Risiko tidak pernah dapat dilenyapkan secara lengkap, namun dapat dikelola secara efektif untuk mengurangi pengaruhnya terhadap tercapainya sasaran proyek. Sebuah mekanisme perencanaan yang efektif di industri konstruksi sangat dibutuhkan oleh seorang kontraktor konstruksi untuk mencapai sasaran mereka. Namun, Industri konstruksi memiliki risiko dan ketidak pastian lebih banyak dibandingkan dengan sektor industri lain. Selama ini kontraktor konstruksilah yang diharapkan untuk memikul semua risiko. Kontraktor butuh suatu proses formal untuk menerapkannya pada semua proyek pada permulaan dan selama pekerjaan untuk identifikasi, quantifikasi, dan alokasi risiko.Penelitian dengan menggunakan analisis weight mean methode dilakukan pada proyek konstruksi gedung yang pernah dikerjakan di kota Ternate. Penulis bermaksud mengetahui frekuensi dari risiko, dengan melakukan penyebaran kuesioner sehingga nantinya dapat diketahui risiko yang paling dominan pada proyek konstruksi gedung di kota Ternate. Dari hasil analisis risiko-risiko dengan frekuensi paling dominan pada proyek konstruksi gedung di kota Ternate adalah “Proyek yang terlambat membuat biaya realcost kontraktor meningkat” (mean 2,50), “Pemilihan tenaga kerja yang tidak tepat baik kualitas maupun kuantitasnya, berdampak negatif pada pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan target yang disepakati pada kontrak kerja” (mean 2,22), “Terlambatnya disain ulang yang dibutuhkan proyek untuk memenuhi sasaran kualitas, sehingga menyebabkan proyek terlambat” (mean 2,17), “Pemesanan material yang terlambat juga menyebabkan proyek terlambat” (mean 2,17), & “Keterbatasan alat yang di share (digunakan bersama-sama) pada beberapa proyek, sehingga menyebabkan keterlambatan antrian” (mean 2,17). Kata kunci— Weight Mean Methode, Identifikasi Risiko, Proyek Konstruksi