Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan model pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) berbantuan LKPD dengan model pembelajaran konvensional berbantuan LKPD pada materi fungsi kelas X MA Almaarif Singosari, (2) Mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah pembelajaran dengan model pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) berbantuan LKPD pada materi fungsi kelas X MA Almaarif Singosari. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi (mixed methods) dengan sequantial explanatory desaign yaitu menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Penelitian ini menggunakan jenis quasy eksperimental. Metode kuantitatif menggunakan desain nonequivalent control group. Pengambilan sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling secara acak maka diperoleh kelas X Bahasa 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X Bahasa 2 sebagai kelas kontrol. Data kuantitatif diperoleh melalui ulangan harian sebelumnya. Analisis data yang digunakan adalah uji kesamaan rata-rata, uji t dengan prasyarat melakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Sedangkan pengumpulan data kualitatif diperoleh dari wawancara, observasi dan catatan lapangan dimana untuk mendukung data kuantitatif. Teknik pemilihan subjek wawancara dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini dapat disimpulkan: (1) dengan berlandaskan hasil analisis data kuantitatif dengan uji hipotesis menggunakan software SPSS 26 melalui uji Independent Sample t Test yaitu diperoleh, (1) hasil uji hipotesis dua pihak dengan nilai Sig (2-tailed) = 0,000 < 0,05, sehingga Hₒ ditolak atau H₁ diterima yang artinya ada perbedaan kemampuan berpikir kritis yang signifikan antara kelas MEAs dan kelas konvensional. Sedangkan hasil uji hipotesis satu pihak diperoleh atau 19,6924024 6,019 dengan dk = 58, sehingga Hₒ ditolak dan H₁ diterima yang artinya kemampuan berpikir kritis kelas MEAs lebih baik daripada kelas konvensional, (2) berdasarkan analisis data kualitatif yang diperoleh dari wawancara, observasi dan catatan lapangan menunjukkan bahwa pencapaian indikator kemampuan berpikir kritis tinggi, sedang maupun rendah kelas MEAs lebih baik daripada kelas konvensional. Sehingga tidak terdapat perbedaan hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif yang artinya hasil penelitian kualitatif dapat mendukung, melengkapi dan memperkuat hasil penelitian kuantitatif. Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Media Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), Model Pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs), Model Pembelajaran Konvensional, Fungsi.