Heri Budi Santoso
Program Studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Jl A. Yani Km 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

EFEK DOKSISIKLIN SELAMA MASA ORGANOGENESIS TERHADAP STRUKTUR HISTOLOGI KARTILAGO EPIFISIALIS FEMUR FETUS MENCIT Heri Budi Santoso; Evi Mintowati Kuntorini
Bioscientiae Vol 1, No 1 (2004): Bioscientiae Volume 1 No 1
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.456 KB) | DOI: 10.20527/b.v1i1.128

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian doksisiklin secara oral pada induk mencit bunting pada masa organogenesis terhadap gambaran histologi kartilago epifisialis femur fetus. Digunakan 40 mencit betina galur DDY yang belum pernah bunting, memiliki siklus estrus teratur, berat badan 25 g yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok secara acak. Kelompok I (kontrol) diberi 0,5 ml akuades, berturut-turut kelompok II, III, dan IV diberi doksisiklin dosis 26, 52, dan 104 mg/kg bb/hari. Pemberian dilakukan secara oral mulai kebuntingan hari ke 6 sampai hari ke 15 (masa organogenesis). Pengamatan dilakukan pada kebuntingan hari ke 18 dengan bedah sesar untuk mengambil fetus dari uterus. Preparat kartilago epifisialis femur fetus dibuat dengan metode paraffin dan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Tebal lapisan kondrosit dalam setiap zona kartilago epifisialis femur fetus dianalisis dengan Anova dan dilanjutkan uji DMRT. Data kerusakan kondrosit pada jaringan kartilago epifisialis femur fetus mencit dianalisis secara deskriptif. Ditemukan bahwa doksisiklin 104 mg/kg bb/hari menyebabkan perubahan lapisan kondrosit pada zona proliferasi, yaitu letak kondrosit saling berjauhan, tersusun tdak beraturan dalam masing-masing lajur, dan tidak membentuk deretan kumpulan sel yang sejajar dengan sumbu panjang tulang. Doksisiklin juga menyebabkan menipisnya zona proliferasi, zona maturasi dan zona kartilago yang mengalami mineralisasi seiring dengan meningkatnya dosis.