Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PELATIHAN MEMBUAT KARYA MONTASE DAN MENGHIAS KELAS DI SEKOLAH DASAR AL ZAHRA INDONESIA PAMULANG Heru Budi Kusuma
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.549 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17725

Abstract

Al Zahra Indonesia Elementary School is located at Jalan Vila Dago Boulevard Blok G, Benda Baru Village, Pamulang District, South Tangerang City, Banten Province. Al Zahra Elementary School currently has 24 local classes for teaching and learning activities where each level has 4 parallel classes. In addition, this school is also equipped with facilities that support teaching and learning activities, namely a library, computer laboratory, science laboratory, hall, indoor swimming pool, outdoor basketball court, indoor badminton court, administration room, teacher room, and principal's room. His deputy. Elementary school students in the curriculum are taught the subjects of Arts, Culture and Skills where for each grade level different levels of difficulty are learned. Art, Culture and Skills lessons for grade 4 include lessons on making montage works. According to the Big Indonesian Language Dictionary, montage is making a work with a composition of images resulting from mixing elements from several sources so as to produce a new work. In teaching students to be creative, sometimes teachers are constrained by creative ideas to be creative, so we need to play an active role in increasing the creativity of teachers so that in conveying material, making works of art can be more developed and produce diverse works. Making montage works can help students in expressing creative ideas, expressing their emotions which can lead to a sense of satisfaction, and provide pleasure so as to reduce the psychological burden that may arise due to online learning activities
PELATIHAN DAN PENJURIAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR DI SEKOLAH DASAR AL-ZAHRA INDONESIA TANGERANG SELATAN – BANTEN Heru Budi Kusuma
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.426 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.19896

Abstract

Bulan Agustus 2021 terdapat 2 hari besar yang rutin diperingati oleh Sekolah Al Zahra Indonesia, yaitu Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah/10 Agustus 2021, dan tanggal 17 Agustus 2021 merupakan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk merayakan hari besar terkendala oleh masa Pandemi Covid 19, sehingga pelaksanaannya tidak dapat disekolah. Sebagai solusinya, kegiatan disusun, disampaikan dan harus dilaksanakan secara daring/online. Metode pelaksanaan diawali dengan kegiatan penjelasan kegiatan, pelatihan menggambar, pelaksanaan lomba menggambar, dan penjurian serta penentuan juara lomba. Rangkaian acara yang dilaksanakan melibatkan seluruh Guru dan Murid-murid dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 dengan kegiatan-kegiatan lomba yang beragam, yaitu Lomba Mewarnai, Lomba Menggambar dan Lomba Baca Puisi. Kegiatan lomba dilaksanakan secara berjenjang, diawali dengan lomba ditiap kelas dengan menghasilkan juara 1, 2 dan 3. Dilanjutkan kejenjang kelas parallel kelas 1 (A, B, dan C), kelas 2 (A, B, C, dan D), kelas 3 (A, B, C, D, dan E), kelas 4 (A, B, dan C), kelas 5 (A, B, C dan D) dan kelas 6 (A, B, dan C) yang menghasilkan Juara 1, 2, 3, Harapan 1 dan Harapan 2. Kelompok kelas dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu Kelompok Kelas Bawah, Kelompok Kelas Tengah, dan Kelompok Kelas Atas. Luaran dari kegiatan adalah Modul Pelatihan Menggambar dan Mewarnai, Artikel Ilmiah, dan Hak Kekayaan Intelektual.
Wayfinding Sign pada Ruang Pameran Tetap di Museum Nasional Indonesia – Jakarta Heru Budi Kusuma
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.331

Abstract

Wayfinding atau orientasi topografi, merupakan kemampuan menentukan lokasi, menemukan tempat dalam fasilitas gedung. Sebagai media penunjuk arah, Wayfinding Sign yang diterapkan pada ruang pameran tetap belum memenuhi kebutuhan yang dapat memberikan informasi yang cukup, mengenai arah mana yang harus dituju untuk mencapai area tertentu, warna-warna yang tercantum dalam panel informasi pun tidak memberikan arti tertentu. Permasalahan pada Wayfinding Sign pada ruang pameran tetap yang dianalisis meliputi: Ukuran; dimensi tanda yang proporsional terhadap luas area dimana tanda tersebut berada,sehingga memungkinkan tanda tersebut dapat mudah terlihat. Warna; berkaitan dengan warna pada tanda telah sesuai peruntukannya dan memperhatikan warna disekitar tanda berada. Kontras; berkaitan dengan estetika tanda yang dominan terhadap kondisi disekitar tanda sehingga tanda tampak eksistensinya. Intensitas; berkaitan terhadap sesuatu yang dapat memberikan stimulus sehingga menarik perhatian terhadap tanda. Posisi ; berkaitan dengan perletakan tanda yang memperhatikan jangkauan penglihatan pengunjung yang mengarah ketempat tanda tersebut berada. Untuk memfokuskan penelitian dan menemukan hubungan antara satu data dengan data yang lain, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data hasil observasi, pengukuran, deskripsi, dan analisis data dengan teknik Triangulasi Data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Directional Sign; menggunakan tanda ‘warna’ yang tidak ada hubungannya dengan lokasi lantai ruang pameran dan nuansa warna ruangan yang ditunjukan, dan terdapat sign yang menginformasikan arah yang tidak tepat. Informational Sign; tanda yang memberikan informasi tentang materi koleksi yang didisplay dalam ruang pameran tetap, sudah sesuai dan efektif. Identificational Sign; perletakannya yang tidak tepat sehingga menggangu kenyamanan pengunjung dalam membaca informasinya dan membuat posisi membaca yang tidak sehat dan aman.Wayfinding or topographic orientation, is the ability to determine the location, find a place in a building facility. As a signpost, Wayfinding Sign that is applied to the exhibition space still does not meet the needs that can provide enough information, on which direction should be addressed to reach a certain area, the colors contained in the information panel did not give a certain meaning. Problems with Wayfinding Sign on fixed exhibition space analyzed include: Size; dimensional marks proportional to the area in which they are located, allowing them to be easily visible. Color; related to the color on the mark has been appropriate designation and pay attention to the color around the mark resides. Contrast; related to the aesthetics of the dominant sign to the condition around the sign so that the sign appears its existence. Intensity; relates to something that can provide a stimulus that draws attention to the mark. Position; relating to the marking placement that takes into account the visibility of the visitor leading to where the mark is located. To focus the research and find the relationship between one data with other data, then this research using qualitative research method. Data result of observation, measurement, description, and data analysis with Data Triangulation technique obtained conclusion as follows: Directional Sign; using a 'color' sign that has nothing to do with the floor location of the exhibit hall and the color tone of the room shown, and there is a sign that informs the improper direction. Informational Sign; a sign that provides information about the collection material displayed in a fixed exhibit space, is appropriate and effective. Identificational Sign; inappropriate placement so as to interfere with the comfort of visitors in reading the information and create an unhealthy and safe reading position.