Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMERINTAH DAN HAK BERAGAMA DI INDONESIA Irfan Setia Permana
Jurnal TEDC Vol 12 No 2 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.272 KB)

Abstract

Pemerintah dalam hal ini adalah lembaga legislatif dan eksekutif merupakan pengelola dalam tatanan sebuah Negara. Kondusifnya sebuah Negara bergantung dari peran pemerintah dalam memperlakukan setiap warganya dengan adil. Salah satu yang menjadi perhatian Negara tentunya adalah Agama. Terdapat enam Agama yang diakui sebagai Agama resmi di Indonesia. Oleh sebab itu maka pemeluk suatu agama di Indonesia selayaknya diperlakukan secara proporsional dan adil oleh Pemerintah sehingga dapat menjalankan kewajiban agamanya. Dalam pembahasan ini metode yang digunakan adalah dengan pendekatan analisis deskriptif. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pembahasan tema ini adalah: menentukan fokus penelitian, menentukan jenis dan sumber data kemudian mengolah dan menganalisisnya. Hasil dari pembahasan topik ini menunjukkan bahwa Undang-undang Negara Indonesia telah menjamin hak dan kebebasan setiap warganya untuk beragama sesuai keyakinannya sendiri. Oleh karena itu, maka selayaknyalah orang-orang yang duduk di legislatif dan eksekutif untuk senantiasa menjaga kebebasan beragama setiap warganya tersebut tanpa melihat ideologi yang dianutnya. Masih terdapat di negeri ini praktik-praktik diskriminatif dan ketidakadilan terhadap pemeluk agama tertentu, maka diperlukan langkahlangkah untuk memberikan keadilan bersama, diantaranya; perjuangan politik kesetaraan dan penguatan kapasitas dan pemahaman multikulturalisme atas nilai-nilai demokrasi. Upaya pertama merupakan advokasi atas sejumlah kebijakan negara yang masih dirasa belum adil. Beberapa produk undang-undang yang kurang selaras dengan semangat UUD 1945 dan perkembangan dunia modern sudah selayahnya ditinjau kembali. Sedangkan upaya kedua dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran umat mayoritas untuk lebih mengembangkan nilai-nilai kesetaraan, kebebasan, humanistik, cinta tanah air dan toleransi terhadap keragaman. Apabila hal-hal mulia ini berhasil dikembangkan dan diimplementasikan oleh seluruh umat maka akan bermanfaat tidak hanya bagi konsolidasi demokrasi di negeri ini, tetapi juga akan semakin meneguhkan bangsa dan Negara. Kata Kunci: pemerintah, agama
RELEVANSI DAKWAH KREATIF Irfan Setia Permana
Jurnal TEDC Vol 8 No 3 (2014): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.466 KB)

Abstract

Dakwah adalah sebuah proses aktifitas atau kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh berbagai kalangan baik individu maupun kelompok dengan sebuah organisasi dengan metode dan media tertentu dan salah-satu dakwah yang dilakukan secara organisasi adalah proses dakwah yang dilaksanakan oleh lembaga IHAQI. Untuk mengetahui sebuah pola atau bentuk dakwah maka dapat dilihat melalui bentuk kegiatan, metode, dan media yang digunakannya. Penelitian yang dilakukan terhadap lembaga IHAQI menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk melihat proses pelaksanaan dakwahnya. Adapun langkahlangkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: menentukan fokus penelitian, menentukan jenis dan sumber data kemudian mengolah dan menganalisisnya. Adapun hasil dari penelitian ini adalah: Dakwah yang dilaksanakan lembaga IHAQI menyeluruh terhadap semua strata mad’u, yaitu terhadap anak-anak, remaja, maupun dewasa sehingga dakwah yang dilakukannya menjadi sebuah proses yang komprehensip. Kegiatan atau proses yang dilakukannya disesuaikan dengan strata mad’u yang dihadapi, yaitu work shop untuk kalangan dewasa spirit camp yang dikemas dalam bentuk outbond untuk remaja dan kegiatan games untuk strata anak-anak. Adapun metode yang digunakannya terhadap strata mad’u dewasa adalah dengan dialog yang dikemas dalam bentuk kegiatan seminar sedangkan remaja dan anak-anak lebih mengutamakan dengan al-Mauidzah al-Hasanah dengan aplikasi kisah-kisah.Media yang digunakan disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini, yaitu seperti media seni terutama seni musik dan juga menggunakan alat komputer dengan program slide show, film dokumenter dan softwere lainnya
PERAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MEMBANGUN KARAKTER MALU (Studi Kasus Pada SMK Pasundan 1 Cimahi) Irfan Setia permana; Aldan Sunarya
JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2023): Agustus: Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/jispendiora.v2i2.638

Abstract

Pendidikan merupakan hal mendaar bagi manusia, karenanya setiap manusia berhak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Salah satu yang dibangun dalam pendidikan adalah karakter yang amat penting bagi manusia. Oleh sebab itu tulisan ini membahas tentang korelasi antara pembelajaran pendidikan agama dengan karakter siswa. Tulisan ini menggunakan jenis kuantitatif dengan memakai rumus product moment. Adapun populasi yang digunakan yaitu siswa sekolah tingkat menengah atas denan sampel sebanyak 30 siswa. Adapun hasil yang didapatkan dari berbagai data yaitu pembelajaran pendidikan agama berpengaruh dan memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter malu siswa pada satuan pendidikan tingkat sekoah menengah atas dengan persentasi 93,8% dan dampak eksertnal 6,2%. Dengan demikian maka pendidikan agama berperan penting dalam pembentukan karakter siswa.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PEMBENTUKAN AKHLAK SISWA Irfan Setia Permana
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 2 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v2i4.701

Abstract

Islamic religious education has an important role in the formation of student attitudes and personalities, both in the school environment and in the community. Islamic Religious Education emphasizes the formation of Islamic students' personalities, instills understanding and guides students to have honest, disciplined, good character, and beneficial personalities for others. In general, if students' understanding of Islamic Religious Education is high, then their morals, attitudes and behavior can be good, and vice versa. This study aims to determine whether there is an influence of Islamic Religious Education on moral formation at MI Nurul Huda. The benefit of this research is as input for school institutions in seeking and fostering morals. The variables in this study are Islamic Religious Education (X), and moral formation (Y). This research includes quantitative research with a population of 198 students and a sample of 33 students. The data collection method used is documentation and questionnaires, while the data analysis method uses the product moment formula, which is then carried out t test and determination test to test the truth of the hypothesis. The results of the analysis of the data obtained that Islamic religious education learning at MI Nurul Huda has been running effectively and efficiently and has a positive impact on the formation of students' morals.
KOMODIFIKASI HIJAB DALAM ENDORSEMENT ARTIS NON-HIJAB DI TIKTOK: IMPLIKASI BAGI PENDIDIKAN ISLAM Naomi Ainun Hasanah; Irfan Setia Permana
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i1.4252

Abstract

Meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, telah mempercepat komodifikasi nilai-nilai budaya dan agama, termasuk hijab sebagai simbol religius dalam Islam. Penelitian ini mengkaji bagaimana endorsement hijab oleh selebritas non-hijabi di TikTok merekonstruksi makna hijab—dari simbol ekspresi keagamaan menjadi komoditas fesyen yang dikendalikan oleh dinamika pasar. Melalui analisis konten terhadap video TikTok dari Dinda Marsya | @sattka.basic, khususnya yang menampilkan influencer seperti Tissa Biani dan Syifa Hadju, ditemukan bahwa hijab semakin direpresentasikan sebagai elemen estetika yang terlepas dari nilai-nilai normatif Islam. Representasi ini mencerminkan mekanisme hiperrealitas sebagaimana dikemukakan dalam teori simulakra Jean Baudrillard, di mana simbol keagamaan direduksi menjadi citra konsumtif yang terpisah dari makna aslinya. Fenomena ini membawa implikasi penting bagi pendidikan Islam, terutama dalam mendorong kesadaran kritis generasi muda Muslim terhadap transformasi simbol keagamaan dalam ruang digital. Pendidikan Islam perlu merespons melalui strategi pedagogis yang tidak hanya menanamkan pemahaman normatif tentang hijab, tetapi juga membekali peserta didik dengan literasi media agar mampu menghadapi realitas yang dibentuk oleh budaya konsumsi dan algoritma media sosial.