pembayaran upahnya dengan sistem harian yang dibayarkan secara tunai. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana praktik upah kerja buruh tani yang terjadi di Desa Ciawigajah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon dan bagaimana tinjauan Fiqih Muamalah terhadap praktik upah harian penggarapan sawah buruh tani tersebut? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui praktik upah kerja buruh tani dan untuk menganalisis bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik upah kerja buruh tani yang terjadi di Desa Ciawigajah Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah praktik upah mengupah yang dilakukan di Desa Ciawigajah ada 2 (dua) macam, yaitu upah harian biasa dan upah harian lepas. Bentuk pembayaran upah yang diberikan berupa uang tunai dengan nominal sesuai adat kebiasaan (urf) yang berlaku di Desa Ciawigajah. Namun, praktik upah mengupah di Desa Ciawigajah masih belum sesuai dengan Fiqih Muamalah maupun urf sebagai landasan hukum yang digunakan. Karena adanya ketidakjelasan akad saat melakukan kesepakatan kerja antara pemilik sawah dan buruh tani. Karena ketidakjelasan akad tersebut seringkali ditemukannya penundaan pengupahan yang dilakukan pemilik sawah. Sehingga upah kerja buruh tani mengandung unsur dzalim dan ketidakpastian.
SWOT Analysis of Islamic Education Development Strategy for "Muallaf Center Indonesia Peduli" North Sumatera Region Arie Bastian Hadinata; Asmuliadi Lubis; Tika Dewi
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 18 No 2 (2023)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v18i2.10380

Abstract

Muallaf is a person who converts to Islam from another religion. Muallaf needs good Islamic education guidance to be able to understand and practice the teachings of Islam correctly. Muallaf Centre Indonesia Peduli (MCIP) is an organization that works in the field of muallaf guidance, especially in North Sumatra. This article aims to analyze the strategy of Islamic education guidance carried out by MCIP Regional North Sumatra by using the SWOT analysis method (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). This article uses a qualitative approach and collects data through observation, interviews, and documentation. The results show that MCIP Regional North Sumatra has several strengths, weaknesses, opportunities, and threats in its guidance strategy. The strengths include having a clear vision and mission, a structured curriculum and learning module, adequate facilities and infrastructure, competent and experienced teachers, cooperation with related parties, and support from the Muslim community. The weaknesses include the lack of professional human resources, the lack of budget and operational funds, the lack of monitoring and evaluation of the process and results of guidance. We hope that this article can become a concrete recommendation for practical implementation of the strategy for developing Islamic education. Meanwhile, MCIP can involve collaboration with related parties, increasing human resources, developing a more responsive curriculum and promotional strategies to increase visibility organization.