M. Darwis Nur Tinri
Universitas Pejuang Republik Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tingkat Partisipasi Civitas Akademik dalam Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Muhammad Tahir Gani; M. Darwis Nur Tinri
Jurnal Galeri Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2022): Vol 2 No 01 (2022): Jurnal Galeri Pendidikan Vol. 2 No. 1 Juni Tahun 2022
Publisher : Universitas Pejuang Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.725 KB)

Abstract

Abstrak. Implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) pada program studi di dalam lingkup Universitas Pejuang Republik Indonesia adalah diterapkan secara simultan mulai semester 5, 6 dan 7 tahun ajaran 2020/2021. Alasan utama program ini diterapkan yaitu nilai manfaat dan nilai praktis bagi dosen, mahasiswa. Berdasarkan survey di lapangan, maka penelitian ini mengarah pada pembahasan bagaimana tingkat partisipasi civitas akademik yang terdiri dari Dosen, mahasiswa dalam implementasi MBKM pada program Studi Manajemen dan Akuntasi sebagai sampel penelitian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat partisipasi seluruh sivitas akademik dalam mengimplementasikan program MBKM. Adapun Metode Penelitian ini melalui penelitian deskriptif dengan metode survey. Subjek penelitian ini Dosen, Mahasiswa, Program Studi Manajemen Universitas Pejuang Republik Indonesia. Jumlah mahasiswa program studi Akuntansi dan Program studi Manajemen Universitas Pejuang Republik Indonesia Tahun ajaran 2021/2022 yang memprogramkan MBKM sebanyak 32 orang, dengan rincian penempatan masing-masing: Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan Sulawesi Selatan Sebanyak 9 orang, Ban BRI Pajalele Pinrang 7 Orang, Kantor Badan Pengelolaan Daerah Kabupaten Maros 6 orang, Bank BRI Benteng Selayar 6 Orang, dan Sekolah Islam Terpadu Makassar 4 orang. Hasil penelitian menyatakan Dominan mahasiswa 80% yang magang mandiri memliki panduan MBKM yang lengkap dan pemanfaatannya 60%. Tingkat pemahaman 50% menyatakan sangat paham terhadap kebijakan MBKM, Tingkat kepuasan mahasiswa 46,88% yang memprogramkan magang mandiri dengan kategori sangat puas, dominan menyatakan cukup intens sekitar 43,75%. Keterlibatan Dosen Pembimbing, dan tingkat penguasaan 66,67% terhadap materi tugas yang dikerjakan.
Coastal Children’s Literacy within the Social Ecology of ‎Fishing Communities: A Social Capital-Based Mixed-Method ‎Analysis Rivai Mana; M. Darwis Nur Tinri
JPI: Jurnal Pustaka Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): January-April
Publisher : Yayasan Darussalam Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62159/jpi.v6i1.2208

Abstract

This study examines coastal children’s literacy within the social ecology of fishing communities through a social capital-based mixed-method approach. Literacy in coastal areas is shaped not only by classroom instruction, but also by family relationships, livelihood routines, school-community interaction, access to reading materials, and institutional support. Using an explanatory sequential mixed-method design, the quantitative phase involved 120 upper-grade elementary students living in coastal settlements, while the qualitative phase involved interviews with 15 parents or guardians from fishing-community households. Quantitative data were collected through a coastal children’s literacy test and a social capital questionnaire measuring bonding, bridging, and linking social capital. Qualitative data were obtained through semi-structured interviews and analyzed thematically. The findings show that most children were at a moderate literacy level. Bonding social capital emerged as the strongest predictor of literacy, followed by bridging and linking social capital. Children with better access to reading materials at home demonstrated higher literacy scores. Interview data revealed that parents had strong educational aspirations, yet their support was constrained by fishing work schedules, fatigue, limited academic confidence, and scarce reading resources. Schools functioned as key literacy bridges, whereas institutional support remained weak due to limited village reading programs and community literacy infrastructure. The study concludes that strengthening coastal children’s literacy requires integrated family, school, community, and institutional collaboration.
Dinamika Kesenjangan Sosial di Perkotaan: Studi Kasus pada Komunitas Miskin di Makassar Muhammad Tahir G; M. Darwis Nur Tinri; Firdaus Anas
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.86657

Abstract

Kesenjangan sosial di kota besar, seperti Makassar, merupakan fenomena yang kompleks dan berlapis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor penyebab kesenjangan sosial serta dampaknya terhadap kualitas hidup kelompok miskin di Makassar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus terpadu, penelitian memanfaatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, focus group discussion, dan pemetaan partisipatif untuk mengumpulkan data komprehensif. Temuan utama penelitian menunjukkan tiga faktor penyebab kesenjangan sosial di Makassar: (1) ketidakmerataan akses pendidikan, dengan 82% keluarga di kawasan kumuh melaporkan kesulitan membiayai pendidikan dan tingkat putus sekolah mencapai 23% dibandingkan hanya 0,5% di kawasan elite; (2) terbatasnya kesempatan kerja, dengan 64% penduduk kawasan kumuh terperangkap dalam sektor informal berpendapatan rendah, sementara 78% lapangan kerja baru membutuhkan keterampilan yang tidak mereka miliki; dan (3) penyimpangan kebijakan sosial, dengan 47% program pengentasan kemiskinan tidak mencapai target dan 68% penduduk kawasan kumuh melaporkan tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Disparitas akses terhadap layanan kesehatan (87% di kawasan kumuh vs 8% di kawasan elite mengalami kesulitan akses) dan kesenjangan pendapatan bulanan (Rp1.200.000 di kawasan kumuh vs Rp18.500.000 di kawasan elite) semakin memperburuk kualitas hidup kelompok miskin. Penelitian ini merekomendasikan reformasi kebijakan yang lebih inklusif melalui integrasi spasial-sosial kawasan kumuh, pengembangan pendidikan berorientasi keterampilan lokal, implementasi kebijakan sosial partisipatif, dan strategi pengembangan ekonomi inklusif untuk mengurangi kesenjangan sosial di Makassar.